BERANDA KOLOM OPINI

Sains Dan Disrupsi Covid 19

Sains Dan Disrupsi Covid 19
 

Sains Dan Disrupsi Covid 19

Oleh Arif Satria, Rektor IPB

Pandemi Covid-19 telah membuat hampir seluruh negara kalang kabut dalam menghadapinya. Persoalan menjadi sangat serius karena yang dihadapi adalah ketidakpastian baru. Pandemi Covid-19 merupakan disrupsi dan sumber ketidakpastian baru sehingga diperlukan kemampuan kita untuk mengenali, mengatasi dan mencegahnya agar ketidakpastian ini segera berakhir. Disinilah sains mestinya menjadi “senjata” baru untuk membongkar ketidakpastian tersebut. Bagaimana sains dan masyarakat sains bisa berperan penting di era ketidakpastian ini ?

Kebijakan : Antara Sains dan Politik

Dalam suasana krisis seperti ini, yang selalu ditunggu publik adalah kebijakan sebagai intervensi pemerintah. Dimana pun kebijakan dibuat tidak dalam ruang hampa, melainkan dalam ruang yang tidak lepas dari konteks sejarah, kebudayaan, struktur sosial, ekonomi, hukum, dan kontestasi kepentingan. Tugas politik adalah meramu berbagai unsur dan ragam kepentingan tersebut agar tujuan bernegara tercapai. Karena itu, kebijakan berada dalam ranah politik. Lalu, bagaimana sains bisa menjadi landasan pokok sebuah kebijakan?

Dengan mempertimbangkan bobot sains dan bobot politik dalam kebijakan publik, maka paling tidak ada tiga tipe kebijakan. Tipe pertama, kebijakan berbasis “politik maksimal-sains minimal”, yaitu suatu kebijakan yang lebih mengedepankan pertimbangan politik dari pada sains. Artinya, kebijakan tidak didasari sebuah landasan saintifik kuat melainkan pada afirmasi sebagian golongan masyarakat dan akomodasi kepentingan para pihak. Isu keadilan, pemerataan, atau stabilitas sosial politik menjadi bahan utama petimbangan.

Tipe kedua, kebijakan berbasis “Politik maksimal-Sains Maksimal”, yang berarti kebijakan merupakan hibridisasi pertimbangan politik dan sains. Di Amerika Serikat, penentuan quota penangkapan ikan didasarkan pada kombinasi pertimbangan sains dan kepentingan para pengusaha perikanan. Awalnya pengusaha mengusulkan jumlah ikan yang boleh ditangkap (total allowable catch) adalah X, dan para saintis dengan berbasis pada metode pendugaan stok ikan memberikan rekomendasi Y. Akhirnya pemerintah memutuskan angka Z yang merupakan resultante dari X dan Y. Forsyth (2002) dalam buku Critical Political Ecology juga mempertajam postulatnya: bila kebijakan pengelolaan sumberdaya alam hanya berbasis sains yang terjadi adalah ketidakadilan, sementara bila hanya berbasis politik (baca: akomodasi kepentingan) maka yang terjadi adalah ketidakakuratan. Disinilah Forsyth mengingatkan dalam konteks pengelolaan sumberdaya alam maka sains dan politik sulit dipisahkan karena yang ingin diwujudkan adalah keadilan dan keakuratan.

Tipe ketiga, kebijakan berbasis “Politik Minimal- Sains Maksimal”, yaitu suatu tipe kebijakan yang didominasi sains dengan sejenak mengesampingkan pertimbangan politik. Umumnya kebijakan ini muncul dalam suasana darurat penuh ketidakpastian yang mengancam keselamatan manusia. Pandemi Covid-19 adalah situasi yang cocok dengan prasyarat jenis kebijakan ketiga ini. Saat ini yang terjadi adalah ketidakpastian dan sains lah yang mestinya menjadi tumpuan dalam kebijakan intervensi menuju kepastian. Bagaimana virus menyebar hanya bisa dijelaskan oleh sains. Kapan Pandemi Covid-19 mencapai puncak dan kapan berakhir tidak bisa ditentukan berdasarkan kesepakatan para aktor politik, melainkan oleh sains. Artinya sains sudah waktunya ditempatkan sebagai landasan utama intervensi agar akurasi terjaga. Dalam suasana darurat dan penuh ketidakpastian ini, akurasi menjadi sangat vital karena menyangkut keselamatan. Oleh karena itu, situasi ini merupakan peluang sekaligus tantangan bagi sains, dan kepercayaan pemerintah pada sains akan sangat menentukan kualitas kebijakan yang diambil.

Peran Sains

Setiap bencana baru umumnya melahirkan pengetahuan dan inovasi baru. Momentum ini mestinya sekaligus semakin menyadarkan masyarakat sains betapa riset harus membumi dan berorientasi solusi. Inilah yang disebut riset transformatif, yakni riset yang dapat dirasakan hasilnya untuk mempercepat proses perubahan sosial yang diharapkan. Oleh karena itu, dalam merespons disrupsi Covid-19 ada sejumlah agenda yang patut dipertimbangkan.

Pertama, era ketidakpastian menuntut kekuatan kolaborasi antar ilmuwan sebagai modal bagi munculnya invensi dan inovasi baru. Oleh karena itu, konsorsium riset Covid19 yang bersifat interdisiplin dan transdisiplin harus segera dikembangkan baik level global, nasional, maupun lokal. Karena Pandemi Covid-19 adalah masalah global maka mau tidak mau konsorsium global menjadi penting. Disinilah petukaran pengetahuan ilmuwan lintas negara terjadi, dan ini akan memberikan sumbangan penting bagi tumbuhnya ilmu pengetahuan baru. Pergerakan kolaborasi ilmuwan global ini bisa didorong dari asosias-asosiasi ilmuwan dunia. Beberapa organisasi seperti Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) bisa menjadi inisiator. Setiap perguruan tinggi pun memiliki jaringan global tersendiri yang harus dikapitalisasi. Namun demikian kolaborasi juga mesti dikembangkan pada level nasional dan lokal. Disinilah perlu konduktor yang memimpin orkestrasi riset para ilmuwan Indonesia, dan perlu pembagian tugas antar lembaga riset dan ragam perguruan tinggi sesuai dengan kompetensinya agar riset lebih fokus dan tidak tumpang tindih. Dalam skala lebih kecil lagi kolaborasi di tingkat provinsi sangat diperlukan untuk memecahkan masalah lokal. Bila setiap provinsi didampingi perguruan tinggi lokal tentu akan berdampak pada peningkatan kualitas kebijakan daerah dalam mengatasi Covid-19.

Kedua, diperlukan peta jalan riset untuk menghasilkan pengetahuan baru maupun inovasi unggul, baik yang bersifat jangka pendek, menengah, maupun panjang. Dalam jangka pendek riset-riset diperlukan untuk menghasilkan pengetahuan-pengetahuan baru untuk mengenali karakteristik virus, memprediksi kapan pandemi akan mencapai puncak dan kapan akan berakhir, serta jenis intervensi apa saja yang diperlukan untuk mempercepat berakhirnya pandemi serta antisipasi ke depan. Termasuk di dalamnya memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, seperti hubungan manusia dan hewan dalam penularan Corona sebagaimana muncul akhir-akhir ini. Sementara itu dalam hal inovasi mulai berkembang ragam kategori inovasi : (a) inovasi peralatan dan pelayanan medis (disinfectan alami, alat pelindung diri, ventilator potabel, alat rapid test, robot untuk melayani pasien); (b) Inovasi metodologi deteksi (alat rapid test dan pengujian laboratorium); (c) inovasi obat-obatan (penemuan obat herbal, obat anti corona, dan penemuan vaksin) dan masih banyak lagi inovasi jangka pendek dan menengah. Kekuatan riset yang berorientasi inovasi ini akan menjadi tumpuan pemecahan masalah pandemi Covid-19. Ketika dunia berebut masker, alat test, dan APD, sebenarnya menggambarkan betapa kemandirian teknologi kesehatan sangatlah penting. Inovasi-inovasi yang kita bangun mesti berorientasi pada kemandirian, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bangsa lain. Inovasi-inovasi inilah yang menjadi tumpuan bangkitnya industri kesehatan nasional.

Ketiga, perlu peran masyarakat sains dalam mengedukasi masyarakat. Masyarakat sains dituntut memberikan informasi yang akurat tentang Covid-19. Saat ini informasi mengalir bergitu deras dan perlu kemampuan mengoreksi informasi tidak akurat yang beredar sehingga beredarnya hoaks bisa ditekan. Peran mengedukasi masyarakat adalah pintu awal untuk pemberdayaan masyarakat dalam kerangka program pencegahan. Kini mulai berkembang istilah pencegahan berbasis masyarakat. Ini berarti bahwa masyarakat akan menjadi garda depan dalam pencegahan. Para akademisi punya peran penting untuk hadir di tengah-tengah masyarakat dalam situasi seperti ini, tidak saja mengedukasi tetapi juga yang lebih penting adalah menginspirasi, membangun optimisme dan membangun kebersamaan menyikapi bencana ketidakpastian ini.

Sekali lagi, ini adalah momentum sains untuk berperan sebagai sumber pengambilan keputusan dalam kebijakan publik. Saatnya sains selalu hadir dengan solusi konkrit. Disinilah masyarakat sains (peneliti dan akademisi) harus mempu menunjukkan sebagai kaum pembelajar yang lincah dan tangguh untuk merespon setiap ketidakpastian baru. Ingat, ketidakpastian bisa datang kapan saja, dan respon cepat untuk memberikan solusi menjadi kunci untuk bisa mengatakan “badai pasti cepat berlalu”.

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: