BERANDA KOLOM OPINI

Menyinari

Menyinari
     

Menyinari

Oleh : Drs.H.Ahmad Zacky Siradj/Ketua Umum IKALUIN/Ketua Umum PBHMI 1981-1983.

Kecuali terhalang gelapnya awan, mendung hitam yang menebal, yang sepertinya hujan sebentar kan membasahi bumi, sinar mentaripun tak seterang biasanya, walau memang selalu tetap setia menyinari bumi, dengan cahaya yang kosisten, tiada ada nampak berubah sedikitpun, menyinari alam semesta, tulus dan tetap berwibawa. Bagus sekali rangkai kata puisinya kanda dan siapa gerangan yang dimaksudkan dengan cahaya yang konsisten tiada berubah serta tulus dan tetap berwibawa itu…? Yah… adalah seseorang yang dibanggakan, …dalam pikiranku bila dijelaskan secara terang benderang bisa jadi pembicaraan, biarlah jawabannya demikian saja biar ia menebak-nebak, siapakah gerangan yang dimaksud, sebab bagaimanapun itu rahasia hati, yang mungkin setiap kita juga memiliki dambaan…yang tentu juga dirahasiakan…?

Ada seseorang yang berpandangan bahwa hidup itu dari gelap menuju gelap sehingga kehidupan itu sendiri adalah kegelapan, betulkah..? Mulai kita hidup dirahim seorang ibu dengan tiada cahaya yang menyinari, berkembangnya janin hingga ditiupkannya ruh pada badan kita berada dalam kebelapan, demikian pula kala ruh lepas dari jasad dan jasad kita masuk kealam kubur yang juga tanpa ada yang menyinari. Sesungguhnya aktifitas kita yang kita gelar dihamparan persada ini yang sejatinya dapat menyinari kegelapan hidup. Sering mengemuka ungkapan bahwa kenapa yah susana kehidupan kebangsaan kita seakan semakin meredup, walau tidak disebut gelap tapi jelas menyatakan bahwa sumber cahayanya tidak lagi menerangi sebagaimana mestinya atau kepemimpinan bangsa ini sepertinya tidak memancarkan kebijakan yang pro rakyat, melindungi rakyat, merawat agar rakyat sehat, tidak pas bila pemimpin beralasan karena maunya kekuatan-kekutan politik harus tetap melakukan pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah secara langsung, padahal kondisi sekarang ini relatif kurang kondusif karena harus menghidari dari kerumunan banyak orang.

Dengan tidak mengurangi komitmen negara yang menerapkan sistim demokrasi dan juga tidak menyalahi konstitusi yang memungkinkan pemilihan secara demokratis dalam arti yang luas, yang salah satunya dapat melalui dewan perwakilan rakyat daerah yang juga selama ini telah diberlakukan pada daerah khusus maka pilihan kepala daerah sangat dimungkinkan melalui dewan perwakilan rakyat daerah, hanya mungkin perlu aturan turunan dari konstitusi untuk menjadi payung hukumnya itu berupa peraturan perundang-undangan (perpu) saja, tapi semua in tentu kembali pada komitmen pemimpin untuk bagaimana menyinari kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan penuh kearifan sesuai dengan memperhatikan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi atau menundanya hingga memungkinkan dilaksanakan dengan tidak menanggung beban resiko yang berat.

Pemimpin

Pemimpin adalah sumber cahaya, sehingga ada ungkapan yang begitu masyhur bahwa dalam suatu negara bangsa atau dalam organisasi-organisasi, juga pada kelompok-kelompok masyarakat sering mengemuka ungkapan bahwa jangan sampai ada matahari dua, artinya ada dua pemimpin yang sama-sama memiliki perngaruh yang kuat dan sama-sama kharismatik, apabila kehadirannya itu sejalan mungkin tidak terlalu bermasalah, bisa saling mengisi dan sinergi akan menjadi kekuatan dahsyat, karena itu harus ada pembagian tugas yang jelas agar dapat saling mengisi dan melengkapi. Tapi kita juga mencatat bahwa sejarah kepemimpinan bangsa ini mengenal istilah kepemimpinan dwitunggal, dua adalah satu, bila rukun tentu penguruhnya akan positif, tetapi bila berbeda pandang bahkan bersebrangan, boleh jadi rakyatlah yang dipertaruhkan, yang menjadi korban perseteruan diantara keduanya, yang pada gilirannya dapat memperlemah kepemimpinan negara bangsa. Dan sejarah membuktikan bahwa umur kepemimpinan dwi tunggal ini relatif hanya sebentar…

Dengan demikian maka menyinari hidup tidak harus selamanya dari cahaya, tetapi cahaya memang sejatinya menyinari, menerangi hingga sekeliling nampak indah berseri. Seseorang boleh jadi sebagai sumber cahaya, dan kita masing-masingpun merupakan sumber cahaya, sebab kebaikan kebajikan itu datang dan memancar dari setiap orang sehingga sekaligus menyinari pula setiap orang, dengan demikian masing-masing kita bisa menyinari baik pada diri sendiri juga pada sesama, orang lain, saling mencerahkan dan mencerdaskan, saling memberi dan menebar kasih sayang, kemudian mampu merambatkan kejujuran dan sikap adil diantara kita dan sesama, keadaan seperti ini bila tumbuh dan berkembang pada suatu era kehidupan maka kemudian disebut dengan era elightmen, zaman pencerahan, yang mencerahkan dan menyinari berbagai aspek kehidupan.

Demikian pula ajaran agama hadir tiada lain adalah untuk menyinari kehidupan, sehingga bila agama menjadi anutan ummat manusia karena memang ada kesamaannya sebagai sama-sama sumber cahaya, manusia dengan kecenderungan fitrahnya sementara agama memberi jalan bagi berkembangnya fitrah tersebut, baik sinar yang terpancar dari utusan-Nya (nabi dan rasul), sebagaimana digambarkan ibarat lentera kehidupan yang menyinari hati (anta misbahush shuduri), maupun dari maha sumber cahaya yakni tuhan satu-satunya yang menyirari seluruh jagad alam raya (Allahu nurus samawati wal ardhi…) Wa Allahu a’lam. (azs, 2292020).

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: