Tanda-Tanda Dukun atau Penyihir

Tanda-tanda Dukun atau Penyihir
foto : unsplash (witch)
banner 500x500

Ditulis oleh: Zahir al-Minangkabawi

Hajinews – Syaikh Wahid Abdussalam Bali hafizhahullah menyebutkan beberapa tanda sebagai indikasi seseorang itu dukun atau penyihir, diantaranya:

Bacaan Lainnya

banner 400x400
  • Bertanya kepada yang sakit tentang namanya, nama ibunya.
  • Mengambil bekas-bekas si sakit (baik pakaian, sorban, sapu tangan, kaos)
  • Terkadang meminta hewan dengan sifat tertentu untuk disembelih tanpa menyebut nama Allah l, atau dalam rangka diambil darahnya untuk kemudian dilumurkan pada tempat yang sakit pada pasiennya, atau untuk dibuang di tempat rubuh (kosong)
  • Menulis mantra-mantra
  • Membaca jampi-jampi atau mantra-mantra yang tidak dapat dipahami
  • Memberikan kepada si sakit jimat yang berisi garis segiempat. Di dalamnya terdapat huruf-huruf dan nomor-nomor (rajah)
  • Memerintahkan si sakit untuk menjauh dari manusia dalam waktu tertentu di sebuah tempat yang gelap yang tidak dimasuki sinar matahari yang dikenal oleh orang awam sebagai al-Hijbah (bertapa)
  • Meminta si sakit untuk tidak menyentuh air dalam waktu tertentu, biasanya selama 40 hari.
  • Memberikan kepada si sakit sesuatu untuk ditanam dalam tanah.
  • Memberikan kepada si sakit kertas untuk dibakar dan mengasapi diri dengannya.
  • Terkadang mengabarkan kepada si sakit tentang namanya, asal daerahnya, dan masalah yang menyebabkan dia datang (padahal belum diberitahu oleh si sakit)
  • Menuliskan untuk si sakit huruf-huruf yang terputus-putus baik di kertas atau mangkok putih, lalu menyuruh si sakit untuk meleburnya dengan air lantas meminumnya.

Dinukil dan diterjemahkan dari kitab An-Nusyrah Au Hukmu ‘Ilajis Sihr bis Sihr, karya Abdul Azhim bin Ibrahim Ababthin, Taqdim Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin rahimahullah, hlm. 64-65.

Oleh sebab itu, jika indikasi-indikasi yang telah disebutkan oleh para ulama ini terdapat pada seseorang maka kemungkinan besar dia adalah seorang dukun atau penyihir meskipun dia mengobati dengan cara seolah syar’i seperti membacakan ayat-ayat Al-Qur’an atau dzikir, atau dengan penampilan berjubah, bersorban, membawa tasbih, atau dipanggil paranormal, ‘orang pintar’, ‘orang tua’, spiritualis, ahli metafisika, atau bahkan kyai, mbah, ustadz, dll. Sebab sebagaimana kaidah yang dikatakan oleh para ulama: Al-Ibrah bil Haqaiq la bil Asma’, yang menjadi patokan itu adalah hakikatnya bukan nama.

Semoga bermanfaat.

Facebook Comments
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *