BERANDA KOLOM OPINI

Dialog

Dialog
     

Dialog

Oleh : Edhy Aruman

Hajinews.id. “Tak seorang pun dilahirkan untuk membenci orang lain karena warna kulit, latar belakang, atau agamanya. Orang harus belajar membenci, dan jika mereka bisa belajar membenci, mereka bisa diajari untuk mencintai, karena cinta datang secara alami ke hati manusia bukan sebaliknya.”
Nelson Mandela, Long Walk to Freedom

Ketika pada akhirnya pengadilan memutuskan Nelson Mandela tidak bersalah pada Maret 1961, pemerintah Perdana Menteri Hendrik F. Verwoerd (arsitek dan ahli ideologi terkemuka apartheid) marah.

Dia bereaksi dengan melipatgandakan tekanan terhadap warga kulit berwarna. Warga kulit hitam semakin dimarjinalkan. Peraturan pun dia langgar.
Mandela pemimpin kulit hitam yang diincar tak merespons amarah sang perdana menteri dengan kemarahan. Mandela malah mendekati pemerintah. Dia mengajak berdialog tokoh apartheid itu. Alih-alih menerima baik ajakan berdialog, pemerintah apartheid justru memgurung Mandela di penjara.

Mandela seakan dipaksa mengkaji ulang stratgi perjuangannya karena pada titik tertentu belum memberikan hasil positif bagi warga kulit hitam. Dilemma pun muncul. Mandela harus menentukan pilihan, damai atau perang.

Pertengahan 1961, Mandela mulai sadar bahwa taktik anti-kekerasan telah gagal. Tekadnya sekarang melawan pemerintah apartheid. Mandela memimpin sayap gerilyawan ANC (African National Congress), yang mendapat julukan Umkhonto Kita Sizwe (Tombak Bangsa) melakukan perlawanan bawah tanah.

Sumber : Edhyaruman.com

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: