INFO HAJI & UMROH OPINI UTAMA

Haji Mabrur Walau Tidak Berhaji

haji mabrur tanpa haji
   

Oleh; HM. Sukiman Azmy

Ketua IPHI NTB, Bupati Lombok Timur

 

Imam Al Hasan Bashry seorang ulama besar dizamannya itu  tidak langsung pulang ke Mesir ketika selesai menunaikan ibadah hajinya, malah beliau pergi menjelajahi pelosok  kota Damsyik di Syria karena penasaran atas mimpinya ketika beliau terlelap sejenak di Masjidil Haram Makkah Almukarramah.

Dalam tidur sesaat di tempat yang mulia penuh berkah itu beliau bermimpi melihat dua orang Malaikat yang sedang berdialog tentang pelaksanaan ibadah haji tahun itu yang dikuti lebih tujuh ratus ribu jamaah dari seluruh penjuru dunia.  Dalam dialog,  kedua Malaikat itu menyatakan keheranannya  karena diantara sedikit sekali jamaah haji  yang dinyatakan mabrur,  ada diantaranya yang tidak berada di Arafah, Muzdalifah, Mina dan tidak pula tawaf di Baitullah pada musim haji, justeru mendapatkan haji mabrur. Malaikat yang satu bertanya; “Siapakah dia ?”. Dijawab oleh Malaikat lainnya; “Dialah Sa’id ibnu Muhafah, tukang sol sepatu dari Damsyik”.

Selesai disebut nama itu oleh Malaikat yang menjawab pertanyaan kawan dialognya, Imam Al Hasan Bashry tersentak bangun dan tertegun sejenak lalu mencatat nama yang disebut Malaikat itu dan dia bertekad untuk mencari sampai bertemu dengan Sa’id ibnu Muhafah untuk menanyakan apa amal ibadah yang dilakukannya sehingga dia termasuk salah satu diantara mereka yang memperoleh haji mabrur.

Setelah tiba di Damsyik,  lalu menelusuri  setiap sudut kota itu sambil  bertanya dimana dia bisa menemui tukang sol sepatu yang bernama Sa’id ibnu Muhafah itu, akhirnya Imam Al Hasan Bashry  bertemu juga dengan orang yang dicari. Imam Al Hasan Bashry bertanya; “Apakah engkau berangkat ke Baitullah menunaikan ibadah haji tahun ini ?”. Sa’id ibnu Muhafah  menjawab; “Tidak, aku tetap berada di Damsyik dan tidak ke Baitullah menunaikan ibadah haji”. Semakin heran Imam Al Hasan Bashry dengan jawaban Sa’id, kemudian dia menceritakan mimpinya dan bertanya; “Apa yang menyebabkan engkau tidak pergi ke Baitullah untuk berhaji tapi engkau mendapatkan haji mabrur ?”.

 

Ngidam masakan harum semerbak.

Sa’id ibnu Muhafah menjawab; “Memang saya berencana akan menunaikan ibadah haji pada tahun ini karena tabungan saya selama bertahun-tahun sudah dirasa cukup untuk itu, tetapi tiba-tiba isteri saya yang sedang hamil muda itu ngidam, dia ingin dibelikan masakan yang  tercium olehnya sangat enak. Lalu saya berangkat  membawa  uang kearah bau harum masakan yang ditunjukkan isteri.

Ternyata bau masakan itu berasal dari sebuah gubuk  lapuk  tidak layak pakai, yang dihuni seorang janda dengan enam orang anaknya yang berpakaian compang-camping serba kekurangan. Saya katakan kepada pemilik rumah itu bahwa saya ingin membeli beberapa potong daging yang dimasaknya. Dia menjawab; “makanan itu tidak akan dijual”.

Saya katakan;”berapapaun harganya akan saya beli karena isteri saya yang sedang hamil muda itu ingin makan masakannya”. Dia menjawab; “Berapapun harganya, saya tidak akan menjualnya”. Saya menghiba kepadanya agar dapat membawa pulang beerapa potong daging masakannya itu, namun dia tetap tidak memberikan.

Setelah saya desak,  dia menjelaskan; “ Masakan  ini adalah daging bangkai keledai yang  haram buat kalian tetapi halal bagi kami karena jika tidak kami makan, tentu kami akan mati kelaparan”. Saya pulang kerumah dengan aneka perasaan yang berkecamuk, lalu menceritakan kepada isteri saya tentang janda miskin dengan enam orang anaknya itu dengan penuh keharuan. Akhirnya kami sepakat untuk memberikan semua biaya perjalanan haji yang ditabung sekian tahun itu kepada janda miskin dengan enam orang anaknya, agar mereka lepas dari beban berat yang menghimpitnya”.

Imam Al Hasan Bashry terdiam bertafakkur, dalam hatinya berbisik; “Sungguh pantas jika Sa’id ibnu Muhafah mendapatkan haji mabrur walau dia tidak pergi ke Baitullah”.

Bagaimana dengan kepedulian sosial kita ?

Ada hobby baru yang sedang menjangkiti umat Islam Indonesia saat ini ditengah kondisi bangsa yang sedang dirundung banyak masalah, yaitu setiap tahun melaksanakan ibadah haji dan berkali-kali dalam satu tahun melaksanakan umrah, padahal disekeliling mereka masih banyak dijumpai fakir miskin dan anak-anak terlantar. Lihatlah tingkah polah mereka yang hedonis ketika melakukan wukuf di Arafah, dengan pesta kebun yang dibuat demikian sejuk ditengah panasnya udara menyengat diluar kemah mereka. Selesai khutbah wukuf lalu berdo’a atau wirid sebentar, kembali mereka tenggelam dalam fasilitas dan kenikmatan duniawi.

Diluar komunitas masyarakat hedonis ini, tidak ada yang diperbolehkan masuk areal perkemahan mereka, benar-benar sebuah privacy yang sempurna. Ketika mereka kembali ke tanah air menggunakan atribut-atribut yang menunjukkan keistimewaannya, sepanjang perjalanan mereka memisahkan diri dengan komunitas lainnya,  tanpa basa-basi dan komunikasi. Ketika mereka kembali dalam hidup kesehariannya, tetangga dekat yang miskin, orang-orang  tua jompo yang memerlukan santunan, pengemis cacat dipinggir jalan,   panti asuhan di masjid dekat komplek rumah mewahnya tidak pernah juga disambangi, bahkan kalau Jum’atanpun mencari tempat yang semartabat dengan kelasnya.

Bagaimana kita banyak berharap kepada mereka atas terlaksananya  “salah satu syarat mewujudkan masyarakat baldatun thayyibatun warabbun gafur adalah dermawannya para aghniya’. Bukankah lebih baik tidak berhaji tapi mabrur seperti Sa’id ibnu Muhafah, daripada berhaji tapi tidak berdampak pada peningkatan kualitas ibadah spiritual maupun ibadah sosialnya, alias mardud ?. Wallahu a’lamu bishshawab.

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: