AL-QURAN BERANDA USTADZ

Tafsir Al-Quran Surat Shad Ayat 62-70

Surat Shad Ayat 62-70
   

Tafsir Al-Quran Surat Shad Ayat 62-70

Oleh Ustadz KH Didin Hafidhuddin

Disarikan oleh Prof. Dr. Bustanul Arifin

1. Alhamdulillahi rabbil alamin. Kita berjumpa lagi dalam kajian Tafsir Al-Quran, pada hari ini telah sampai pada Surat Shad Ayat 62-70. Kita awali dengan membaca Ummul Kitab Al-Fatihah dan dilanjutkan dengan bersama membaca Surat Shad Ayat 62-70. Artinya adalah sebagai berikut: “Dan (orang-orang durhaka) berkata, ‘Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina). Dahulu kami menjadikan mereka olok-olokan, ataukah karena penglihatan kami yang tidak melihat mereka?’ Sungguh, yang demikian benar-benar terjadi, (yaitu) pertengkaran di antara penghuni neraka. Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa, (yaitu) Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, Yang Mahaperkasa, Maha Pengampun.’ Katakanlah, ‘Itu (Al-Qur’an) adalah berita besar, yang kamu berpaling darinya. Aku tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang Al-Mala’ul A’la (malaikat) itu ketika mereka berbantah-bantahan. Yang diwahyukan kepadaku, bahwa aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata.’”

2. Ayat-ayat ini menjelaskan dampak negatif tentang siksa yang akan diberikan kepada orang-orang yang tidak beriman, takabur dan sombong. Sebagai musli, kita hanya minta dua hal kepada Allah SWT sepanjang hayat. “Allahumma inna nas’aluka ridhaka wal jannata, wa na’udzu bika min syahatika wan nar” (Ya Allah, kami mohon kepadamu keridhaanMu dan jannah surgaMu. Dan Kami mohon kepadaMu untuk dijauhkan dari kemurkaanMU dan adzab nereka). Ini merupakan doa atau permohonan yang paling tinggi, mohon ridha Allah SWT dan mohon surganya. Juga, mohon dijauhkan dari murka Allah dan dari neraka. Neraka adalah tempat kembali yang paling mengerikan, yang dipersiapkan kepada orang yang kufur kepada Allah dan yang takabur dan sombong. Sebagaimana telah dijelaskan pada pekan lalu, kisah tentang orang-orang yang masuk ke dalam neraka itu telah dijelaskan dalam Al-Quran melalui ayat-ayat di atas, berikut suasana atau penjelasannya setelah mereka berada di dalam neraka.

3. Siapa mereka itu? Pertama, memiliki sifat tagha: takabbur, sombong, tidak mau menderngarkan nasihat, tidak mau dikritik, merasa benar sendiri, dan rakus dalam segala hal, termasuk dalam kekuasaan dunia. Perhatikan Surat An-Naziat ayat 37-39. “Maka adapun orang yang tagha (melampaui batas), dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya” Barang siapa yang tagha, dan lebih mementingkan kehidupan dunia, jabatan dan kekuasaan (apalagi dengan cara yang tidak benar), itulah tempat kembali yang buruk. Kedua, sifat menghinakan. Kalau sekarang sifat ini lebih dikenal dengan orang-orang yang gemar mem-bully, mem-bully pejabat yang amanah, mem-bully orang yang hafal quran, menghinakan orang yang suka ke masjid, dll. Seperti yang dijelaskan dalam Surat Shad ayat 62-70 di atas. Mereka ahli neraka heran dan berbantahan, mengapa orang yang berdakwah bahkan mengkritisi keadaan dan dianggapnya sebagai orang-orang jahat ternyata tidak ada dalam neraka. Padahal mereka tidak jarang justeru membuat para pendakwah itu ssebagai bahan senda gurau dan permainan. Apalagi sekarang, kita sering melihat fenomena bully mem-bully dan fitnah memfitnah kepada seseorang yang ternyata karena ketidaksenangan secara pribadi.

4. Al-Quran telah secara jelas menjelaskan betapa buruknya orang yang sering menghina itu. Misalnya, dalam Surat Al-Muthaffifin, Ayat 29-36 tentang orang-orang yang sering dihinakan karena berdakwah, “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya, dan apabila kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira ria. Dan apabila mereka melihat (orang-orang mukmin), mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang sesat”. Padahal (orang-orang yang berdosa itu), mereka tidak diutus sebagai penjaga (orang-orang mukmin). Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman yang menertawakan orang-orang kafir,‏ mereka (duduk) di atas dipan-dipan melepas pandangan. Apakah orang-orang kafir itu diberi balasan (hukuman) terhadap apa yang telah mereka perbuat?” Mohon kita kaum muslimin tidak ikuta-ikutan dan tidak ikut terjebak dengan menghinakan agama, bahkan menghinakan Rasulullah SAW, orang yang paling mulia.

5. Ketiga, orang yang tidak mau berfikir. Mereka tidak mau mendengar orang-orang mumin. Penyesalan datang setelah berada di dalam neraka. “Andaikan kami mau mendengar dan mau berfikir, kami tidak akan masuk ke dalam neraka”. Misal, Surat Al-A’raf ayat 179, “Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah” Mereka orang-orang yang lupa kepada Allah SWT. Sekali lagi, orang masuk neraka karena tidak peduli kepada lingkungan, tidak peduli kepada orang miskin yang berada atau terlihat nyata berada dalam lingkungan perumahannya.

6. Keempat, orang yang meninggalkan shalat. Perhatikan juga Surat Al-Mudatstsir Ayat 38-47, yang artinya, “Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka saling menanyakan, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, ‘Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?’ Mereka menjawab, ‘Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami (juga) tidak memberi makan orang miskin, bahkan kami biasa berbincang (untuk tujuan yang bathil), bersama orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, sampai datang kepada kami kematian’”. Kelak, kecuali kelompok kanan, yang masuk ke dalam surga itu serasa bertanya tentang orang-orang yang jahat yang durhaka. Apa yang menyebabkan Anda masuk neraka? Para ahli neraka menjawab berikut ini: (1) Kami tidak pernah shalat, kami tidak merespons panggilan shalat. Walaupun adzan telah dikumankadakan lima kali dalam sehari. Kami terlalu sibuk dengan urusan-urusan dunia; (2) Kami tidak pernah peduli dan memberi makanan kepada orang miskin. Misal, kita hidup di tengah kompleks atau dalam suatu lingkungan dan bertetangga atau yang masih ada kaum miskin. Kita bahkan tidak peduli terhadap kaum buruh, terhadap mereka yang terkena PHK, sehingga untuk makan sehari-sehari pun kesulitan. (3) Kami berbincang dan rapat tentang hal-hal yang tidak sesuai kebenaran, bahkan dengan orang-orang yang batil, yang ternyata tidak mempedulikan nasib kaum miskin. Jangan dikira apa yang kita lakukan sekarang tidak ada pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Semuanya akan dipertanggungjawabkan; (4) Kami mendustakan Hari Qiyamat, mendustakan akhirat, karena ternyata belum ada bukti yang nyata. Mereka akan terus melakukan itu, hingga datang kepada kami kematian. Terlalu ironis jika jika kini masih ada orang yang membenci orang lain, karena banyak membahas hal-hal untuk diperiapkan menuju kehidupan akhirat.

7. Dalam menjawab pertanyaan hadirin, tentang doa-doa yang perlu dibaca agar terhindar dari sifat hasad dengki dan hati yang tidak khusyu’. “Ya Allah berikan kepadaku ketaqwaan, dan sucikan diri kami, sesungguhnya Engkau adalah Zat yang Maha Mensucikan. Ya Allah Aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hatiyang tidak pernah khusyu’, dari diri yang tidak pernah bersyukur atas nikmatMu, dan dari doa yang tidak terkabulkan”. Tentang doa agar dijauhkan dari sifat hasad dan dengki, seperti yang disampaikan dalam Surat Al-Hasyr, ayat 10, “Rabbana aghfir lanaa wa li ikhwaaninal ladziina sabaquunaa bil-iimaan, wa laa taj’al fii quluubinaa gillan(l) lillaadziina aamanuu, Rabbana innaka ra-uufur rahiim (Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang). Sekarang itu memang agak aneh tentang perkembangan akhir zaman. Kaum muslimin yang benci ajaran islam semakin banyak. Jika orang kafir dan non-muslim benci kepada ajaran islam, maka hal itu wajar dan dapat dimengerti, karena mereka tidak paham. Perhatikan AlQuran Surat Al-Baqarah Ayat 130, “Tidak ada orang yang membenci terhadap Millah Nabi Ibrahim (Agama Islam, maksudnya), kecuali orang-orang yang bodoh”. Sekarang semakin banyak orang yang terlihat semaki bodoh itu”. Hal ini merupakan tugas kita semua untuk mencegahnya.

8. Kita doakan orang-orang yang suka nyinyir terhadap ajaran islam agar diberikan hati yang bersih, terutama jika mereka muslim. Jika kita dihasudi orang lain, boleh kita melakukan klarifikasi. Kita tidak perlu memikirkan hal-hal yang di luar jangkauan kita, misalnya tentang kematian. Kematian pasti akan terjadi. Surga dan neraka tidak perlu dipikirkan, karena itu pasti ada. Kita dianjurkan untuk mengamalkan atau melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi laranganNYa. Kita kaum muslimin terus menggali ajaran-ajaran islam, apalagi kaum intelektual, dosen, mahasiswa, dll misalnya ajaran islam tentang ekonomi, tentang teknologi, tentang pendidikan dll. “Jika kalian menolong agama Allah, maka pasti Allah akan menolong kalian”. Kita tidak boleh lelah dan frustrasi, dan yakinlah bahwa pertolongan Allah SWT pasti datang. Mari kita tutup dengan do’a kiffarat majelis, “Subhanaaka Allaahumma wa bihamdika, asyahadu an(l) laa ilaha illaa anta, astaghfiruuka wa atuubu ilayka”. Wallahu a’lam bish-shawab. Silakan ditambahi dan disempurnakan oleh para hadirin yang menyimak langsung ta’lim Professor Didin Hafidhuddin tadi. Terima kasih, semoga bermanfaat. Mohon maaf jika mengganggu. Salam. Bustanul Arifin

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: