BERANDA KOLOM OPINI

Ternyata Advocacy

     

Ternyata Advocacy

Oleh Firman Cecak

Berapa kali Anda pergi ke supermarket dalam sebulan? Barang apa saja yang Anda beli? Air mineral, susu anak, biskuit, atau sabun mandi?
Mungkin untuk barang barang yang jangka waktu konsumsinya pendek, Anda akan sering membeli karena stok di rumah habis. Namun, untuk barang yang jangka waktu konsumsinya lebih panjang, seperti sapu, piring, dan kursi, mungkin Anda harus menunggu sampai rusak dulu baru membeli yang baru.

Ada lagi barang yang sangat dipengaruhi oleh tren, seperti barang fashion, kosmetik, dan gadget, mungkin Anda juga tidak membelinya tiap bulan. Jika sudah bosan atau ada yang sedang tren, Anda akan pertimbangkan untuk membeli.

Dari situasi-situasi yang kita ceritakan di atas, apakah mungkin jika Anda hanya mengandalkan existing customer yang loyal terhadap Anda untuk menjamin bisnis Anda?
Bagaimana kalau bisnis Anda adalah menjual mobil? Mungkin Anda harus menunggu mereka membeli 5 tahun lagi karena mobilnya habis masa asuransi.

Loyalty tidak cukup lagi diartikan sebagai repeat purchase
Definisi loyalty telah mengalami pergeseran. Anda tidak hanya bisa mempertahankan existing customer untuk sustainable, tetapi akuisisi. Untuk bisa mengakuisisi, mindset Anda terhadap output.

Customer path tidak bisa lagi hanya sampai purchase, tetapi bagaimana customer yang sudah purchase bisa memengaruhi orang lain yang belum purchase dan menjadi existing customer Anda.

Anda harus mampu memotivasi existing customer untuk merekomendasikan brand Anda. Output yang ditarget adalah advokasi.

Jika customer tidak mampu mengadvokasi brand berarti bisnis Anda mungkin akan OK untuk jangka pendek, tetapi sulit untuk Sustainable di jangka panjang. Sekalipun untuk industri yang siklus konsumsinya pendek.

Facebook Comments

Tambah Komentar

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: