Virus Corona dan Meninggalnya Relawan Uji Vaksin Covid-19

banner 500x500

Jakarta, hajinews.id – Inalillahi wa innailaihi rojiun, Relawan uji klinis vaksin COVID-19 AstraZeneca di Brasil meninggal dunia pada hari Rabu (21/10/2020). Dikutip dari The Guardian, relawan yang meninggal dilaporkan bernama Dr Joao Pedro Feitosa. Ia merupakan petugas medis berusia 28 tahun yang merawat pasien COVID-19. Dikutip dari Mirror UK, menyebutkan ia meninggal karena komplikasi COVID-19 saat tengah menjadi relawan uji coba vaksin Corona eksperimental AstraZeneca.

Meski merenggut korban jiwa, Oxford yang bekerja sama dengan AstraZeneca, menegaskan bahwa rencana uji coba terus dilanjutkan. Melalui pernyataan, universitas itu mengatakan bahwa setelah penilaian yang cermat tidak ada kekhawatiran tentang keamanan uji klinis.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Berbeda dengan Negara lain di dunia yang memproduksi vaksin dan menguji coba masal kepada rakyatnya. Pemerintah China tegaskan, produksi vaksin virus coronanya tidak akan diberikan masal pada rakyatnya. Kepala CDC China mengatakan, vaksinasi sweeping yang dilakukan secara masal tidak diperlukan di negara China saat virus terkendali.

Sungguh ironi, ditengah ketidak pastian Pemerintah Indonesia justru sudah memesan sebanyak 9,1 juta vaksin covid-19 yang akan datang ke Tanah Air hingga akhir 2020. Menanggapi hal tersebut, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menyurati Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto terkait program vaksinasi virus Corona (COVID-19). IDI meminta program vaksinasi Corona tidak dilakukan secara tergesa-gesa.

IDI menyebut ada syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam pemilihan jenis vaksin yang akan disediakan. Syarat itu meliputi vaksin sudah terbukti efektivitas, imunogenitas, serta keamanannya dengan dibuktikan hasil yang baik melalui uji klinik fase ketiga yang sudah dipublikasikan.

Meski sudah di peringkatkan oleh banyak pihak, pemerintah tetap memilih jalannya sendiri. Bahkan pemerintah sudah menyiapkan sanksi bagi masyarakat yang menolak untuk di vaksin COVID 19, mereka akan dikenakan denda Rp 5juta rupiah. Peraturan tersebut tertuang dalam Perda Penanggulangan COVID-19 yang disahkan DPRD DKI dan Pemprov DKI Jakarta.

“Setiap orang yang dengan sengaja menolak untuk dilakukan pengobatan dan/atau vaksinasi COVID-19, dipidana dengan pidana denda paling banyak sebesar Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah).” (Sitha/diolah dari berbagai sumber).

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0 Komentar