BERANDA OPINI

Angkuh Ketika Berkuasa, Menyesal Setelah Pensiun

Angkuh Ketika Berkuasa, Menyesal Setelah Pensiun
Asyari usman
   

By Asyari Usman

Hajinews – Banyak sekali contoh orang-orang yang bersikap angkuh, sombong, sok kuat, ketika mereka sedang berkuasa. Tetapi, begitu pensiun barulah tersentak bahwa kekuasaan yang diangkuhkan itu akhirnya hilang. Fisik pun melemah dan makin lemah. Anak-buah yang selama ini selalu “siap-gerak!”, tidak ada lagi.

Kemarin masih Panglima TNI, Pangkostrad, Pangdam, Danjen, Kapolri, Kapolda, Kabareskrim, dlsb. Hari ini lepas semuanya. Tidak ada lagi bintang di bahu. Tidak ada lagi hormat di gerbang. Sirna sudah semua kehebatan yang dibangun selama puluhan tahun.

Kini, usia mencapai 56 tahun. Posisi hebat itu diduduki orang lain. Sebentar lagi 60 tahun. Setelah itu, perlahan menuju liang kubur. Sampailah saatnya Malaikat Maut datang memenuhi perintah Pemilik Nyawa dan janji ajal.

Tanda pangkat yang dibanggakan, berbagai penghargaan yang disematkan, ternyata tidak dihitung oleh Pencabut Nyawa. Bahkan, meminta penundaan sedetik pun tidak dipenuhi.

Malaikat Maut

datang dengan tampilan yang sesuai dengan cara hidup orang yang akan diakhiri hayatnya. Kalau tempohari sombong, mengancam-ancam, apalagi sampai mengatakan: “Jangan coba-coba ganggu, saya panglimanya, akan saya hajar nanti”, maka si Pencabut Nyawa (Izrail) akan datang dengan gaya angkuh juga.

Seramnya, keangkuhan Izrail tidak bisa dilawan oleh siapa saja. Masih aktif, segar-bugar, dengan pangkat jenderal penuh pun tak sanggup menatap Izrail. Apalagi cuma seorang pensiunan yang terbaring lemah. Yang tak bisa lagi berkata-kata. Tak juga bisa lagi meneguk setetes air.

Panser, senjata laras panjang, pasukan gagah-berani yang dipamerkan semasa hidup dulu, ternyata hari ini tidak bisa menolong Jenderal Angkuh (Purn) ketika dia menghadapi sakaratul maut. Jenderal yang 30 tahun silam mengucapkan “Saya panglimanya”, hari ini diantarkan ke liang lahat.

Paling-paling penghormatan terakhirnya diberikan dalam bentuk tembakan salto di upacara pemakaman. Setelah itu, Jenderal Angkuh (Purn) harus menjalani proses identifikasi di depan Munkar dan Nakir. Inilah dua malaikat yang bertugas untuk menanyakan beberapa hal fundamental kepada Jenderal Angkuh (Purn). Mereka tidak menanyakan berapa bintang yang dulu melekat di bahu. Tidak juga bertanya tentang harta-benda.

Di liang kubur, Jenderal Angkuh (Purn) akan menjalani interogasi yang mengerikan. Kedua malaikat itu akan berwujud sangat menakutkan. Mereka lebih angkuh, lebih seram, dan lebih brtual dari sanga jenderal. Jika catatan keangkuhan mendominasi riwayat hidup, maka bisa dipastikan perjalanan berikutnya akan sangat berat. Begitu sabda Nabi.

Interogasi kuburan yang penuh horor itu baru sekadar ‘starter’ saja. Estafet berikutnya adalah alam penantian. Di alam yang disebut “barzakh” itu, kepada setiap orang akan ditunjukkan destinasi finalnya. Diperlihatkan pagi dan petang.

Orang yang angkuh, sombong dan memusuhi perjuangan di jalan Allah, akan melihat di mana dia akan menjalani ‘rehabilitasi’. Penyandang kesombongan dan keangkuhan adalah orang yang sangat dimurka Allah ‘Azza wa Jalla.

Jadi, wahai orang-orang yang masih segar-bugar dengan kekuasaan besar! Anda tak perlu tamasya spiritual ke alam ghaib untuk menelusuri tempat kembali orang-orang yang sombong. Anda cukup merasapi penderitaan batin orang-orang yang angkuh ketika berkuasa, tetapi menyesal setelah pensiun.

Menyesal tidak melakukan ini dan itu. Menyesal telah menzalami para pejuang keadilan. Menyesal menghalangi perjuangan. Menyesal, menyesal, dan menyesal tak bersambut. Hingga Malaikat Maut datang menjeput.

21 November 2020

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: