BERANDA KOLOM OPINI

STOP Abai!

STOP Abai!
     

STOP Abai!

Oleh : Neno Arif ( Istri REKTOR IPB )

Sudah lebih dari 6 bulan, kita dihebohkan dengan kehadiran ‘tamu mikroskopis’ yang bernama Miss Corona. Antara Miss atau Mas gak jelas juga sih secara bangsa virus tidak mengenal gender. Kelakuan virus mungil kecentilan ini memang sungguh menjengkelkan, karena dengan santainya dia bisa menclok kesana kemari, bahkan tanpa permisi ikut nebeng bepergian melanglang buana. Keberadaannya yang tidak kasat mata membuatnya leluasa menyelinap kemanapun tanpa disadari, berkenalan dengan berbagai kalangan tanpa membedakan kasta, jabatan dan status sosial. Andai saja kelihatan, pasti sudah dipites rame-rame dan diunyeng-unyeng.. Salah virusnyakah? Bukankah sebagai makhluk dia juga punya hak hidup, berkembang biak dan bersosialisasi? Mungkin caranya saja yang keliru, bertandang ngajak kenalan kok gak pake unggah-ungguh. Yaa..mohon maklum, si virus kan gak pernah sekolah jadi wajar jika tidak tahu norma dan etika. Sehingga yang sebenarnya dituntut untuk lebih pintar menyikapi adalah kita-kita ini yang ngaku-ngakunya makan bangku sekolahan.

Secara logika, orang sekolahan harusnya lebih mudah diajak bicara, lebih mudah memahami persoalan dan lebih bisa berfikir secara rasional. Jadi masalah ‘tamu tak diundang’ ini secara teori seharusnya mudah sekali penyelesaiannya, karena kuncinya ada pada diri kita. Namun mengapa kasus ini tak kunjung mereda, bahkan makin menggila? Padahal pemerintah telah melakukan berbagai upaya mulai dari program-program yang bersifat persuasif, preventif, represif sampai dengan kuratif. Usut punya usut ternyata faktor ‘abai’ punya andil besar dalam memperparah keadaan. Abai, mengabaikan, tidak peduli, menganggap remeh, mengecilkan persoalan, adalah sikap yang sering dipertontonkan oleh orang-orang yang jelas-jelas melanggar protokol kesehatan. Menolak pake masker dengan alasan ‘engap’, melepas masker karena merasa yang ditemui adalah teman-teman yang dikenalnya cukup baik, kongkow, kumpul-kumpul diluar bersama kerabat atau sahabat dengan alasan stress kelamaan di rumah. Alhasil lupa tuh sama yang namanya jaga jarak. Cuci tangan? Kalau inget. Belum lagi segudang alasan pembenaran yang sering dilontarkan, “sudahlah, jangan pelihara takut dan cemas secara berlebihan, asal kita santai, bahagia dan gak takut, virusnya juga gak akan nyerang kita kok..”

Hellloooo…!!!

Sadarkah bahwa sikap abai yang dipertontonkan tersebut bisa membahayakan dan berakibat fatal bagi orang lain? Bahkan pada orang yang sangat patuh protokol kesehatan sekalipun. Mengapa demikian? Karena keberadaan virus ini terkait erat dengan imunitas yang tentunya berbeda pada masing-masing orang. Bersyukur jika kita memiliki pertahanan tubuh yang kuat, tapi bagaimana dengan kerabat, sahabat, tetangga dan orang lain yang barangkali tidak sekuat kita? Masihkah kita egois, bersikap jumawa gegara saat ini masih ‘terlindungi’ meskipun kerap kluyuran dan klayaban kemana-mana? Pengen ngerasain ‘disandera’ miss corona dulu baru sadar gitu? Mau?

Yuukk… STOP Abai!

Kita memang tidak perlu merasa takut atau cemas secara berlebihan, tapi bukan berarti juga kemudian cuek gak ketulungan. Karena bagaimanapun juga kecemasan yang rasional jauh lebih baik daripada optimisme yang tidak realistis. Kecemasan yang rasional adalah perasaan takut yang dibarengi dengan pemahaman terhadap resiko dan kesadaran akan pentingnya membuat pertahanan diri. Wajar jika kita merasa cemas, kawatir bahkan takut, karena realitanya virus ini sungguh berbahaya. Virus ini telah berhasil memporak-porandakan tatanan kehidupan dunia secara signifikan. Dengan memahami resikonya, kecemasan tersebut diharapkan dapat mendorong kita untuk merubah perilaku menjadi lebih hati-hati dan patuh pada anjuran protokol kesehatan. Sebaliknya, optimisme yang tidak realistis adalah pemahaman yang hanya berpegang pada prinsip yang penting berfikir positif, be happy, santuy aja dan nikmati hidup. Pemahaman seperti ini hanya akan menciptakan ‘rasa aman palsu’, yang berakibat pada sikap nggampangin, ceroboh dan abai.

Perhelatan ujian akbar dari yang Maha Kuasa masih belum berakhir. Atas ijinNYA miss corona dihadirkan untuk menyapa seluruh warga bangsa di dunia tanpa kecuali. Mampukah kita lulus melewati ujian ini? Semua tergantung pada seberapa besar upaya yang diikhtiarkan bersama. Kesadaran kolektif terhadap protokol kesehatan sebagai wujud pertahanan diri penting untuk dibangun. Jika semua orang patuh untuk senantiasa menggunakan masker, rajin cuci tangan, istirahat cukup, makan makanan bergizi, olah raga, serta tidak keluyuran dan kumpul-kumpul yang gak penting, maka Insya Allah kita bisa mengurangi bahkan menghentikan laju penyebaran virus ini. Semoga yang Maha Kuasa memampukan kita menyelesaikan soal-soal ujian yang tersaji, sehingga perhelatan ujian akbar ini dapat segera dilalui.

STOP Abai!
Kepedulian kita adalah kunci keselamatan dunia.

Catatan Diri :
Doa terbaik untuk suamiku tercinta yang tengah dipilih memerankan salah satu episode ‘drama kolosal’ virus corona ini. Tidak ada satupun hal yang diijinkan terjadi atas diri kita tanpa satu maksud yang baik. Barangkali Allah ingin mengajarkan kepada keluarga kita akan arti mencintai tanpa syarat. Allah ingin menunjukkan betapa kita mempunyai begitu banyak sahabat baik yang tulus menyayangi dan memberikan dukungan. Oleh karenanya kita diingatkan untuk menebar lebih banyak lagi kebaikan untuk orang lain. Insya Allah, dengan doa-doa baik sahabat kita, Allah akan segera memberikan kesembuhan, karena Allah ingin kita menuntaskan seluruh amanah yang kita emban saat ini dengan hasil

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: