AL-QURAN BERANDA DAKWAH USTADZ

Tafsir Al-Quran Surat Shad Ayat 45-47

Tafsir Al-Quran Surat Shad Ayat 45-47
     

Tafsir Al-Quran Surat Shad Ayat 45-47

Oleh : KH Didin Hafidhuddin

Disarikan oleh Prof. Dr. Bustanul Arifin

1. Alhamdulillahi rabbil alamin. Kita berjumpa lagi secara virtual, pada hari Ahad, tanggal 3 Shafar, yang bertepatan dengan 20 September 2020, dalam rangka menlanjutkan kajian kita Tafsir Al-Quran. Insya Allah pagi ini kita akan membahas Surat Shad Ayat 45-47. Kita awali dengan membaca Ummul Kitab Al-Fatihah, kemudian kita baca bersama ayat-ayat Al-Quran tadi. Terjemahannya adalah sebagai berikut. “Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak dan Yaqub yang mempunyai kekuatan-kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu (yang tinggi). Sungguh, Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan) akhlak yang tinggi kepadanya yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sungguh, di sisi Kami mereka termasuk orang-orang pilihan yang paling baik”. Pada ayat-ayat ini Allah mengingatkan kepada Rasulullah SAW, bahwa pada diri hamba-hamba Allah: Nabi Ibrahim AS, Nabi Ishak AS dan Nabi Yaqub AS merupakan orang-orang pilihan dan suri tauladan atau uswatun hasanah, karena telah dikaruniai kekuatan dan ilmu pemhetahuan. Sesungguhnya mereka itu sebagian dari orang-orang yang dipilih Allah orang baik dan sangat indah kelakuannya. Uswah hasanah tentu juga disematkan pada pribadi Rasulullah Muhammad SAW, yang senantisa mengajarkan bahwa dalam mengarungi kehidupan ini kita senantiasa mengharap ridha Allah, bukan yang lain, apalagi sesama makhluq.

2. Allah SWT juga menjelaskan tentang uswatun hasanah pada diri Nabi Ibrahim AS dan para pengikutnya dalam Surat Al-Mumtahanah Ayat: 4-6, yang artinya adalah: “Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja,” kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya, “Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu.” (Ibrahim berkata), “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal dan hanya kepada Engkau kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau yang Maha perkasa, Maha bijaksana. Sungguh, pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) terdapat suri teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian, dan barangsiapa berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahakaya, Maha Terpuji.” Rasulullah SAW senantiasa mengajarkan hal tersebut kepada para sahabatnya, sehingga para sahabat Nabi SAW juga menjad contoh atau pribadi teladan yang baik, karena Rasulullah SAW juga menyampaikan bahwa “Sahabat-sahabatku adalah orang dan tauladan yang baik”. Implikasinya bagi kita adalah bahwa tidak perlu ada kelompok masyarakat yang gemar mencacai Sahabat Nabi SAW, yang tentu bukan bagian dari ajaran islam. Kita mengikuti ajaran sahabat yang mana pun dan siapa pun, insya Allah kita kan meendapatkan hidayah Allah SWT. Ketiga Nabi Allah dalam Surat Shad 45-47 di atas (Nabi Ibrahim AS, Nabi Ishak AS dan Nabi Yaqub AS) mempunyai kekuatan dan kekuasaan yang ditopang dengan akhlaq yang mulia. Kekuatan ini menjadi sangat penting dalam menegakkan agama Allah. Rasulullah SAW juga bersabda, “Orang mu’min yang memiliki kekuatan jauh lebih baik dari orang mu’min yang lemah. Orang mu’min yang bermutu jauh lebih baik dan lebih dicintai Allah SWT daripada orang mu’min yang lemah. Ingat, Allah SWT tidak pernah memberikan kemenangan kepada kaum mu’minin karena jumlahnya, tapi lebih banyak karena kualitasnya. Pada Perang Badar, jumlah tentara mu’min hanya 300, sementara tentara Kafir Quraisy berjumlah sekitar 1000 orang atau 3 kali lipat dari tentara kaum mu’minin.

3. Kekuatan kaum mu’minin bersumber dari 3 sumber berikut ini: (1) Kekuatan dalam beribadah, beribadah kepada Allah dalam shalat, dalam sujud dan doa. Sujud itu adalah bentuk ibadah dan kepatuhan yang mutlak kepada Allah. Sujud itu hanya untuk Allah, bukan untuk yang lain. Ketika iblis diperintah untuk sujud kepada Nabi Adam AS, sebenarnya itu bukan bentuk penghambaan, tapi suatu bentuk penghormatan. Tapi, hal ini pun iblis tidak mau melakukannya, karena kesombongan dan ketakabburannya, meras lebih tinggi dan lebih mulia dari Nabi Adam AS yang diciptakan dari tanah, sementara iblis diciptakan dari api. Kekuatan dalam beribadah ini adalah bahwa kita dianjurkan untuk memperpanyak sujud kepada Allah dan karena Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Kalian ini tidak bersujud, kecuali Allah mengangkat derajat-nya satu tingkat”. Betapa luar baiasanya manfaat sujud. Hadist yang lain menerangkan bahwa, “Yang paling dekat posisi seorang hamba dari Allah SWT adalah ketika bersujud. Maka perbanyaklah bermohon doa kepada Allah, kesalamatan dunia dan akhirat”. Selanjutnya, Hadist Rasulullah SAW adalah, “Doa yang paling utama adalah permohonan kepada Allah tentang pengampunan, keselamatan, kesehatan jasmani dan rohani, di dunia dan akhirat”. Betapa pentingnya kesehatan, apalagi sekarang pada masa pandemi Covid19 ini. Contoh-contoh ikhtiar diri dengan menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan adalah upaya-upaya untuk menjaga kesehatan dan keselamantan dini dan masyarakat. Mari kita manfaatkan momentum ini untuk mendekatakna diri kepada Allah dengan memperbanyak sujud atau beribadan kepada-Nya.

4. Sumber kekuatan kaum mu’minin adalah (2) Kekuatan dalam ilmu yang luar biasa. Islam adalah ajaran yang tidak dapat dipisahkan dari ilmu. Di mana ada umat islam, di sana pasti ada majelis ilmu. Rasulullah SAW bersabda, “Jadilah Anda yang mencintami ilmu, mempelajarinya, mendengarkannya, atau menyampaikanya. Jangan jadi yang kelima, yang tidak belajar ilmu”. Membaca dan menulis adalah alat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Ilmu tidak akan pernah berkembang jika tidak pernah membaca dan menulis. Ilmu yang mengantarkan kita untuk mengetahui hal-hal yang bermanfaat. Ingat ayat-ayat pertama Al-Quran yang turun kepada Rasulullah SAW adalah Surat Al-Alaq, yang memerintahkan “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”. Ayat-ayat Allah yang tersurat dan yang tersirat dari alam semesta. Bacalah basis ilmiah tentang Covid19 ini, yang sebenarnya juga menunjukkan tanda-tanda atau ayat-ayat kekuasaan Allah, supaya menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Dalam agama islam hal ini ada ilmu yang bersifat fardu ain, sehingga mempelajarinya menjadi tanggung jawab individu muslim agar menjadi kepribadian dan sosok muslim yang baik. Tapi, ada juga ilmu ada yang bersifat fardu kifayah, yang mengarah pada kemasalahatan ummat. Mempelajari ilmu-ilmu yang penting tersebut menjadi tanggung jawab masyaraakat atau komunitas bertanggung jawab untuk mengembangkannya. Misalnya, ilmu tentang alam semesta, tentang kesehatan, kedokteran, tentang pertaina dll. Kita diperintahkan untuk menulis, berbagi dan menyampaikan sesuatu tentang ilmu yang telah diketahui, Ingat, jika tanpa ilmu, maka tidak akan ada kemuliaan. Ayat Al-AQuran dalam Surat Al-Mujadalah Ayat 11 yang sanagt terkenal itu, “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan”. Itu ada tiga hal yang terkait, yaitu pertama Adab (akhlaq) dalam mencari ilmu, yang kedua iman dan yang ketiga adalah ilmu.

5. Sumber kekuatan ketiga kaum mu’minin adalah (3) Adab atau akhlaqul karimah seperti disebutkan sepintas di atas, khususnya dalam mencari ilmu. Akhlaq dalan mencari ilmu menjadi sangat perlu. Bahkan ada pendapat dari Naqib Al-Attas sekarang ini, termasuk di dunia kampus di dunial ilmu pengetahuan adalah “the lost of adab” adalah hilangnya adab atau akhlaq. Bahkan, banyak pendapat yang menunjukkan bahwa adab atau akhlaq perlu dibangun sebelum belajar tetnang ilmu. Bayangkan jika dalam perguruan tinggi sudah kehilangan adab atau akhlaq, itu menjadi amat bahaya. Agama itu adalah akhlaq yang baik. Tidak mungkin kita menjadi muslim yang baik, tanpa akhlaq yang baik. Jika hilang akhlaq, maka akan hilang manfaat-manfat yang lain yang diperoleh melalui ilmu pengetahuan. Semua perlu dibingkai oleh akhlaq. Oleh karena itu mari kita bangun kembali akhlaq dan etika yang membingkai kehidupan berinadah dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Kita bagun kembali dan menghadirkan kembali kekuatan akhlaq yang baik dalam kehidupan rumah tangga, dalam pekerjaan, dalam kampus, dalam kehidupan organisasi dan lain-lain. Tidak akan ada manfaatnya kekuasaan yang kadang harus dicari dan diperebutkan dengan cara-cara tidak mudah itu jika tanpa akhlaq yang baik. Tidak ada manfaatnnya kekakyaan dan harga yang ditumpuk sedemikian rupa jika tidak dibingkai dengan akhlaq yang baik. Banyak ahli yang berpendapat bahwa cepatnya perkembangnya islam pada Abad Pertangahan sampai ke sepertiga dunia dalam hanya satu abad adalah karena dua hal: (1) ajarannya mudah dipahami, masuk akal, reasonable dan (2) akhlak yang mulia oleh para pembawanya atau para pendakhwan yang mengembangkannya. Orang banyak akan menilai suatu ajaran itu setelah melihat akhlaq dari pembawanya. Siti Aisyah RA pernah ditanya oleh para sahabat tentang bagaimana sebenarnya akhlaq Rasulullah SAW itu. Siti Aisyah RA dengan tenang menjawab, “Akhlaq Rasulullah SAW adalah adalah Al-Quran”. Tindak-tanduk dan peragainya bersumber dari ajaran Al-Quran. Rasulullah adalah Al-Quran atau The Living Quran, dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita tingkatkan akhlaq kita sendiri, anak-anak sebagai penerus perjuangan, untuk senantias menjunjung adab dan etika dalam pergaulan dan kehidupan sehari-hari.

6. Sebagai penutup pada kajian kita pagi ini, sumber kekuatan kaum mu’minin itu ada tiga: Kekuatan dalam beribadah, kekuatan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan kekuatan dalam adab dan akhlaq yang mulia. Jadikan kebiasaan kita untuk mengeluh hanya kepada Allah SWT, terutama hal-hal yang kita tidak sanggup untung menanggungnya sendiri. Kisab Nabi Ayyub AS pada pekan lalu telah mengajarkan tentang kesabaran yang luar biasa, jika kita ditimpa suatu musibah, dan diikuti keimanan kepada Allah SWT. Mari kita kembalikan semuanya kepada Allah SWT. Banyak mengeluh tidak akan memecahkan masalah. Jika Saudara-suadara saat ini sedang sakit, mari kita doakan agar sembuh dan kembali sehat seperti sedia kala. Menanggapi pertanyaan jamaah tentang posisi ummat islam menjadi lemah, hal itu merupakan masalah kita bersama, karena kita kaum muslimin kadang tidak bersatu padu, khususnya dalam upaya “menyatukan hati” dengan meningkatkan keimaman. Bahkan ada orang yang membuat organisasi, justeru hal itu menjadi sumber perpecahan. Misalnya, kita semua diperintahkan untuk saling mengingatkan, untuk menjaga protokol kesehatan, demi kepentingan bersama yang lebih luas. Misalnya, kita pergi ke masjid dengan memakai masker, adalah salah satu ta’liful qulub, agar terjalin persaudaraan dan soliditas yang sangat tinggi. Contoh persahabatan yang paling tinggi dan paling agung adalah persahabatan kaum muhajirin dan kaum anshar di Madinah pada awal-awal Rasulullah SAW membangun peradaban ummat. Dalam konteks kekinian, ummat islam perlu menjadi perlopor yang kuat dan tidak mudah menghad-adu domba serta tidak mudah diadu domba.

7. Kita perlu melakukan transformasi dalam membiasakan untuk beribadah, dari kewajibaan menjadi kebutuhan. Walaupun ngantuk-ngantuk kita tetap butuh dan mendengarkan pengajian. Ingat, para malaikat senantiasa mendoakan dan membangga-banggakan kaum muslimin yang melaksanakan suatu majelis ilmu, majelis taklim. Ilmu yang dimanfaatkan itu dapat menjadi shadaqah jariyah., bersama dengan anak shaleh yang senantiasa mendoakan orang tuanya, yang pahala senantiasa mengalir, sepanjang ilmu itu bermanfaat. Mari kita bangun kebersamaan dan kejamaahan di kalangan ummat islam, setidaknya dimulai dari kompleks, tetangga, maksudnya untuk memenuhi hak-hak tetangga. Kita diperintah untuk berbuat baik kepada tetangga, kepada warga, dan lain-lain, yang kelak akan menjadi kebaikan pada tingkat makro yang lebih luas. Kita doakan para pemimpin untuk senantiasa diberi hidayah dalam menjalankan amanah yang diembannya. Kita juga doakan para pemimpin dan jamaah sekalian yang kini sedang ditimpa musibah, yang dicoba dengan ujian kesehatan. Kita doakan Pak Rektor IPB Professor Arif Satria dan para jamaah sekalian agar senantiasa diberikan kesembuhan dan kesehatan yang baik. Mari kita membaca Ummul Kitab “Al-Fatihah”. “Allahumma rabban naas, mudzhibal ba’si, isyfi antasy-syaafii, laa syafiya illaa Anta, syifaa’an laa yughaadiru saqaman”. Mati kita tutup dengan doa kifarat majelis. Subhaanaka Allahumma wa bihamdika, asy-hadu a(n)l la ilaha illa anta, as-taghfiruka wa atuubu ilaik’ (Mahasuci Engkau, wahai Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku meminta ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu. Mohon ditambahi dan disempurnakan oleh para jamaah yang kebetulan tadi mendengarkan langsung Talim Professor Didin Hafidhuddin. Terima kasih, semoga bermafaat. Mohon maaf jika mengganggu. Salam. Bustanul Arifin

Facebook Comments

Tambah Komentar

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: