BERANDA KOLOM OPINI

Selamat Jalan Kyai Syukri, Doa Kami Mengiringimu

Selamat Jalan Kyai Syukri, Doa Kami Mengiringimu
Kyai Syukri
   

Selamat Jalan Kyai Syukri, Doa Kami Mengiringimu

Oleh : Ahmad Sastra

Indonesia kembali berduka, satu persatu para ulama negeri ini wafat meninggalkan umatnya. Rabu, 21 Oktober 2020 telah wafat salah satu pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo, Dr. (HC) KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA. Sebelumnya, Senin 18 Mei 2020 bertepatan dengan tanggal 25 Ramadhan 1441 H, telah wafat pula  pimpinan Pesantren Gontor Ponorogo yakni KH. Syamsul Hadi Abdan. Bahkan sehari setelah itu, yakni Selasa 19 Mei 2020 M bertepatan dengan 26 Ramadhan 1441 H, umat kembali kehilangan dengan wafatnya KH Adam Ibrahim, mantan ketua MUI Kota Bogor.

Almarhum Dr (HC). K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A, lahir di Gontor pada tanggal 19 September 1942. Putra pertama dari KH. Imam Zarkasyi salah seorang Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor. Menamatkan Sekolah Dasar di desa Gontor pada tahun 1954. Setelah menamatkan Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor pada tahun 1960 melanjutkan studi di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta hingga mendapatkan gelar Sarjana Muda tahun 1965. Adapun gelar Lc. didapat dari Al Azhar University Kairo, Mesir pada tahun 1976. Kemudian melanjutkan studi di lembaga yang sama hingga meraih gelar MA. pada tahun 1978, dan gelar Doctor Honoris Causa pada 2005 dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Diantara karya tulis beliau adalah : (1) Pokok-Pokok Pikiran untuk  Perubahan Pendidikan Nasional. (2) Refleksi dan Rekonstruksi Pendidikan Islam: Model Pendidikan Pesantren Ala Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo. (3) Menggali Sumber Keuangan Madrasah : Strategi dan Teknik. (4) Pengelolaan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo. (5) Pengelolaan Pendidikan dan Pengajaran di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo. (6) Pola Pendidikan Pesantren Sebuah Alternatif. (7) Strategi dan Pola Manajemen Pendidikan Pesantren. (8) Optimalisasi Peran Sektor Pendidikan dalam Pengembangan Ekonomi Islam di Indonesia (9) Etika Bisnis dalam Islam dan Relevansinya Bagi  Aktivitas Bisnis di Dunia Pendidikan Pesantren: Studi Kasus Pondok Modern Darussalam Gontor. (10) Strategi Alternatif Pembelajaran Bahasa Arab di Pondok Modern Gontor (11) Optimalisasi Peran Sektor Pendidikan dalam Pengembangan Ekonomi Islam di Indonesia: Pengalaman Pondok Modern Darussalam Gontor. (12) Pendidikan Pesantren di Era Modern. (13) Peran Agama dan Budaya Islam dalam Mendorong Perkembangan Iptek: Iptek di  Pondok Modern Darussalam Gontor.

Wafatnya seorang ulama adalah kehilangan salah satu pilar agama. Bahkan ulama adalah pilar daulah, sebab dari lisan ulama inilah sebuah negara berjalan lurus diatas jalan Allah. Ulama adalah orang yang selalu memberikan muhasabah kepada pemerintah sekaligus mendidik umat. Ulama adalah bagian penting dari peradaban Islam.

Ulama adalah mutiara yang tak bisa tergantikan. Negeri ini telah kehilangan aset paling berharga, jika ditinggal ulama. Tidak mudah melahirkan kembali ulama yang sama, jika tidak hendak dikatakan mustahil. Ulama adalah pencerah dalam kegelapan kehidupan, penjaga moral bangsa sekaligus pengawal visi ideologis berbangsa dan bernegara. Dalam arus politik sekuleristik, peran ulama dalam meluruskan arah bangsa sangat dibutuhkan.

Dalam perspektif Islam, ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi, termasuk di dalamnya Nabi Muhammad saw., tidak mewariskan harta, tetapi mewariskan ilmu yang bersumber dari wahyu. Siapa saja yang menguasai ilmu syar’i serta menghiasi keyakinan dan amal perbuatannya dengan ilmu tersebut layak disebut sebagai ulama pewaris para nabi.

Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw. : Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar maupun dinar, tetapi mereka mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambil ilmu itu, ia mengambil bagian yang banyak (HR Abu Dawud).

Islam sangat menghargai ilmu dan ulama. Islam bukan saja menghargai ilmu tetapi meletakkan ilmu dengan posisi yang sangat istimewa. Allah berfirman dalam banyak ayat al-Qur’an supaya kaum Muslimin memiliki ilmu. Keistimewaan tersebut tampak sekali dari banyaknya ayat-ayat al-Qur’an dan al-Hadits yang memerintahkan supaya mendalami ilmu.

Allah berfirman  : Apakah sama, orang-orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui ?” Hanya orang-orang yang berakal sajalah yang bisa mengambil pelajaran. (QS Az Zumar : 9). Allah mengangkat orang-orang yang beriman daripada kamu dan orang-orang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat. (QS Al Mujaadilah : 11) dalam Surat Ali Imran Allah berfirman hendaklah kalian jadi generasi rabbani [orang yang sempurna ilmu dan taqwanya kepada Allah], karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.

Rasulullah saw juga bersabda: Barangsiapa melalui satu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memasukkannya ke salah satu jalan di antara jalan-jalan surga, dan sesungguhnya malaikat benar-benar merendahkan sayap-sayapnya karena ridha terhadap penuntut ilmu, dan sesungguhnya seorang alim benar-benar akan dimintakan ampun oleh makhluk yang ada di langit dan di bumi, bahkan ikan-ikan di dalam air. Dan sesungguhnya keutamaan seorang alim atas seorang abid (ahli ibadah) adalah seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang yang ada. Dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi, dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan Dinar ataupun dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya, maka hendaklah dia mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Daud).

Ali bin Abi Talib ra. berkata : “Ilmu lebih baik dari pada harta, oleh karena harta itu kamu yang menjaganya, sedangkan ilmu itu adalah yang menjagamu. Harta akan lenyap jika dibelanjakan, sementara ilmu akan berkembang jika diinfakkan (diajarkan). Ilmu adalah penguasa, sedang harta adalah yang dikuasai. Telah mati para penyimpan harta padahal mereka masih hidup, sementara ulama tetap hidup sepanjang masa. Jasa-jasa mereka hilang tapi pengaruh mereka tetap ada/membekas di dalam hati.”

Ulama pewaris nabi adalah orang-orang yang mengetahui ajaran Nabi saw., baik yang menyangkut perkara-perkara akidah maupun syariah. Mereka pun berusaha menyifati budi pekerti dan seluruh amal perbuatan beliau dengan ilmu yang bersumber dari al-Quran dan Sunnah Nabi saw. Mereka takut berpaling atau dipalingkan dari syariah Islam karena makrifatnya yang sempurna kepada Allah SWT dan sifat-sifat-Nya.

Ulama pewaris nabi adalah mereka yang rela menerima celaan, hinaan, intimidasi demi mempertahankan kemurniaan Islam dan membela kepentingan kaum Muslim. Ulama pewaris nabi menyadari sepenuhnya bahwa dunia tidaklah kekal abadi. Dunia adalah permainan, tipu daya dan cobaan bagi dirinya. Cinta dunia akan memalingkan dirinya dari akhirat yang kekal abadi. Bahkan cinta dunia merupakan sebab kehancuran jati diri ulama. Seorang ulama tidak akan mengambil dunia kecuali sekadar yang ia butuhkan untuk menopang kehidupan dirinya dan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Sebaliknya, ia berusaha meraih ilmu sebanyak-banyaknya, dan menghabiskan waktunya untuk kepentingan kaum Muslim. Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali menyatakan, “Ulama terdiri dari tiga kelompok. Pertama, ulama yang membinasakan dirinya dan orang lain. Mereka adalah ulama yang dengan terang-terangan mencari dunia dan rakus terhadap dunia.

Kedua, ulama yang membahagiakan dirinya dan orang lain. Mereka adalah ulama yang menyeru manusia kepada Allah lahir dan batin. Ketiga, ulama yang membinasakan dirinya sendiri dan membahagiakan orang lain. Mereka adalah ulama yang mengajak ke jalan akhirat dan menolak dunia secara lahir, tetapi dalam batinnya ingin dihormati manusia dan mendapatkan kedudukan yang mulia. Karena itu perhatikan pada golongan mana Anda berada.” (Al-Ghzali, Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, Juz III).

Di Indonesia ada ulama yang tidak tergadai oleh iming-iming harta dan tahta, seperti HAMKA dan M Natsir. Keduanya sangat kuat dalam memeluk kayakinan agamanya, meskipun berseberangan dengan kebijakan pemerintah. Keduanya terus mendakwahkan Islam kepada penguasa, meskipun untuk itu keduanya harus masuk jeruji besi. Ulama adalah mereka yang telah sepenuhnya menjual jiwanya kepada Allah.

Namun kematian adalah taqdir Allah, tak mungkin dimundurkan atau dimajukan. Jika ajal seseorang telah sampai, maka tak seorangpun mampu menahannya. Tinggal kita yang ditinggalkan harus mampu mengambil ibrah dan pelajaran dari wafatnya para ulama. Pelajaran berharga dari wafatnya seorang ulama adalah pentingnya bersungguh-sungguh mencari ilmu, mengamalkan dan mengajarkannya.

Selain itu penting dicatat, meninggalnya seorang ulama adalah menyadarkan akan pentingnya konsistensi dan keberanian memperjuangkan nilai-nilai Islam hingga bisa diterapkan dan dirasakan sebagai rahmatan lil’alamin atau kematian menjemput dalam jalan dakwah dan perjuangan. Meski ada semangat tinggi bagi setiap muslim untuk menuntut ilmu hingga menjadi ulama yang sekaligus pejuang.

Kita berdoa setulus hati semoga almarhum Dr. (HC) KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA  wafat dalam keadaan husnul khotimah dan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah. Semoga kita bisa memetik hikmah dibalik wafatnya para ulama untuk bisa terus melanjutkan estafet keilmuwan dan perjuangan mereka.

Facebook Comments

Tambah Komentar

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: