BERANDA DAKWAH

Nasihat Nabi Daud Kepada Orang Yang Berakal

Nasihat Nabi Daud kepada Orang yang Berakal
     

Nasihat Nabi Daud kepada Orang yang Berakal

Nabi Daud juga merupakan sosok raja yang bijaksana. Dia menjadi teladan dalam masalah keadilan, ibadah, dan berbagai perbuatan baik lainnya. Nabi Daud dan keluarganya pun tidak pernah melewati waktu tanpa beribadah baik siang maupun malam. Ini tercantum dalam firman Allah SWT QS Saba ayat 13:

يَعْمَلُونَ لَهُۥ مَا يَشَآءُ مِن مَّحَٰرِيبَ وَتَمَٰثِيلَ وَجِفَانٍ كَٱلْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَّاسِيَٰتٍ ۚ ٱعْمَلُوٓا۟ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِىَ ٱلشَّكُورُ

Ya’malụna lahụ mā yasyā`u mim maḥārība wa tamāṡīla wa jifāning kal-jawābi wa qudụrir rāsiyāt, i’malū āla dāwụda syukrā, wa qalīlum min ‘ibādiyasy-syakụr

“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS Saba: 13)

Dalam ayat tersebut kebijaksanaan Nabi Daud dapat dilihat dari ketaatannya terhadap Allah. Menurut Adil Musthafa Abdul Halim dalam bukunya Kisah Bapak dan Anak dalam Alquranperilaku dan cara Nabi Daud memanfaatkan waktu patut ditiru.

Nabi Daud menasihati agar orang yang berakal tidak boleh melalaikan empat waktu.

  1. Waktu bermunajat kepada Tuhannya.
  2. Waktu untuk melakukan introspeksi diri.
  3. Waktu bertemu dengan saudara-saudaranya yang selalu memberitahukan kepadanya tentang cela yang dia miliki, serta yang selalu mengingatkan kepadanya untuk berlaku jujur terhadap dirinya sendiri.
  4. Waktu untuk melepaskan dirinya dari berbagai kelezatan yang halal dan menyenangkan.

Sesungguhnya pemanfaatan waktu yang terakhir ini (waktu untuk melepaskan dirinya dari berbagai kelezatan yang halal dan menyenangkan) dapat membantu agar terlaksananya tiga waktu lain dan membantu menenangkan hati.

Dalam Hadis disebutkan bahwa orang yang berakal juga harus mengetahui dengan baik kondisi zamannya, menjaga lidahnya, dan menerima kondisi dirinya. Orang yang berakal juga tidak layak untuk melakukan perjalanan, kecuali dengan tujuan untuk mencari tiga hal. Yaitu untuk menambah bekal akhirat, untuk mencari rezeki, dan untuk mencari kelezatan yang halal.

Referensi:  Kisah Bapak dan Anak dalam Alquran/Karya: Adil Musthafa Abdul Halim/Penerjemah: Abdul Hayyie al-Kattani, Fithriah Wardie/Penerbit: Gema Insani/Tahun: 2007

Sumber : islampos

Facebook Comments

Tambah Komentar

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: