BERANDA DAKWAH MUTIARA HIKMAH UTAMA

Hikmah Siang: Rahasia Keimanan yang Kokoh

Ilustrasi. (Foto/net)
 

Hajinews.id – Apakah orang beriman itu jahat hingga membuatnya terkadang harus disiksa oleh orang-orang kafir? Ternyata menurut Sayyid Quthb, satu-satunya “kejahatan” orang mukmin adalah karena mereka tunduk kepada Allah SWT, Sang Pencipta.

Senada, al-Baghawi merangkum beberapa perkataan yang lain. Di antaranya, Ibn Abbas berpendapat, mereka dibenci hanya gara-gara mereka beriman kepada Allah SWT.

Muqatil berkata, “cacat” itu bernama keyakinan kepada Allah SWT. Sedang Abdurrahman as-Sa’di menguatkan bahwa “dosa” orang mukmin itu hanya karena beriman Allah SWT.

Yaitu mereka kadung meyakini Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.

Mereka tunduk dan pasrah kepada Tuhan Yang Mahaperkasa untuk berbuat segala apa yang Dia kehendaki dan Maha Terpuji atas segala sifat dan perbuatan-Nya.

Ia selamanya adalah Zat Yang Terpuji meski tak satupun di antara makhluk yang memuji-Nya.

Al-Maraghi menambahkan, hal itu tak sepantasnya membuat orang mukmin itu lalu dihukum atau disiksa. Sebab apa yang mereka yakini sejatinya mesti menjadi keyakinan seluruh manusia yang fitrawi.

Satu kebenaran yang harus dipegang teguh, bahkan menjadi kewajiban setiap mukmin mendakwahkan dan mengajarkan prinsip keimanan itu kepada orang lain.

Inilah, lanjut Sayyid Quthb, sebagai buhul keimanan yang sebenarnya. Ikatan yang mampu melarutkan hati menjadi teduh seteduh-teduhnya lalu dirasakan sebagai satu kedamaian dalam jiwa.

Meski keyakinan tersebut harus berbenturan dengan rezim penguasa zalim sekalipun.

Sebaliknya, fakta ini pula yang membuat orang-orang kafir dan fasik kian gusar terhadap orang beriman. Mereka bertambah murka melihat keyakinan seorang mukmin tak juga goyah.

Kemarahan mereka makin bergolak sebab simpul keimanan itu tak juga bercerai meski telah disiksa dan dibunuh sekalipun. Sedang Allah Maha Menyaksikan atas segala yang diperbuat oleh hamba-hamba-Nya. Dan cukuplah Allah SWT dengan Maha Menyaksikan-Nya tersebut.

Allah SWT berfirman:

وما نقموا منهم إلا أن يؤمنوا بالله العزيز الحميد، الذي له ملك السماوات والأرض والله على كل شيء شهيد

“Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Yang Mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Buruj [85]: 8-9).

Dua Pengokoh Keimanan

Lebih jauh, mufassir asy-Syinqithi mengurai lebar akan lathaif lughawiyah (keindahan sastra) dari penyandaran dua sifat mulia Allah SWT yaitu “al-Aziz” dan “al-Hamid” pada ayat di atas.

Menurutnya, sifat al-Aziz dimaksudkan untuk menampakkan keperkasaan dan kesanggupan Allah menolong orang-orang mukmin serta memberi balasan setimpal atas perbuatan orang-orang kafir. Sebab logikanya, yang perkasa itulah yang menjadi pemenang kelak.

Namun sifat al-Aziz (Mahaperkasa) itu disertai dengan sifat al-Hamid (Maha Terpuji) sebagai pesan tersirat selanjutnya bagi orang-orang beriman.

Pertama, lanjut asy-Syinqithi, agar orang beriman itu benar-benar punya keyakinan yang kokoh kepada Allah, dalam kondisi apapun, baik dalam keadaan senang (raghbah) maupun takut (rahbah).

Mereka cinta kepada Allah Yang Maha Terpuji, seperti tercermin dalam ayat selanjutnya; “Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.” (Surah al-Buruj [85]: 14.

Sebagaimana keimanan itu mengantar mereka takut kepada murka Allah, seperti pada ayat “Sesungguhnya siksa Rabbmu amatlah pedih.” (Surah al-Buruj [85]: 12).

Dan inilah kesempurnaan iman seseorang, ketika ia teguh dalam segala kondisi yang menerpa perjalanan kehidupannya.

Perkara kedua, masih dalam Tafsir Adhwa al-Bayan fi Idhah Al-Quran, agar orang-orang kafir tersebut tidak langsung berputus asa dari rahmat dan hidayah Allah.

Sebab di sana terbuka selebar-lebarnya peluang ampunan dari Allah bagi mereka yang datang bersimpuh dalam taubatnya.

Sebaliknya, bagi mereka yang enggan bertaubat kepada Allah SWT, maka hendaklah mereka bersiap menerima ganjaran setimpal dan siksa yang amat pedih.

Sebab Allah SWT Maha Melihat atas perbuatan mereka kepada orang-orang beriman selama ini. Bahwa orang kafir tersebut pernah menyiksa wali-wali Allah hanya dikarenakan beriman kepada Sang Penciptanya.

Hal itu makin dikuatkan dengan penegasan Allah SWT di ayat selanjutnya. Tak seorang pun di antara hamba-Nya yang luput dari kekuasaan Allah Ta’ala. Sebab Dia juga yang menguasai seluruh ciptaan yang ada di langit dan di bumi.

Sebuah peringatan yang sangat keras, menurut asy-Syinqithi, kepada orang-orang yang mengingkari nikmat Allah SWT. Sekaligus menjadi pelipur lara dan nutrisi penyejuk bagi ketenangan hati orang-orang beriman.

Penutup

Hakikat dunia adalah kehidupan sementara. Ibarat terminal, kehidupan dunia hanyalah perhentian satu jenak menuju kampung akhirat nan abadi.

Meski fana, kehidupan ini hanya menyisakan dua opsi bagi manusia. Menjadi hamba beriman dan bersyukur kepada Allah atau sebaliknya, berkumpul bersama manusia tak tahu diri yang mengingkari nikmat Allah SWT.

Olehnya, ahli tafsir al-Maraghi mengingatkan, hendaknya keyakinan ini tak boleh pudar dalam jiwa seorang mukmin.

Apa yang didapati manusia di dunia hanyalah soal ujian dari Allah, untuk mengetahui siapa gerangan hamba-Nya yang aqidahnya tak tergoyahkan meski dengan benturan cobaan yang paling berat sekalipun.

Allah berfirman, “Mahasuci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (Surah al-Mulk [67]: 2). (hidayatullah)

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: