CORONAVIRUS KESEHATAN OPINI UTAMA

Covid-19 Merajalela, Unsur Pemerintah Ada Dimana?

covid merajalela pemerintah ada dimana
     

#SAATNYA PERANG TOTAL DENGAN STRATEGI 10 T

Penulis : Dr.Abidinsyah Siregar *)

KITA sudah membaca berbagai himbauan kepada public, banyak protokol pencegahan dan penanganan virus Covid-19 dari berbagai media dan media sosial.

Sejak Bapak Presiden mengumumkan 2 (dua) kasus Positif Covid-19 pertama Indonesia pada 2 Maret 2020 yang lalu, berbagai Kebijakan dan Upaya serta Pengorganisasian tata kelola Pencegahan dan Penanganan Covid-19 termasuk penerapan PSBB dengan prinsip berdasar usulan Wilayah, sehingga muncullah Wilayah dengan PSBB dan Wilayah tidak mengusulkan PSBB yang ternyata jadi Red zone.

RENUNGAN 1 : Sudah 3 Tim Nasional Pencegahan Covid-19, Era pak Doni, Era pak Airlangga dan kini Era pak Luhut. Tulisan lebih awal penulis memberi saran agar Organisasi Penanggulangan dan Pencegahan Covid-19 agar langsung di tangan Presiden melalui Wakil Presiden selaku pemegang Komando di lapangan. Dalam wabah luas, satu kesatuan Komando adalah kebutuhan mutlak. Penulis juga menyarankan jika tidak Wapres Ma’ruf Amin, maka Presiden bisa minta bantuan mantan Wapres, ada pak Tri Sutrisno, pak Hamzah Haz, pak Boediono atau pak Jusuf Kalla. Komando pada level itu akan efektif untuk mensinergikan semua potensi Nasional dan kuat.

Banyak kisah perjuangan di ruang tindakan medis dan ruang isolasi.

Banyak pula kisah pilu tentang nasib penderita yang digambarkan “ditolak dan ditolak oleh RS”. Adapula jenazah yang sudah dibalut plastik (menghindari penularan, sesuai Protokol pemulasaraan kasus Covid-19) bukan dibawa ke makam tapi dibawa kerumah dan dibuka.

Juga kisah stress dan lelah para petugas, bahkan hingga kematian.

RENUNGAN 2 : Lebih 120 orang Dokter meninggal, setengahnya Spesialis dan ada 7 orang Guru Besar. Terbanyak Dokter meninggal di Jawa Timur dan Sumatera Utara. Penuhnya ruang tindakan Intensif pada Rumah Sakit Rujukan Covid-19 sudah dibatas kekhawatiran.

Presiden Joko Widodo telah memerintahkan Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto untuk mengaudit dan mengoreksi protokol keamanan di rumah sakit bagi tenaga kesehatan. Menurutnya, hal ini perlu dilakukan agar rumah sakit menjadi “tempat yang aman dan tidak menjadi kluster penyebaran Covid” (BBC News, 15 September)

Didunia sebaran sudah menjangkau semua 198 Negara di dunia dan mengenai hampir setengah juta kasus dengan angka kematian mencapai 16 % terhadap kasus rentan.

Sejak Dirjen WHO menyatakan Pandemi pada 12 Maret 2020, jumlah terpapar virus naik tajam dari 100.000an dalam 2 minggu mendekati 500.000 kasus. Angka kematiannya jauh diatas prediksi 2-3 %.

RENUNGAN 3 : Dari infografis Worldometers.info 24 September 2020 jam 03.04 GMT atau 10.04 WIB, diketahui bahwa sebaran virus Covid-19 sudah menjangkau 215 Negara di seluruh Benua. Jumlah kasus sudah menembus 32 Juta, kematian 981.962 orang (3 %) dan sembuh 23,6 juta (74 %).

INDONESIA

Demikianpula halnya negeri kita Indonesia, tercatat dalam infografis WHO per 26 Maret jam 14.52 GMT, meningkat lagi kasus virus Covid-19 dari 13 Maret sejumlah 96 kasus menjadi 893 kasus dengan jumlah positif virus 780 orang, kematian 78 orang (10 %) dan sembuh 35 orang (4,5 %). Dalam 2 minggu peningkatan jumlah kasus mencapai 8 kali lipat, eksponensial.

Melihat data melalui covid-18.go.id terlihat kenaikan jumlah kasus sangat cepat. Ada 2 (dua) penyebab paling nyata, PERTAMA karena sangat giatnya dilakukan Test melalui Uji Swab Rapid dan PCR, terutama di Jakarta dan Surabaya. KEDUA, memang sudah luasnya penyebaran virus pada Community spreads yang sudah membentuk kluster perkantoran hingga kluster perumahan.

Rasio test Indonesia per 1 juta penduduk juga masih yang terendah. Bandingkan dengan Negara-negara pada Urutan ke 21-25 (disekitar Indonesia) dan China Negara tempat asal Virus Covid-19 yang bisa dilihat dari publikasi WHO dan Hasil Test terhadap temuan kasus (kolom 4) :

Atau lihat Posisi INDONESIA dengan beberapa rekan Negara ASEAN, perhatikan dampak Test terhadap PENURUNAN Angka Kematian dan Peningkatan Kesembuhan (Kolom 7) sbb :

Dari kedua matrik diatas, tampak nyata PENINGKATAN TEST AKAN DIIKUTI PENINGKATAN KASUS. Dan PENINGKATAN KASUS akan diikuti dengan PENURUNAN PERTAMBAHAN HARIAN serta MENINGKATNYA JUMLAH KESEMBUHAN. Tampaknya kita sudah dijalan itu sekalipun kita TERLAMBAT BER-AKSI.

RENUNGAN 4 : Pencapaian sejumlah Negara dalam pengendalian Kasus, ditempuh dengan Strategi CERDAS Peningkatan jumlah TEST secara massif dan PENCEGAHAN PENYEBARAN di Masyarakat dengan menerapkan Pengetatan yang keras mulai dari LOCKDOWN hingga Pembatasan Sosial yang KETAT dan dengan Pengawasan yang sangat ketat.

BAGAIMANA IMPLEMENTASI KEBIJAKAN JAGA JARAK DAN #DIRUMAHSAJA ?

Kita masih melihat banyak toko, terutama kedai kaki lima atau warung yang buka dan banyak kerumunan orang disana.

Apalagi didaerah terminal Bus atau stasiun Kereta. Sementara itu kedai yang tutup khabarnya para karyawan pulang ke kampungnya. Diketahui ini menjadi penyebab meluasnya virus Covid-19 sampai ke Desa-desa di Kabupaten/Kota yang sudah mencapai 496 dari 514 Kabupaten/Kota se Indonesia.

Para ahli sepakat bahwa Virus Covid-19 sebagai makhluk super kecil (mikroba) hanya bisa hidup pada makhluk hidup yang dia tumpangi sebagai inangnya yaitu kita Manusia.

Manusialah tempat hidupnya dan Manusia jalan perpindahan virusnya.

Kita tidak punya pilihan lain, kita butuh PATRIOTISME untuk ikhlas #dirumahsaja.

RENUNGAN 5 : sesungguhnya MUSUH kita BUKAN covid-19 TETAPI MANUSIA itu sendiri. Sang Virus Covid-19 “hanya cari tempat bertahan hidup” di paru-paru nya manusia. Jadi Manusia lah yang membawa dan menyebabkan perpindahan virus antar Manusia. Terutama Manusia atau KITA yang “BANDEL dan SOMBONG” tidak disiplin menjalankan “PROTOKOL KESEHATAN”.

MANA AKSI PEMERINTAH ?

Ka BNPB selaku Ketua Gugus Kendali Percepatan dan Penanganan Virus Covid-19 telah memperpanjang masa kedaruratan hingga 29 Mei 2020, untuk memelihara KETAHANAN NASIONAL DIBIDANG KESEHATAN sebagaimana tujuan terbitnya Keputusan Presiden No.7 Tahun 2020.

Kebijakan ini harus menjadi satu kesatuan kebijakan dari Pusat hingga ke Daerah, kecuali dalam kegentingan tertentu, Presiden memberikan lampu hijau kepada Daerah untuk bertindak khusus.

Sudah saatnya seluruh perangkat Pemerintahan terbawah yaitu Desa dan Kelurahan diawasi Kecamatan dan diperkuat Kabupaten/Kota untuk secara langsung terjun di masyarakat. Bergerak dari lorong ke lorong, lingkungan ke lingkungan, dusun ke dusun, dari jalan ke jalan di wilayah masing-masing untuk secara aktif mensosialisasikan Kebijakan Pemerintah secara Konsisten, Aktif dan Terus-menerus 24 jam sehari, 7 hari seminggu hingga 29 Mei 2020 yang akan datang.

Maklumat Kapolri tidak menunggu pelanggaran, perlu diejawantahkan secara operasional bersama TNI, melalui penggerakan seluruh Babinsa TNI, Babinkamtibmas Polri, Satpol PP serta masyarakat.

RENUNGAN 6 : Tampaknya Pemerintahan dan Masyarakat belum sepenuhnya mendayagunakan ‘”kekuatannya” yang berlapis dan potensial untuk mengawal Kebijakan Pemerintah. Tidak tampak sinergitas dan tidak tampak pula Satu Kesatuan komando.

MASA KRITIS

Rasanya kita berada di fase kritis dan “injury time”. Perluasan Test dan Tracing, akan diikuti kenaikan pertambahan jumlah kasus yang sangat banyak, dan mungkin angkanya tidak terduga. Sementara ancaman Gelombang Kedua mengintai dan bisa fatal. Semua adalah Keniscayaan.

Berangkat dari Renungan 1 sampai Renungan 6 diatas SUDAH JELAS, yang kini harus kita lakukan PERANG TOTAL DENGAN STRATEGI 10 T, yaitu : Test Total, Trace Tuntas dan Treatment Terukur plus Tanggap Tangguh Tanpa Toleran.

6 T urusan Tim Medis, 4 T urusan Polri, TNI dan ASN.

HARAPAN PRESIDEN DAN HARAPAN INDONESIA

Presiden RI Joko Widodo, sudah memberikan pernyataan politik Dunia nya lewat Sidang Majelis Umum PBB kemarin 23 September 2020, Presiden Joko Widodo berpidato secara virtual pada Sidang Majelis Umum PBB ke-75. Dalam pidato berbahasa Indonesia itu Jokowi meminta PBB berbenah diri. Karena dunia sedang menghadapi banyak tantangan termasuk pandemi virus corona.

Dalam bahagian pernyataannya, Presiden mengatakan “Dunia butuh spirit kolaborasi dan kepemimpinan yang kuat. Kerjasama dalam penanganan Covid-19 dan dampak sosial ekonominya”

Saatnya Bapak Presiden berkenan memimpin langsung “Perang Total” mencegah dan menyelesaikan Dampak dan Akibat Penyebaran Virus Covid-19. Kita jadikan ini sebagai Prioritas Utama.

Banyak contoh sukses dari Negara lain, mereka juga bekerja Tanpa OBAT dan Tanpa VAKSIN, hanya menggerakkan Masyarakat dan Mengendalikan sebaran dengan Pengawasan ketat. Mereka Sukses.

#PADA AKHIRNYA PENEGAKAN HUKUM DAN KETERTIBAN YANG DIDUKUNG SEPENUHNYA OLEH KEPATUHAN DAN DISIPLIN MASYARAKAT AKAN SANGAT MENENTUKAN CEPAT ATAU LAMBATNYA KITA MENGHENTIKAN VIRUS COVID-19 DARI BUMI INDONESIA (kata penutup tulisan 26 Maret 2020)

Jakarta-Sunter,  24 September 2020 Dr.Abidin/ GOLansia.com

*) Dr.Abidinsyah Siregar,DHSM,MBA,MKes : Ahli Utama BKKBN dpk Kemenkes/ Mantan Deputi BKKBN/ Mantan Komisioner KPHI/ Mantan Kepala Pusat Promkes Depkes RI/ Alumnus Public Health Management Disaster, WHO Searo, Thailand/ Mantan Ketua MN Kahmi/ Mantan Ketua PB IDI/ Ketua PP IPHI/ Ketua PP ICMI/ Ketua PP DMI/ Waketum DPP JBMI/ Ketua PP ASKLIN/ Penasehat BRINUS/ Penasehat Klub Gowes KOSEINDO/ Ketua IKAL FK USU/ Ketua PP KMA-PBS/ Ketua Orbinda PP IKAL Lemhannas/ Pengasuh media sosial GOLansia.com dan Kanal-kesehatan.com

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: