BERANDA BERITA CORONAVIRUS EKONOMI UTAMA

Indonesia Sudah Resesi, Ini Deretan Data-datanya

Ilustrasi ekonomi Indonesia masuk resesi. Foto: Dok Pixabay
   

Jakarta, Hajinews.id – Sejumlah ekonom dan pemerintah telah mengakui Indonesia sudah masuk resesi. Pasalnya, tiga kuartal berturut-turut terkontraksi negatif.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2020 hanya 2,97 persen. Pada kuartal II/2020 minus 5,32 persen. Kemudian pada kuartal III/2020 juga diperkirakan masih minus tapi tidak sedalam kuartal sebelumnya.

Dikutip dari CNBC Indonesia, pada September 2020, nilai ekspor Indonesia tercatat USD 14,01 miliar atau turun 0,51 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy).

Sepanjang kuartal III/2020, ekspor selalu tumbuh negatif. Artinya, bisa dipastikan kontribusi ekspor dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) bukannya positif malah mengurangi.

Lalu, impor. Pada September 2020, nilai impor adalah USD 11,57 miliar. Anjlok 18,88 persen yoy. Seperti halnya ekspor, impor juga selalu membukukan kontraksi (pertumbuhan negatif) pada kuartal III/2020.

Penurunan impor juga akan berdampak negatif terhadap PDB karena sebagian besar impor Indonesia adalah bahan baku/penolong dan barang modal yang digunakan untuk produksi industri dalam negeri.

“Impor bahan baku dan barang modal akan berpengaruh positif terhadap geliat industri dalam negeri. Kita masih perlu waktu menuju recovery,” kata Kepala BPS. Suhariyanto.

Industri adalah penyumbang nomor satu dalam pembentukan PDB dari sisi lapangan usaha. Dalam 10 tahun terakhir, rata-rata kontribusi industri pengolahan kepada PDB mencapai 20,86%.

Oleh karena itu, meski data resmi baru dirilis 5 November mendatang, PDB Indonesia boleh dikata mengalami kontraksi pada kuartal III/2020. Kementerian Keuangan dalam proyeksi terbaru memperkirakan ekonomi pada Juli-September 2020 terkontraksi 1-2,9 persen.

Pada kuartal sebelumnya, ekonomi Indonesia sudah menyusut 5,32persen. Jadi Indonesia sudah mengalami kontraksi ekonomi dua kuartal beruntun, yang merupakan definisi dari resesi.

Akan tetapi, data BPS juga memberi optimisme bahwa ekonomi kuartal IV/2020 bakal membaik. Sampai September, ekspor memang masih tumbuh negatif. Namun kontraksinya semakin tipis bahkan pada September sudah kurang dari 1 persen.

“Ekspor September 2020 sudah hampir sama dengan September 2019. Kira berharap ke depan semakin meningkat,” ujar Suhariyanto. (mh)

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: