BERANDA KHAZANAH UTAMA

Kisah Abu Dzar Al-Ghifari, dari Lembah Waddan ke Makkah untuk Bertemu Rasulullah 

 

HAJINEWS.ID – Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu bernama asli Jundub bin Janadah. Beliau adalah seorang yang tajam pengamatannya tentang kebenaran. Menurut riwayat, ia termasuk salah seorang yang menentang pemujaan berhala di zaman jahiliyah, mempunyai kepercayaan akan Ketuhanan serta iman kepada Tuhan Yang Maha Pencipta.

Demikianlah, baru saja ia mendengar diutusnya seorang Nabi yang mencela berhala serta pemuja-pemujanya dan menyeru kepada Allah Yang Maha Esa lagi Perkasa, ia pun menyiapkan bekal dan segera mengayunkan kakinya. Jarak yang jauh tidak jadi penghalang untuk menemui sosok Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Ghifar adalah suatu kabilah atau suku yang tak ada taranya dalam soal menempuh jarak. Kabilah Ghifar ini tinggal di lembah Waddan yang menyambungkan Makkah dengan dunia luar.

Diceritakan dalam Buku “Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” karya Khalid Muhammad Khalid, Abu Dzar Al-Ghifari datang ke Makkah terhuyung-huyung letih tetapi matanya bersinar bahagia. Sulitnya perjalanan dan panasnya udara padang pasir telah menyengat badannya dengan rasa sakit dan lelah. Tetapi tujuan yang hendak dicapainya telah meringankan penderitaan dan meniupkan semangat serta rasa gembira dalam jiwanya.

Ia memasuki Makkah dengan menyamar. Seolah-olah ia seorang yang hendak melakukan thawaf keliling berhala-berhala besar di Kakbah atau seolah-olah musafir yang tersesat dalam perjalanan. Atau lebih tepat orang yang telah menempuh jarak amat jauh, yang memerlukan istirahat dan menambah perbekalan.

Padahal, seandainya orang-orang Makkah mengetahui bahwa kedatangannya itu untuk menemui Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan mendengar keterangannya, pastilah mereka akan membunuhnya. Tetapi ia tak perduli akan dibunuh, asal saja setelah melintasi padang pasir luas, ia dapat menjumpai laki-laki yang dicarinya dan menyatakan iman kepadanya. Kebenaran dan dakwahyang diberikan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dapatmemuaskan hatinya.

Ia terus melangkah sambil memasang telinga, dan setiap didengarnya orang memperkatakan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم ia pun mendekat dan menyimak dengan hati-hati. Hingga dari cerita yang tersebar di sana-sini, ia mendapatkan petunjuk tempat persembunyian baginda Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Kala itu dakwah Rasulullah masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Di suatu pagi hari, ia pergi ke tempat itu didapatinya Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم sedang duduk seorang diri. Didekatinya Rasulullah, lalu berkata: “Selamat pagi, wahai kawan sebangsa!” “Alaikas salam, wahai shahabat”, ujar Rasulullah.

Kata Abu Dzar: “Bacakanlah kepadaku hasil gubahan anda!” Nabi berkata: “Ia bukan sya’ir hingga dapat digubah, tetapi adalah Qur’an yang mulia!”

“Bacakanlah kalau begitu!” kata Abu Dzar pula. Maka dibacakanlah oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم, sedang Abu Dzar mendengarkan dengan penuh perhatian. Hingga tidak berselang lama ia punberseru: “Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh”.

“Anda dari mana, saudara sebangsa?” tanya Rasulullah. “Dari Ghifar,” ujarnya.

Maka terbukalah senyum lebar di kedua bibir Rasulullah صلى الله عليه سلم, sementara wajahnya diliputi rasa kagum dan takjub. Abu Dzar tersenyum pula, karena ia mengetahui rasa terpendam di balik rasa kagum Rasulullah صلى الله عليه وسلم demi mendengar bahwa orang yang telah mengaku Islam di hadapannya secara terus terang itu, seorang laki-laki dari Ghifar.

Abu Dzar pun menceritakan kisahnya di hadapan Rasulullah. Maka pandangan Rasulullah pun turun naik, tak putus takjub memikirkan tabi’at orang-orang Ghifar, lalu bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala memberi petunjuk kepada siapa yang disukai-Nya. Benar, Allah menunjuki siapa yang Dia kehendaki! Abu Dzar Al-Ghifari, salah seorang yang dikehendaki Allah beroleh petunjuk, orang yang dipilih-Nya mendapat hidayah dan kebaikan.”

Syahadat Pertama yang Diteriakkan dengan Suara Lantang
Abu Dzar telah masuk Islam tanpa ditunda-tunda lagi. Beliau adalah orang yang kelima atau keenam memeluk Islam di kalangan Muslimin. Jadi ia telah memeluk Agama itu pada hari-hari pertama dan termasuk dalam barisan terdepan. Ketika ia masuk Islam, Rasulullah masih menyampaikan dakwahnya secara diam-diam. Dibisikkannya kepada Abu Dzar begitu pun kepada lima orang lainnya yang telah beriman kepadanya.

Bagi Abu Dzar, tak ada yang dapat dilakukannya sekarangselain memendam keimanan itu dalam dada, lalu meninggalkan kota Makkah. Baru saja masuk Islam, ia telah menghadapkan pertanyaan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, apa yang harus sayakerjakan menurut anda?” Kembalilah ke kaummu sampai ada perintahku nanti!” ujar Rasulullah.

“Demi Tuhan yang menguasai nyawaku, saya takkan kembali sebelum meneriakkan Islam dalam masjid!” kata Abu Dzar pula.

Abu Dzar benar-benar seorang revolusioner dan radikal dalam arti positif. Saat terbukanya alam baru dan keimanan yang mantap kepada Rasulullah, ia pun tidak kembali kepada keluarganya dalam keadaan membisu.

Abu Dzar pergi menuju Masjidil Haram dan menyerukan dengan kalimat tauhid dengan suara yang keras: “Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.”

Teriakan ini merupakan teriakan pertama tentang tauhid yang menentang kesombongan orang-orang kafir Quraisy dan memekakkan anak telinga mereka. Kalimat mulia ini diserukan oleh seorang perantau asing, dan secara diam-diam kembali kepada
kaumnya.

Begitulah kisah Abu Dzar Al-Ghifari yang mengagumkan ketika ia mencari kebenaran. Kelezatan iman yang ia peroleh setelah bertemu Rasulullah membuatnya semakin revolusioner menegakkan risalah Islam. Kita patut berterima kasih atas perjuangan beliau mengemban dakwah ini. Semoga ridha Allah senantiasa melingkupinya.

Wallahu Ta’ala A’lam

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: