AL-KISAH BERANDA KISAH RASULULLAH

KISAH RASULULLAH (151) ﷺ : Periode Ketiga

Periode Ketiga
   

KISAH RASULULLAH (151) ﷺ : Periode Ketiga

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

Periode pertama: perjuangan dan peperangan

Periode kedua: bangsa dan qabilah-qabilah arab berlomba lomba masuk islam.

Ini merupakan periode terakhir atau periode ketiga dalam perjalanan hidup Rasulullah ﷺ yang mempertunjukkan pencapaian-pencapaian hasil usaha dakwahnya.

Setelah melalui waktu perjuangan jihad selama 20 tahun, kelelahan, kesengsaraan, peperangan dan pertarungan yang telah menumpahkan darah, semua ini telah Rasulullah ﷺ tempuh.

Pembukaan kota Mekah merupakan kemenangan yang sangat berarti yang telah dicapai oleh kaum muslimin di sepanjang tahun perjuangan mereka, suatu kemenangan yang telah mengubah peta dan urusan perjalanan hidup selanjutnya, serta merubah suasana dan kebiasaan bangsa Arab itu sendiri.

Pembukaan itu merupakan garis pemisah antara era lama dan era yang akan datang, di mana sebelumnya bangsa Arab-lah yang menjadi panutan mereka. Penundukkan kaum quraisy di bawah bendera islam dianggap sebagai penghapusan total terhadap pengaruh dan penyembahan berhala di semenanjung Arab.

Periode ini dapat dibagi menjadi dua fasa:

Peperangan Hunain

Penaklukan kota Mekah terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Dengan satu pukulan yang menyentak, telah membingungkan seluruh bangsa Arab dan menjadikan seluruh qabilah yang berdekatan terkejut, mereka tidak berdaya untuk menghalanginya. Oleh karena itu mereka menyerah, tidak ada jalan lain selain menerima apa yang terjadi,

Akan tetapi beberapa qabilah yang merasa lebih kuat, ganas dan congkak, seperti suku Hawazin dan Thaqif, dan kemudian beberapa qabilah lain juga mengikutinya, seperti, qabilah Nasr, Jasyam, Saad bin Bakar dan beberapa individu dari Bani Hilal.

Mereka ini dari kelompok Qais Ailan, qabilah-qabilah ini tidak rela menerima kemenangan Islam. Oleh karena itu, mereka bersepakat untuk bersekutu dengan Malik bin Auf Nasri dan membuat keputusan untuk melawan kaum Muslimin.

Pergerakan Musuh dan Persinggahan Autas

Malik bin Auf sebagai pembesar negerinya, memimpin pergerakan untuk memerangi kaum Muslimin, dia membuat keputusan dengan membawa serta semua harta-harta, kaum wanita dan anak-anak mereka.

Kemudian mereka bergerak sampai di Autas, lembah yang terletak di daerah perkampungan Hawazin berdekatan “Hunain”. Tetapi lembah Autas bukanlah lembah Hunain, lembah Hunain terletak berdekatan Zi Majaz. Jarak lembah Autas ke Mekah adalah sepuluh batu lebih ke arah Arafah.

Duraid bin Sammah

Ketika Malik bin Auf turun bersama orang banyak di Autas, di antara mereka adalah Duraid bin Sammah, seorang yang usianya sudah lanjut dan buta, akan tetapi memiliki pengetahuan tentang peperangan, berani dan berpengalaman.

Tanya Duraid:

“Di lembah kamu sekarang?”

Jawab yang hadir:

“Kita sekarang di Autas,”

maka kata dia: “Itu adalah tempat baik untuk kuda-kuda”, dia berpikir bahwa “tidak ada peristiwa yang menyedihkan dan tanah lapang tidak diserang, tetapi apa itu? aku mendengar suara-suara unta dan teriakan keledai, bahkan kedengaran tangisan anak-anak dan suara kambing”

Jawab mereka: “Sebenarnya Malik bin Auf telah mengerahkan habis-habisan, bersama-sama prajurit adalah kaum wanita, harta-harta dan anak-anak mereka,”

kemudian dia menemui Malik bin Auf dan menanyakan kenapa semua dibawa.

Jawab Malik: “Aku akan menempatkan semua ini di belakang agar setiap tentara tetap bersemangat untuk mempertahankan haknya”.

Kata Duraid: “Demi Allah, ini adalah tindakan seorang penggembala kambing, bukan tindakan seorang pemimpin bangsa. Apakah orang kalah dapat membawa pulang sesuatu? Walaupun semuanya itu milik kau, tetapi tidak memberi faedah apa pun kepada seorang pahlawan selain dari pedang dan tombaknya. Seandai kau kalah berarti kau telah berbuat sia-sia terhadap keluargamu dan hartamu”.

Kemudian dia bertanya kepada qabilah-qabilah lain dan pemimpin-pemimpinnya. Dan katanya lagi: “Wahai Malik bin Auf, sebenarnya kau belum menyediakan perisai “Huwazin” ke leher-leher kuda-kuda mereka, Ayo letakkan mereka di dalam benteng-

benteng negara mereka, kemudian majulah menghadapi pengikut Muhammad itu dengan kudamu, bila kemenangan berpihak kepadamu maka orang-orangmu akan mengikuti di belakangmu, tapi seandainya kau kalah maka keluargamu dan hartamu masih selamat”.

Namun Malik bin Auf enggan mengikuti permintaan Duraid bin Sammah dengan menegaskan: “Demi Allah aku tidak akan lakukan, kau sudah lanjut usia, pemikiranmu pun sudah seperti anak-anak. Demi Allah, Hawazin mesti mengikuti perintahku, atau aku tusukkan pedangku ini ke perutmu hingga keluar dari belakangmu”.

Sebenarnya Malik bin Auf tidak suka Duraid memainkan peranan, yang kelak akan disanjung namanya.

Maka jawab seluruh Hawazin: “Ya kami semua mengikut arahanmu”.

Sekali lagi Duraid berkata: “Inilah hari yang belum pernah aku saksikan, sepertinya, aku tidak mau melepas peluang untuk melihat kesudahannya”.

Kemudian dia bersyair:

Seandainya aku masih muda Di medan perang aku maju

Medan pertempuran aku bakar Tentara aku pimpin

Air mata aku usap

Kini peperangan bagaikan binatang Ke ruang penyembelihan dituntun Pengintai Malik bin Auf

Beberapa orang pengintai yang dikirim oleh Malik bin Auf datang kembali kepadanya memberi laporan dalam keadaan suara menggeletar.

Kata Malik bin Auf: “Apa ceritanya?”

Jawab mereka; “Kami dapati tentara serba putih di atas belakang kuda-kuda merah dan putih, kami ketakutan dan inilah laporan kami”.

Pengintai Rasulullah ﷺ

Rasulullah telah mendapat pemberitahuan tentang pergerakan musuh, sebagai tindakan maka Rasulullah mengutus Abi Hadad Aslami, agar dia menyusup masuk ke tengah-tengah musuh dan tinggal di sana untuk mendapatkan informasi lengkap mengenai mereka. Abu Hadad pun berangkat.

Bersambung

Facebook Comments

Tambah Komentar

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: