BERANDA DAKWAH OPINI UTAMA

Hijrah: Dari Nafsu Amarah ke Nafsu Kamilah

hijrah kamilah
     

Oleh HM. Sukiman Azmy

Ketua IPHI NTB, Bupati Lombok Timur

Dalam sebuah riwayat yang masyhur kita jumpai bahwa pada saat kembali dari perang Badar Kubra, Rasulullah Saw bersabda; “Kita kembali dari perang yang kecil menuju perang yang besar”. Para Sahabat bertanya; “Manakah perang yang besar itu ?”. Rasulullah menjawab; “Perang melawan hawa nafsu”. Allah Swt berjanji kepada orang yang dapat menahan nafsunya itu dengan; “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya”. QS. An-Nazi’at (79); 40-41

Manusia terdiri atas dua unsur, yaitu jasmani dan rohani. Unsur rohani dilengkapi dengan empat organ, yaitu ruh, akal, qalbu dan nafsu. Nafsu adalah organ rohani manusia  yang memiliki pengaruh paling banyak dan paling besar diantara tiga organ lainnya  dalam mengeluarkan instruksi kepada jasmani untuk melakukan suatu tindakan  yang mengarah kepada  takwa atau durhaka. Dalam literatur tasawuf, nafsu dikenal memiliki delapan katagori, yaitu;

(1) Nafsu Amarah;  yaitu kekuatan pendorong naluri sejalan dengan nafsu yang cenderung kepada keburukan. Nafsu pada katagori ini belum mampu membedakan yang baik dan yang buruk, belum dapat mempertimbangan antara manfaat dengan mafsadat (kerusakan), semua yang bertentangan dengan keinginannya dianggap musuh, sebaliknya setiap yang sejalan dengan kemauannya adalah karibnya. Dalam tindakan nyata dapat terlihat selalu khianat, enggan menerima nasihat dan saran, dan sebaliknya gembira menerima bisikan iblis dan setan yang menunjukkan jalan buruk dan terkutuk.

(2) Nafsu Lawwamah;  yaitu nafsu seseorang  yang telah melakukan perbuatan buruk, lalu mempunyai rasa insaf dan menyesal. Ia tidak berani melakukan pelanggaran secara terang-terangan karena telah menyadari akibat dari perbuatannya, namun dia belum mampu mengekang nafsu yang membawanya kepada perbuatan  buruk itu.

(3) Nafsu Musawwalah;  yaitu nafsu seseorang yang telah mampu membedakan antara yang baik dengan yang buruk namun dia tetap melakukan sesuatu yang buruk disamping melakukan yang baik. Dia lakukan yang buruk secara sembunyi-sembunyi karena malu kepada orang lain yang akan mengetahui kejahatan atau keburukan yang dilakukannya. Katagori ini masih berada pada posisi dekat dengan keburukan karena Allah Swt secara jelas melarang manusia untuk mencampur adukkan yang hak dengan yang batil (QS. Al Baqarah (2); 42).

(4) Nafsu Muthma’innah;  yaitu nafsu yang telah mendapatkan tuntunan dan pemeliharaan yang baik. Ia mendatangkan ketenteraman jiwa, melahirkan sikap dan perbuatan yang baik, mampu membentengi diri dari serangan kekejian dan kejahatan, mampu menghindar dari godaan, telah mapan dan tidak terganggu lagi oleh gairah sehingga dapat secara khusyuk menjalani kehidupannya sebagai seorang muslim. Allah Swt menggambarkannya dengan; “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjdi tenteram”. QS. Ar-Ra’d (13); 28

(5) Nafsu Mulhamah; yaitu nafsu yang memperoleh  ilham (petunjuk) dan ilmu pengetahuan dari Allah Swt. Orang-orang yang telah berada pada fase ini memiliki akhlak yang terpuji, sabar dan memiliki kepribadian yang kuat dan istikamah dalam ketaatannya. Allah Swt menjelaskan: “Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan) Nya. Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketaqwaannya. Sungguh beruntung orang-orang yang menyucikan (jiwa) itu. Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya”. QS. Asy-Syams (91); 7-10

(6)  Nafsu Radiyah; yaitu nafsu rida dan selalu bersyukur atas karunia yang dia terima dari Allah Swt. Nafsu ini akan membawa orang kepada rida  melaksanakan perintah dan ikhlas dalam menjauhi larangan, serta senantiasa qana’ah  atau merasa cukup dengan pemberian Allah Swt. Dia menyadari benar; “Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, “sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka pasti azabKu sangat berat”. QS. Ibrahim (14);7.

(7) Nafsu Mardiyah; yaitu nafsu yang telah mencapai ridha Allah Swt. Keridaan itu terlihat pada anugerah yang diberikan-Nya berupa keinginan untuk senantiasa berzikir, ikhlas, mempunyai karomah, memperoleh kemuliaan yang universal dari Allah Swt.  Dia yakin betul atas kuasa Allah Swt yang jika Dia memuliakannya maka tidak akan ada yang dapat menghinakannya, demikian pula sebaliknya jika Dia menghinakannya maka tidak akan ada yang dapat memuliakannya. Allah Swt berfirman; “Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah kedalam surga-Ku”. QS. Al-Fajr (89); 27-30

(8)  Nafsu Kamilah; yaitu nafsu yang telah sempurna bentuk dan dasarnya, sudah dianggap cakap untuk mengerjakan irsyad (petunjuk) dan menyempurnakan penghambaan diri kepada Allah Swt. Orangnya disebut mursyid atau mukammil atau insan kamil, yang dalam pengalaman para sufi telah mencapai tajalli (terbuka, tak bertabir). Dalam taraf ini jiwa orang itu telah amat dekat, bahkan mereka sudah merasakan diri “menyatu” dengan Allah Swt.

Semoga dengan bertambahnya usia, kita dapat hijrah dari nafsu amarah menuju nafsu mutma’innah, yang pada akhirnya insya Allah akan membawa kita pada nafsul kamilah. Wallahu a’lamu bishshawab.

 

 

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: