DAKWAH MUTIARA HIKMAH UTAMA

Hikmah Pagi: Silakan Bermaksiat, Tapi Kerjakan Ini Dulu

dosa dan maksiat
 

HAJINEWS.ID,- Dunia ini adalah tempat menanam dan akhirat mengetam. Tapi banyak pemuda terjerumus pada maksiat di dunia, bahkan ingin terus melakukannya.  Berikut ini adalah kisah pemuda ingin bermaksiat dan diperbolehkan oleh sang guru asal mampu mengerjakan lima perkara.

Alkisah, ada seseorang pemuda datang kepada Imam Ibrahim bin Adham rahimahullah mengeluhkan kondisinya. Ia terjerumus dalam maksiat dan dosa yang sangat banyak. “Aku ingin bertaubat, namun aku tidak bisa,” katanya.

Pemuda ahli maksiat itu meminta nasihat kepada imam supaya dirinya mampu meninggalkan dosa-dosa tersebut.

Imam Ibrahim bin Adham rahimahullah memberikan nasihat kepadanya, “Wahai anakku, apabila engkau ingin bermaksiat kepada Allah, silahkan bermaksiat. Akan tetapi setelah engkau lakukan 5 perkara ini.

5 perkara jika telah engkau lakukan maka bermaksiatlah sesuka dirimu.

Pemuda tadi terlihat senang. Ya, seorang Imam memberinya jawaban bebas bermaksiat setelah mengerjakan 5 hal.

“Kasih tahu aku wahai Imam, Demi Allah, aku akan lakukan. Segera kasih tahu kepadaku,” pintanya.

Imam Ibrahim bin Adham berkata: Pertama, jika engkau ingin bermaksiat terhadap Allah ‘Azza wa Jalla, kamu jangan makan dari rizki-Nya.

Pemuda itu menjawab: darimana aku makan sementara apa saja yang di bumi itu rizki dari-Nya?

Imam berkata: Wahai pemuda, apa pantas engkau bermaksiat kepada-Nya sementara engkau makan dari rizki-Nya.

Pemuda itu menjawab: tidak wahai imam.

Pemuda itu memita diberi tahu yang kedua.

Imam berkata: Apabila engkau ingin tetap bermaksiat kepada Allah, janganlah kamu tinggal di buminya.

Laki-laki itu menjawab: ini lebih berat dari yang pertama, apabila timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya adalah milik Allah lalu di mana aku akan tinggal?

Imam berkata: Wahai pemuda, apa pantas engkau yang masih makan dari rizkinya dan tinggal di buminya lalu engkau bermaksiat kepada-Nya?

Pemuda itu menjawab: tidak wahai imam. Beritahu aku yang ketiganya.

Imam berkata: Apabila engkau ingin tetap bermaksiat kepada Allah sementara engkau hidup dari rizkiNya, dan tinggal di bumiNya, carilah tempat bermaksiat yang tidak dilihat oleh Allah, lalu silahkan engkau bermaksiat di sana.

Pemuda itu menjawab: wahai Ibrahim, bagaimana ini, bukankah Dia melihat apa saja yang tersembunyi?

Imam menjawab: wahai anak muda, apa pantas engkau bermaksiat kepada-Nya sementara engkau makan dari rizki-Nya, tinggal di bumiNya, dan Dia selalu melihatmu dan melihat perbuatanmu.

Pemudia itu menjawab: tidak, wahai imam. Sampaikan kepadaku yang keempatnya.

Imam berkata: apabila datang kepadamu malaikat maut untuk mencabut nyawamu, katakan kepadanya, “tundalah dulu sehingga aku bertaubat yang sungguh-sungguh dan beramal shalih ikhlas untuk Allah.”

Pemuda itu menjawab: tidak akan diterima permintaanku itu.

Imam berkata: wahai anak muda, jika kamu tak sanggup menolak kematianmu untuk bertaubat dan engkau tahu apabila kematian datang tidak akan bisa ditunda pantaskah kamu terus bermaksiat?

Pemuda itu meminta syarat kelima.

Imam berkata: apabila datang kepadamu Malaikat penjaga neraka (al-Zabaniyah) pada hari kiamat kelak untuk membawamu ke neraka maka jangan kamu pergi bersama mereka.

Pemuda itu menjawab: mereka akan tetap membawaku dan tidak akan meninggalkanku.

Imam berkata: kalau demikian bagaimana kamu berharap selamat dengan maksiat.

Pemuda itu berkata: wahai Imam Ibrahim, cukup, cukup. Aku minta ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya.

Akhirnya pemuda itu menjadi seorang hamba yang rajin ibadah sehingga kematian memisahkan keduanya. Wallahu A’lam. (Badrul Tamam/voa-islam.com/ Kitab al-Tawabiin, Ibnu Qudamah).

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: