Tafsir Al-Quran Surat Az-Zumar Ayat 27-31

banner 500x500

Oleh K.H. Didin Hafidhuddin
Ahad, 10 Januari 2021

Disarikan oleh Prof. Dr. Bustanul Arifin

Bacaan Lainnya

banner 400x400

Hajinews – Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Jamaah kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah. Kita bersyukur kepada Allah SWT, dapat kembali bersilaturrahmi secara virtual pada Ahad ini tanggal 20 Jumadil Awwal yang bertepatan dengan tanggal 10 Januari 2021, dalam rangka melanjutkan Kajian Tafsir Al-Quran, pagi ini kita membahas Surat Az-Zumar ayat 27-31. Mari kita mulai dengan membaca Ummul Kitab Al-Fatihah dan bersama-sama membaca Surat Az-Zumar 27-31. Artinya adalah “Dan sungguh, telah Kami buatkan dalam Al-Qur’an ini segala macam perumpamaan bagi manusia agar mereka dapat pelajaran. (Yaitu) Al-Qur’an dalam bahasa Arab, tidak ada kebengkokan (di dalamnya) agar mereka bertakwa. Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (hamba sahaya) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan, dan seorang hamba sahaya yang menjadi milik penuh dari seorang (saja). Adakah kedua hamba sahaya itu sama keadaannya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mati dan mereka akan mati (pula). Kemudian sesungguhnya kamu pada hari Kiamat akan berbantah-bantahan di hadapan Tuhanmu”.

Al-Quran menguraikan perumpamaan, contoh, amstal, ilustrasi, ibrah atau yang dimaksudkan untuk memperjelas makna yang atau maksud yang terkandung dalam bentuk konkrit. Al-Quran itu mengandung sesuatu yang indah dan mudah difahami, agar maksudnya cepat masuk dalam pikiran kita. Rasulullah SAW menyatakan dalam hadist, “Sesunggugnya Al-Quran diturunkan dalam 5 bentuk kandangan (atau 5 wajah), sebagai berikut:

  1. Halal,
  2. Haram,
  3. Pasti, muhkamat,
  4. Mutasyabihat, saling menyerupai satu dengan lain, dan
  5. Amstal atau contoh, ilustrasi.

Penjelasan singkatnya adalah sebagai berikut: (1) Dalam konteks halal, Rasulullan SAW juga memerintahkan untuk mengerajakan apa-apa yang halal, dengan aturan tertentu, tapi jangan berlebihan. “Makan, minumlah, tapi jangan berlebihan. Allah tidak mencintai orang-orang yang berlebihan”. Bahkan, orang-orang yang sering memubazirkan harta, makanan, konsumsi dll, itu adalah saudaranya syeten. (2) Dalam konteks haram, misalnya “Jauhi oleh kalian apa yang haram, seperti berbuat dzalim, memfitnah, menggunjing. (3) Dalam hal yang pasti (muhkam, muhkamat), misalnya tentang perintah untuk mendirikan shalat, menunauikan zakat. (4) Demikina juga tentang hal yang saling berkait, “Berimanlah pada ayat-ayat mutasyabihat”. (5) Terakhir tentang amstal, perumpamaan. “Berfikirlah dengan ayat-ayat yang amstal, ilustrasi atau contoh-contoh”.

Contoh perumpamaan kebaikan atau pahala bagi orang-orang yang berinfaq di jalan Allah, dengan balasan atau pahala yang tidak terhingga, sebagaimana tertulis pada Surat Al-Baqarah ayat 261: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui”. Jadi, satu biji dapat menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada 100 biji, sehingga satu biji akan melahirkan 700 kali lipat. Bahkan, Allah SWT dapat melipatgandakan pahalannya bagi orang-orang yang dikehendaki. Ternyata, infaq itu menghasilkan harta yang semakin banyak, bukan mengurangi. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk berinfaq dengan ikhlash. Misalnya lagi tentang Surat Al-Ankhabut ayat 41-43. “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui. Sungguh, Allah mengetahui apa saja yang mereka sembah selain Dia. Dan Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana. Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tidak ada yang akan memahaminya kecuali mereka yang berilmu”. Ayat-ayat ini menggambarkan orang-orang yang menyembah bukan kepada Allah, tetapi kepada benda-benda yang diciptakan manusia. Gambaran bagi orang-orang yang menyembah sesuatu selain Allah, ternyata seperti laba-laba (bukan bala-bala, itu makanan), yang memiliki rumah yang rapuh. Orang seperti ini biasanya mudah goyah, karena tidak ada landasan ketauhidan kepada Allah. Allah menciptakan manusia untuk mampu berfikir, dengan amstal tersebut. Landasan yang harus dimiliki adalah iman dan taqwa. Contoh lain lagi, ayat-ayat tentang surga misalnya, yang digambarkan dalam Al-Quran, yang dijanjikan kepada orang-orang yang taqwa, seperti taman atau kebun, ada air yang mengalir. Seorang dosen mengajarkan suatu teori kepada mahasiswa, maka ilustrasi dengan contoh-contoh atau perumpaamaan menjadi amat penting agar mudah mengerti oleh mahaiswa. Al-Quran itu dalam Bahasa Arab yang lurus, jelas, tidak bengkok, tidak berbelit-belit, agar kita menjadi orang taqwa.

Pada ayat 29 dan seterusnya dari Surat Az-Zumar, juga menyangkut amstal, perumpamaan seseorang yang menyembah kepada Tuhan yang Satu dibandingkan dengan seseorang yang menyembah kepada Tuhan yang banyak (politeisme), yang kadang memberikan perintah yang saling bertentangan. Digambarkan Al-Quran bahwa orang tersebut seperti seorang hamba sahaya yang memiliki atasan (tuan) yang banyak, yang memberikan perintah saling bertentangan, sedangkan satunya adalah hamba sahaya yang hanya memiliki satu atasan (tuan). Ingat, setelah kehidupan itu digambarkan dengan contoh-contoh, maka ujung kehidupan itu adalah kematian. “Kalian akan mati, mereka juga akan mati”. Ada sebuah hadist Rasulullah SAW yang mengilustrasikan tentang kehidupan, yang akhirnya juga berujung dengan kematian. Dari Jabir RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Telah datang kepadaku Jibril, kemudian berkata ‘Wahai Muhammad. Hiduplah engkau sekehendak engkau, maka engkau akan mati. Cintailah oleh engkau sesuatu, pasti nanti akan berpisah, seperti: benda, kedudukan, jabatan, materi, lawan jenis laki-laki dan perempuan dll, pasti nanti akan berakhir dan berpisah. Berbuatlah engkau sekehendak engkau, pasti nanti engkau akan dibalas sesuai dengan amal perbuatanmu. Ketahuilah, semulia-mulia orang beriman adalah yang suka bangun malam, qiyamul-lail, menegakkan shalat tahajjud, berdzikir dan bermunajat kepada Allah pada seperti malam. Dan muslim paling kuat adalah yang tidak meminta-minta kepada orang lain (untuk memenuhi kepentingan pribadinya” (H.R. Imam Baihaki). Kita ummat muslim tidak sebaiknya mengharapkan pemberian dari orang lain. Jangan minta-minta jabatan, jangan terus menggantungkan kehidupannya pada orang lain, karena izzah-nya sebagai muslim akan hilang. Tangan di atas jauh lebih baik dibandingkan tangan di bawah. Kita perlu terus membangun izzah atau kemuliaan muslim dengan memperbanyak shalat malam, qiyamul-lail, dan memohon langsung kepada Allah SWT.

Berdasarkan ayat-ayat di atas, mari kita pahami Al-Quran dengan sebaik-baiknya, agar kita menjadi lebih mulia dalam mengarungi kehidupan. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan taufik dan hidayah kepada kita agar menjadi muslim yang istiqamah, mengerjakan amal sholeh dan selamat dunia akhirat. Semoga Saudara-saudara kita muslim yang sakit agar diberikan kesehatan. Demikian pula, saudara-saudara kita muslim yang telah meninggal dunia, agar diterima di sisi Allah SWT, telah diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Jadikanlah kematian itu sebagai nasehat, sebagai pelajaran, kepada kita sekalian, bahwa kita pun pada waktunya juga akan menghadap Allah SWT.

Dalam menjawab pertanyaan, strategi untuk meningkatkan keikhlasan dalam berinfaq adalah untuk menjadikan infaq sebagai kebiasaan, gaya hidup (lifestyles), insya Allah nanti akan mendapat keberkahan. Jika tidak dipaksakan dari awal, jika tidak menjadi kebiasaan, maka pasti akan terasa berat. Kita biasakan misalnya berniat, bertekad pada diri sendiri “tiada hari tanpa infaq”. Masih banyak orang yang khawatir kalau berinfaq, karena kebutuhan sendiri dan keluarga masih banyak, perlu ini dan perlu itu. Godaan untuk tidak berinfaq akan terus datang. Gangguan dari pikiran yang menakut-nakuti dengan kefakiran senantiasa muncul, karena itu datangnya dari syetan. Perhatikan misalnya Surat Al-Baqarah 268: “Syetan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui”. Kita perlu paham bahwa syetan itu mengancam tentang kefakiran atau kemiskinan karena kita berinfaq. Tanpa disadari, kita akhirnya menjadi berhitung, bahkan takut menjadi fakir-miskin. Sementara Allah SWT telah menjanjikan tentang keberkahan yang luas dari berinfaq. Jadi, keikhlasan dalam berinfaq itu akan datang setelah kita membiasakan, memaksakan diri sesuatu yang baik pada awalnya, sampai kita akhirnya merasa butuh untuk berbuiat baik. Demikian juga, dalam upaya untuk mendalami Al-Quran, kita perlu menganggap atau menjadikannya sebagai suatu kebutuhan, walau godaam untuk tidak melakukan hal itu pasti cukup besar.

Apa yang harus diinfaqkan, kepada siapa? Perhatikan Surat Al-Baqarah 215, “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang harus mereka infaqkan. Katakanlah, ‘Harta apa saja yang kamu infaqkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin dan orang yang dalam perjalanan’ Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui”. Jadi, kita diperintah untuk menginfaqkan sesuatu kepada orang tua, kaum kerabat, adik, kakak, anak yatim, orang miskin, pejuang di jalan Allah, (ibnus sabil atau musafir yang kehabisan bekal, bahkan sekarang dapat diterjemahkan dengan mahasiswa yang sedang menuntut ilmu. Hal perlu diingat adalah bahwa Allah SWT tidak menerima infaq atau shadaqah dari harta haram atau yang dihimpun dengan cara yang tidak halal. Shadaqah tentu beda lagi, walaupun penerima shadaqah itu juga terdiri dari orang faqir, miskin, dan lain-lain. Kelompok fakir dan miskin termasuk penerima infaq dan shadaqah atau zakat. Zakat itu adalah shadaqah wajib, karena harta telah sampai pada nisabnya, yang dibayarkan kepada Panitia atau Amil Zakat, sebagaimana diatur dalam Surat At-Taubah ayat 60, “ Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana”.

Rasulullah SAW bersabda, “Akan datang fitnah pada ummatku seperti malam yang gelap pekat, yang terang atau yang halal tidak kelihatan, kebenaran tertutup dengan gelapan. Ketika masih pagi, orang itu beriman kepada Allah, tapi sorenya ia menjadi kafir atau kufur kepada Allah”. Ucapan, tindakan dan perbuatannya kadang membingungkan. Kita kadang berfikir, mengapa orang muslim menjadi seperti itu, kita sulit memahami apakan dia muslim atau bukan muslim. Sorenya dia muslim, besok paginya menjadi kafir. Ucapan dan tindakannya tidak berpihak kepada islam, bahkan menjadi benci kepada islam dan orang islam. Itu bisa kafir. Ingat, sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa yang tidak punya kepedulian kepada sesama orang islam, maka mereka bukan termasuk kelompok muslim” . Sayyidina Ali bin Thalib RA samapai bertanya kepada Rasulullah SAW, “Bagaimana jalan keluarnya, Ya Rasulullah?” Rasulullah SAW bersabda, “Pada kalian ada Kitabullah”. Ada Al-Quran, kita diperintah untuk mempelajari, mentadabburi, dan merenungkan maknanya. Amalkan dalam kehidupan kita. Interaksinya akan lebih dekat dengan Al-Quran, untuk menanamkan keyakinan, kesabaran, keuletan, optimisme dalam hidup ini. Kita kembali kepada penjelasan 5 hal tentang Al-Quran di atas: Ada halal, haram, muhkam, mutasyabih, dan amtsal.

Kematian adalah sesuatu yang pasti, kita tidak akan mampu menghindari. Kematian akan menjemput kita semua. Perhatikan Surat Al-Jum’ah, ayat 8. “Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. Sekali lagi, kematian itu akan datang. Jangan ditakuti. Yang perlu ditakutkan adalah kematian tanpa membawa iman dan islam. Para khatib Jumat senantiasa menganjurkan itu, “Bertakqwalah kepada Allah, jangan kalian mati, kecuali kalian telah muslim atau berserah diri”. Dalam konteks kekinian, pada masa Pandemi ini, kita menjaga jarak, menggunakan masker dll, maksudnya bukan untuk lari dari kematian, tapi hal itu merupakan ibadah kepada Allah, karena juga menjaga kemaslahatan pada orang lain. Demikian pula, mengapa kita shalat di masjid harus menjaga jarak, karena kita menjaga keselamatan diri dan keselamatan orang lain. Dalam ajaran agama, setiap penyakit pasti ada obatnya. Ikhtiar untuk berobat atau mengobati penyakit meruapakan suatu ibadah. Demikian, wallahu a’lam bish-shawab. Mari kita tutup dengan do’a kiffarat majelis. “Subhaanaka allahumma wa bihamdika. Asyahadu an(l) laa ilaaha illaa anta. Astaghfiruuka wa atuubu ilaika”. Demikian catatan ringkas ini. Silakan ditambahi dan disempurnakan oleh hadirin yang sempat mengikuti Ta’lim Bakda Subuh Professor Didin Hafidhuddin tadi. Terima kasih, semoga bermanfaat. Mohon maaf jika mengganggu. Salam. Bustanul Arifin

Facebook Comments
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *