BERANDA DAKWAH OPINI

Merajut

merajut
 

Merajut

Oleh : Drs.H.Ahmad Zacky Siradj/Ketua Umum IKALUIN/Ketua Umum PBHMI 1981-1983.

Sedang ngapain kawan, duduk sendirian, kelihatannya seperti ada yang mau segera diputuskan, iya saya ini agak sedikit gelisah, rasanya semua jurus sudah saya gunakan dalam merajut cintaku dengannya, tapi kelihatannya ia seperti tidak yakin bahwa saya ini sunguh-sungguh mencintainya, apa perlu bantuan biar kutanya dia tentang perhatiannya pada anda, boleh juga usulmu itu, tapi janganlah dalam persoalan ini, saya akan berjuang dengan kemampuan saya sendiri, siapa tahu ada ilham hingga menemukan jurus baru dalam merajut cinta dengan kekasih yang ku idam-idamkan, yang sudah begitu kama terjalin, sejak masuk kuliah dan setahun lagi kami akan berwisuda bersama. Merajut cinta seangkatan banyak liku-likunya, adakalanya seperti baru kenal saling berpandangan diruang kuliah tapi ada kalanya pula seperti pasangan suami istri, manggilnya papah mamah terutama ketika menghadiri pesta pernikahan teman, tapi beberapa bulan berselang ini seperti ada kesenjangan yang tiada berujung, tapi ya…semoga saja cepat tertanggulangi walau relatif berat, bagai membendung tanggul yang akan rubuh, karena arus air yang begitu deras…memang dibutuhkan upaya untuk terus merajut kasih sayang (watawa shawbil marhamah).

Jari jemari yang lentik mungil putih, begitu trampil memutar benang diantara bolak baliknya jarum yang menusuk diantara celah benang yang sedang dalam proses membentuk sesuatu, saking lihai dan teampilnya sehingga tidak takut tertusuk tajamnya jarum, malah saking super kilatnya sehari ia merajut menghasilkan sebuah taplak meja tamu. Itupun disela-sela tugas kesehariannya baik dikantor maupun dirumah. Kepandaian merajut ini adalah diajarkan neneknya dulu. Memang sepuh-sepuh dulu kala masih remaja usia sekolah, ada yang meneruskan sekolahnya ke sekolah kepandaian putri/skp, mungkin sekolah ini hadir karena kaum hawa ingin mandiri, atau paling tidak memiliki kepandaian untuk membantu pengasilan suaminya, ada semangat kebangkitan perempuan, akan tetapi bersamaan dengan isyue hak asasi manusia sekitar tahun tujuh puluhan sepertinya sekolah kepandai putri ini mulai meredup dan hilang lenyap dari peredaran dan sejak inilah semua jenjang sekolah bisa dimasuki putri maupun putra termasuk untuk memiliki kepandaian khusus…

Demikian pula dalam kehidupan bermasyarakat harus pandai merajutnya, agar hidup penuh dengan saling menghargai menghormati sehingga dapat membangun kebersamaan dan saling tolong menolong, walau disadari diakui pula sebagaimana ungkapan bahwa bambu serumpun bergesekan dengan temennya juga, karena itu dalam merajut sosial saling memaafkan merupakan jalan kearah kemulyaan. Semua kecenderungan yang baik tersebut tidak terlepas dari peran aktif anggota masyarakatnya dan lahirnya peran ini karena ada yang pandai merajutnya, sementara kepandaian merajutnya itu diperankan oleh pemimpin masyarakat, para elit terpelajar, para pemimpin bangsa, sehingga bangsa ini sanggup dan mampu berdiri tegak sekurang-kurangnya nampaklah kedaulatannya dan kemandiriannya, tidak lagi didikte atau diintervensi kebijakan-kebijakannya oleh negara bangsa lain, tidak bisa lagi dikendalikan oleh orang-orang kaya yang berpengaruh karena menguasai aset ekonomi dalam negeri.

Diakui memang ada upaya dan usaha masyarakat sendiri yang merajut dari bawah (bottom up) atau yang sering disebut dengan gerakan lembaga swadaya masyarakat atau yang juga populer disebut dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan yang mampu merajut kohesif sosial dan meng-engeneringnya hingga bukan saja gerakan dan aktifitasnya itu ditujukan untuk mewujudkan tujuan organisasinya, tetapi juga untuk mengisi apa yang menjadi tujuan dan cita-cita negara bangsa ini, artinya sepak terjangnya selama ini sejalan senafas pula dengan cita-cita berbangsa dan bernegara, sebagaimana yang termaktub dalam pembukaan konstitusi, yaitu bagaimana mewujudkan negara bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Bila kita memperhatikan phenomena yang ada yang hidup dalam keseharian kita, maka nampak jelas tentang bagaimana sesungguhnya peran agama dalam merajut keanekaan adat dan budaya, yang terbukti misalnya dengan dianutnya agama di berbagai daerah yang memiliki latar belakang adat istiadat dan budaya-budaya suku-suku bangsa yang satu sama lain mempunyai perbedaan maka agama dalam hal ini telah mampu berhasil merajutnya tanpa kemudian setiap pemangku kepetingan dari budaya-budaya tersebut merasa terasingkan. Hal ini sepertinya pula karena memang nilai-nilai adat dan budaya memiliki kearifan lokalnya, yang tiada lain kearifan ini, lahir dari fitrah manusia yang memiliki kecenderungannya melahirkan dan memihak pada nilai-nilai kebenaran, seperti diantaranya nilai keadilan, nilai ini mencerminkan kedudukan dan derajat yang sama menurut pandangan etika dan hukum adat, sehingga siapapun yang melanggalnya memperoleh sangsi atau hukuman, sementara kita tahu juga bahwa keberadaan adat inipun dijamin secara konstitusional. Nah dengan demikian maka agama diterima oleh aneka budaya, sekaligus agama merajutnya budaya tersebut dengan ikhtiar untuk mewujudkan kesucian hidup sebagai panggilan sejati kemanusiaannya (fa aqim wajhaka liddini hanifa fithratallahillati fatharannasa ‘alaiha la tabdila likhalqillah…). Wa Allahu a’lam (azs,1692020).

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: