BERANDA DAKWAH

Menghitung Buku Catatan Amal

Menghitung Buku Catatan Amal
 

Menghitung Buku Catatan Amal

Sebelum nantinya diperlihatkan seluruh amal perbuatan kita, dan kita saksikan proses perhitungannya pada hari Kiamat, alangkah baik jika kita evaluasi lebih dini. Agar kita tahu seberapa jauh persiapan kita, dan agar bisa disempurnakan sisi kekurangan selagi ada kesempatan. Seperti yang dinasihatkan Umar bin Khathab radhiyallahu ’anhu, ”Hisablah diri kalian sebelum diri kalian dihisab. Timbanglah amal kalian sebelum diri kalian ditimbang, dan persiapkanlah saat hari ditampakkannya amal di hadapan Dzat yang tak tersembunyi sedikitpun atas-Nya amal-amalmu.” Beliau mengngatkan perihal firman Allah, “Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabbmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah). “(QS al-Haaqah 18)

Saat manusia membaca buku catatan amal, sementara saksi-saksi dihadirkan, tak sedikitpun mampu berkutik ataupun berkilah. Semua rekam jejaknya selama di dunia diperlihatkan secara detil. Hal yang mungkin kita tak pernah membayangkan, seandainya seseorang ingin mencatat dan mendokumentasikan amal perbuatan yang dilakukannya setiap hari selama hidupnya, itupun tidak bisa selengkap catatan Malaikat.

Tapi sedikit sebagai gambaran, jika amal manusia tercatat sejak berumur 15 tahun hingga 60 tahun misalnya, maka ia akan mempunyai catatan amal perbuatan selama 45 tahun. Satu tahun kira-kira 360 hari, setiap hari 24 jam, maka bila dijumlahkan semuanya kira-kira masa taklif manusia terdiri dari 388.800 jam. Bila direkam dengan kaset rekaman dengan durasi 1(satu) kaset adalah satu jam, maka betapa akan dibutuhkan sebanyak 388.800 kaset setiap orang, untuk mencatat (merekam) seluruh kehidupannya selama di dunia.

Dan jika setiap nafas demi nafas dalam kehidupan kita dicatat dalam lembaran buku, kiranya berapa tebal buku yang dibutuhkan. Dari sekian banyak catatan perbuatan tersebut terklasifikasi menjadi dua bagian; jenis amal yang dikategorikan sebagai amal shalih, dan satunya lagi perbuatan yang dikategorikan sebagai amal keburukan. Lalu masing-masing akan dihitung sebelum nantinya ditimbang. Dalam sebuah hadits yang shahih, Nabi mengisahkan tentang seseorang yang menerima catatan keburukan sebanyak 99 buku catatan keburukan. Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Akan diseru seorang dari ummatku pada Hari Kiamat di hadapan manusia, kemudian dihamparkan untuknya 99 catatan, sedangkan setiap catatan luasnya sejauh mata memandang. “ (HR Ibnu Majah)

Disebutkan bahwa lebar dan panjang buku catatan itu adalah sejauh pandangan mata manusia. Semuanya berisi tentang catatan amalan manusia, yang amatlah sangat jarang diantara kita yang mengingat tentang apa yang akan dihisab oleh Allah pada hari Kiamat. Sering kita tak menyadari, bahwa catatan tak pernah berhenti, sebagaimana waktu juga terus berjalan. Tak ada yang tidak bernilai dalam catatan itu. Semua memiliki poin perhitungan, dan sesuai hasil hitungan itulah manusia akan mendapat balasan. Allah berfirman, “Pada hari ini, tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya”. (QS al-Mu’min 17]

Nah pernahkah kita mencoba menghitung selagi masih di dunia ini? Kiranya dari sekian perbuatan kita sejak baligh, lalu kita pilah antara kebaikan dan keburukannya, manakah yang lebih banyak koleksi amalnya? Kebaikan ataukah keburukan? Menghitung dosa membuat kita makin waspada; agar tidak lagi menambah jumlahnya, dan agar ia bisa terhapus dengan taubat dan amal shalih yang mengikutinya. Adapun orang yang lalai, tidak menyadari betapa dosa demi dosa telah mengotori dan memenuhi catatan amalnya. Karena kelak yang dihitung adalah dan ditmbang adalah amal baik dan amal buruk, maka persiapan kita menghadapi ‘Yaumul Hisab’ (hari perhitungan amal) juga menyertakan perhitungan pahala. Dan perhitungan pahala sangat bermanfaat jika dilakukan sebelum beramal sehingga ada motivasi untuk melakukannya. Jikalau perhitungan pahala dilakukan setelah amal, maka penekanannya adalah untuk amal keutamaan yang telah ditinggalkannya. Agar timbul penyesalan yang berefek pada perbaikan.

Seperti yang dilakukan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. Ketika Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallalahu alaihi wasallam bersabda,

مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ فَلَهُ قِيرَاطٌ وَمَنْ تَبِعَهَا حَتَّى يُقْضَى دَفْنُهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ أَحَدُهُمَا أَوْ أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُد

“Barangsiapa yg mensalati jenazah, maka dia akan mendapatkan satu Qirath. Barangsiapa yang mengikutinya sampai dikubur, maka dia akan mendapatkan dua Qirath, salah satunya atau yang paling kecil di antara kedua qirath adalah sebesar Gunung Uhud.”

Saya sampaikan hal itu kepada Ibnu Umar, dia memerintahkanku bertanya kepada Aisyah. Aisyah menjawab; “Abu Hurairah benar.” Ibnu Umar berkata, “ Berarti kita telah banyak kehilangan banyak Qirath’. (HR Tirmidzi, beliau mengatakan hasan shahih). Begitulah jiwa yang sehat, termotivasi oleh hitungan pahala dan tidak terpedaya oleh hasil yang telah diperolehnya. Wallahu a’lam bishawab.(Abu Umar Abdillah)

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: