BERANDA MUTIARA HIKMAH UTAMA

Hikmah Malam : Syukur Dulu, Baru Nikmat

 

Hikmah malam, tiap mendapat nikmat, kita harus selalu bersyukur kepada Allah, maka Allah janji akan menambah nikmat tersebut.

Hajinews.id – Ada sebuah paradigma yang keliru menyoal masalah nikmat. Sebagian besar kita menafsirkan kata nikmat itu dengan sesuatu yang ‘wah’. Padahal segala pemberian dari Allah adalah nikmat, meskipun di mata kita ‘yaaah’, bukan ‘wah’. Nah, mindset seperti inilah yang acap kali membat kebanyakan manusia tidak bersyukur.

Pada buku “Jika Ustad Jadi Wasiat pada hal 97-99 oleh Roni Nuryusmansyah” seorang pedagang asongan misalkan mendapat penghasilan rata-rata per hari 50 ribu. Suatu hari, ia ketiban durian runtuh alias mendapatkan penghasilan 200 ribu. Maka besar kemungkinan ia akan bersyukur. Tapi bagaimana jika ia mendapatkan 50 ribu? 40 ribu? Bisa di pastikan dia biasa-biasa saja, tidak mengucap syukur karena penghasilannya memang ‘segitu’. Atau parahnya mengutuk diri, “Rugi saya hari ini”.

Inilah kesalahpahaman yang harus kita luruskan. Mau 10 ribu, seribu, itu semua adalah nikmat yang patut kita syukuri. Tak peduli itu lebih kecil dari penghasilan rata-rata, semua adalah karunia dari Allah ‘Azza wa jalla’. Toh, jika kita mau merenung sesaat, betapa banyak manusia di luar sana yang nasibnya tak sebaik kita, tak seberuntung kita.

Jika mendapat nikmat, bukan nikmat,kita harus selalu bersyukur kepada Allah, maka Allah janji akan menambah nikmat tersebut. Allah berfirman yang artinya, “sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu menginginkan (nikmat-ku), maka sesungguhnya azab-ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 07)

Syukur itu tak hanya mengucapkan alhamdulillah. Tetapi juga dengan semakin menjalin cita dan ketaatan kepada yang memberikan anugerah dan karunia, yaitu sang pencipta. Syukur juga berarti mempergunakan kenikmatan yang diterima dengan sebaik-sebaiknya, tidak menyia-nyiakan dan tidak pula menjadikan ingkar.
Syukuri diri kita apa pun keadaan kita. Kita masih sehat, punya waktu luang, itu sebuah karunia yang tak ternilai harganya. Kata Nabi, dua nikmat yang sering dilalaikan oleh manusia adalah nikmat sehat dan waktu luang.

Jarang sekali ada manusia yang bersyukur atas akal pikiran dan kedua bola mata yang ia miliki. Apakah kita selama ini sudah menyusuri lidah? Kita bisa bicara apa yang kita suka, kita dapat membedakan pedasnya sambal dan manisnya gula. Apakah kita selama ini telah bersyukuratas hadirnya pagi dan senja? Kita bisa menikmatinya dengan cara yang kita suka.
Dan apakah kita telah bersyukur atas kesempatan hidup yang masih diberikan? Jantung yang masih berdetak dan nafas yang kita hirup.

Hikmah malam, mulai sekarang mari kita mensyukuri apa yang ada, bukan menangisi apa yang telah tiada. Syukuri apa pun yang Allah berikan. Bukan menunggu nikmat yang luar biasa datang baru kalimat syukur kita lisankan.Tak peduli mau seberapa besar atau kecil, pokoknya jika itu nikmat pemberian dari Allah, maka kita harus syukuri. Karena bersyukur dengan lisan yang mengucapkan pemberian dari Allah, dan dengan perbuatan berupa ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan itulah sejatinya rasa bersyukur.
(Sumber : Jika Ustad Jadi Wasiat, Roni Nuryusmansyah)

 

Facebook Comments

Tambah Komentar

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: