BERANDA DAKWAH USTADZ

Jujur Itu Jalan Keselamatan, Penyempurna Takwa …

Jujur Itu Jalan Keselamatan, Penyempurna Takwa ...
Foto : Unsplash (Highway)
   

Jujur Itu Jalan Keselamatan, Penyempurna Takwa …

Oleh Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Tadabbur ayat Al-Qur’an

Allah memerintahkan hambanya yang beriman untuk bertakwa dan menjadi orang yang jujur.
Allah berfirman:

يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وكونوا مع الصادقين
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah,dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.(At-Taubah : 119).

Tiga ayat dalam surat At-Taubah, yakni ayat 117-119, turun berkenaan dengan taubatnya Ka’ab bin Malik, Murarah bin Rabi’ dan Hilal bin Umayyah.
Ketiganya tidak ikut Perang Tabuk. Ka’ab bin Malik sebenarnya telah mempersiapkan kendaraan perang dan perbekalan. Namun entah kenapa, ia menunda-nunda. Ketika Rasulullah dan pasukan telah berangkat, ia berencana menyusul keesokan harinya. Ia masih sibuk dengan urusannya yang saat itu kebun-kebunnya sedang berbuah.

Hingga berlalu beberapa hari dan pasukan muslim sudah jauh, Ka’ab tidak juga berangkat. Ia merasa sedih dan kesedihan itu semakin kuat ketika terdengar kabar Rasulullah dalam perjalanan pulang dari Perang Tabuk. Ka’ab sempat berpikir mencari alasan dengan berdusta. Namun begitu terdengar Rasulullah telah dekat, hilang semua rencana itu. Ka’ab sadar, kalaupun ia bisa berbohong, Allah akan mengungkap kebohongannya.

Ketika Rasulullah tiba di Masjid kemudian selesai shalat dua rakaat, orang-orang munafik yang tidak ikut berperang segera mendatangi beliau. Mereka mengemukakan alasan dengan berdusta agar dimaafkan Rasulullah. Rasulullah pun tidak menghukum mereka.

Giliran Ka’ab, ia tidak mengemukakan alasan apa pun. Ia mengakui dirinya bersalah tidak berangkat. Rasulullah mendiamkannya. Rasulullah menyatakan bahwa Ka’ab telah berkata jujur. Beliau meminta Ka’ab pergi hingga Allah menurunkan keputusan-Nya.

Keputusan itu pun turun. Iqab (sanksi) atas Ka’ab, Murarah dan Hilal adalah tidak diajak komunikasi kaum muslimin selama 50 hari. Pada 10 hari terakhir, istrinya pun dilarang komunikasi. Ka’ab merasa bumi menjadi sangat sempit. Ia seakan hidup sendiri tanpa teman tanpa saudara. Di hari ke-50, Allah menurunkan Surat At Taubah ayat 117-119. Bahwa Allah menerima taubat mereka dan menyerukan untuk tetap jujur serta membersamai orang-orang yang benar dan jujur.
(Asbabun Nuzul, Imam As-Suyuthi)

Berkata Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili,
“Hai orang-orang yang beriman”, kepada Allah dan kepada apa yang diperintahkan oleh Allah agar diimani, jalankan apa yang menjadi konsekuensi iman, yaitu bertakwa kepada Allah, dengan menjauhi dan meninggalkan apa yang Dia larang. “Dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”, dalam ucapan, perbuatan, dan keadaan mereka, orang-orang yang perkataannya adalah benar, perbuatannya dan keadaannya tidak lain kecuali benar, bebas dari kemalasan dan kelesuan, selamat dari maksud-maksud buruk, mengandung keikhlasan dan niat yang baik, karena kejujuran mengantar kepada kebaikan, dan kebaikan mengantar kepada Surga. Allah berfirman, “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar”.(Al-Maidah:119)
(Tafsir Al-Wajiz, Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili)

Syaikh Abdurrohman as-Sa’di رحمه الله mengatakan,
“Firman-Nya “Dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”, yaitu di dalam perkataan, perbuatan, dan keadaan mereka.
Ucapan yang terlontar dari mereka benar dan jujur, perbuatan dan keadaan mereka tidak lain adalah benar, jauh dari rasa malas, selamat dari maksud jahat, berupaya ikhlas dan niat yang sholih.
Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan ke dalam surga.”
(Taisir Karimir Rohman hlm.312).

Berkata Imam Ibnu Katsir رحمه الله tentang firman Allah,
يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وكونوا مع الصادقين
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah,dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.(At-Taubah : 119).
Yakni jujurlah kalian dan tetaplah kalian pada kejujuran, niscaya kalian akan termasuk orang-orang yang jujur dan selamat dari kebinasaan serta menjadikan bagi kalian jalan keluar dari urusan kalian.

Abdullah Ibnu Mas’ud رضي الله عنه mengatakan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah bersabda: Jujurlah kalian, karena sesungguhnya kejujuran itu membimbing ke arah kebajikan; dan sesungguhnya kebajikan itu membimbing ke arah surga. Dan seseorang yang terus-menerus melakukan kejujuran serta berpegang teguh kepada kejujuran pada akhirnya dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur (benar). Hati-hatilah kalian terhadap kebohongan, karena sesungguhnya bohong itu membimbing kepada kedurhakaan; dan sesungguhnya kedurhakaan itu membimbing ke arah neraka. Dan seseorang yang terus-menerus melakukan kebohongan serta bersikeras dalam kebohongannya, pada akhirnya dia akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang pembohong (pendusta).
(HR Al-Bukhari dan Muslim)

Syu’bah telah meriwayatkan dari Amr ibnu Murrah bahwa ia pernah mendengar Abu Ubaidah menceritakan hadis dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa dusta itu tidak layak dilakukan, baik dalam keadaan sungguhan maupun dalam keadaan bersenda gurau. Bacalah oleh kalian firman Allah yang mengatakan: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar. (At-Taubah: 119) Demikianlah bunyi ayat seperti yang dibacakan oleh Nabi. Maka apakah kalian menjumpai padanya suatu rukhsah (kemurahan) bagi seseorang?

Abdullah ibnu Amr mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar. (At-Taubah: 119)
Yaitu bersama Muhammad صلى الله عليه وسلم dan para sahabatnya.
Ad-Dohak mengatakan,

Yaitu bersama Abu Bakar dan Umar serta teman-teman keduanya.
Al-Hasan Al-Basri mengatakan, “Jika engkau ingin bersama orang-orang yang benar, maka berzuhudlah kamu terhadap duniawi, dan cegahlah dirimu dari (menyakiti) saudara seagamamu.”
(Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim, Imam Ibnu Katsir)

Faedah ayat ini.
Allah menyuruh hambanya yang beriman kepada-Nya, mengikuti rasul-Nya, dan menjalankan syariat-Nya, agar takut kepada Allah dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dan agar mereka bergabung bersama orang-orang yang jujur dalam keimanan, ucapan, dan perbuatannya. Karena tidak ada keselamatan bagi mereka kecuali di dalam kejujuran.

Wallahu a’lam

Facebook Comments

Tambah Komentar

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: