BERANDA DAKWAH USTADZ

Mengadu

mengadu
 

Mengadu

Oleh : Drs.H.Ahmad Zacky Siradj/Ketua Umum IKALUIN/Ketua Umum PBHMI 1981-1983.

Memang ia cantik, ya namanya juga kembang kampus, menjadi rebutan para aktifis, banyak yang mengadu nasib, ada yang menawarkan meminjamkan buku, ada yang mengajak belajar bersama, ada pula yang menunggu untuk jalan pulang bersama dan sesekali diajak jajan makan baso, tapi ada pula yang mengadu nasibnya dengan sesekali mencuri pandang, tetapi ketika beradu pandang tak berani menatap lama, terasa ada yang begetar dalam dada …apakah yang bergetar inikah yang kemudian dikatakan rasa cinta, tak jelas, seperti ada rasa malu bercampur dengan ketidak beranian, namun yang terus terbayang, pandangannya yang tajam kala beradu pandang. Anehnya tidak satupun diantara aktifis itu yang kemudian mendapatkan kembang kampus itu, ya memang realitas saat itu tidak ada aktifis yang dapat menjanjikan masa depan yang boleh dikatakan sanggup membahagiakan, walaupun pada saatnya para aktifis itu mendapat keberuntungan karir yang menggembirakan dan membanggakan. Memang ada pula dari kembang kampus itu yang mengatakan pada temannya, kenapa yah aku tidak menerimanya dulu, padahal ia itu sangat ngebet ingin mendapatkanku…

Beraninya anda mengadu nasib, apa tidak melihat siapa yang berada dikiri kanan anda, sebagai pesaing berat dan handal, memiliki jaringan yang relatif cukup baik, bermodal, dukungan dari senior dan alumni telah berada pada genggamannya, dan jangan lupa lawan anda itu berasal dari perguruan tinggi ternama dan terkemuka di negeri ini…! Betul sekali apa yang dikemukakan itu tapi aku ini hanya bermodal keikhlasan karena organisasi ini wadah perjuangan dan bila disebut tentang jaringan rasanya aku pernah dikirim keberbagai cabang untuk memberikan materi nilai nilai dasar perjuangan, selain materi lain sebagai tambahannya, mengenai dukungan, selain mendapat dukungan dari cabang dimana aku dibesarkan, ada beberapa cabang juga yang simpati dan yang tidak mengikuti anjuran badan koordinasinya. Ditemani seorang wartawan yang juga aktifis, wartawan majalah islam terkemuka, panji masyarakat, kita naik beca saja yah tidak cukup uang untuk naik taxi, baik kak, berangkatlah bersama berdua naik beca untuk menghadiri acara akhir dari rangkaian acara kongres, menyampaikan pidato pertama sebagai formateur/ketua umum terpilih, dan diliput oleh wartawan panji yang setia menemani, berbadan kurus tinggi berambut ikal dan berkaca mata, ia telah dipanggil duluan kehadirat-Nya, Allahu yarham…amin…!

Mengadu argumen itu sudah biasa dalam perdebatan, namun adakalanya argumen yang dikemukakan itu kurang logis malah sedikit ngawur, karena memang posisinya tidak netral ia berdiri bukan sebagai orang independen tetapi mewakili lembaga, apakah itu lembaga pemerintahan ataupun swasta, sehingga pandangannya tidak lugas dan bernada pembelaan yang bukan pada tempatnya, malah bila tidak lagi memiliki alasan, sudah merasa terpojok, lalu menyerang pribadi yang akhirnya memalukan menghancurkan reputasi lembaga, termasuk dirinya. Demikian pula bila seseorang yang punya atau telah berjasa hingga berprestasi karena ada hasilnya, mungkin sadar atau tidak seringkali juga kehilangan kontrol diri, sehingga yang lain itu tidak berarti apa-apa dibanding dengan prestasi yang telah diraihnya itu, ia mengadu pengaruh termasuk dengan pimpinannya, hingga menghilangkan peran pimpinannya yang sementara misalnya pimpinannya itu, pernah diminta bantuan meminta tolong mendo’akan, dimintai saran atau diminta merekomendasi bagi promosi jabatannya.

Mengadu pengaruh memang wajar dan terjadi dimana-mana, disemua lapis masyarakat, dilingkungan terbatas maupun pada lingkungan yang lebih luas, tidak ada larangan untuk mengadu pengaruh malah dalam batas tertentu dianjurkan, tapi tentu dakam hal ini yang perlu diperhatikan dan menjadi pegangannya adalah nilai-nilai etika dan moralitas atau dengan ungkapan lain mengadu pengaruh secara berakhlaq. Sehingga yang tersampaikan oleh kedua belah pihak dalam berlomba atau mengadu pengaruh itu adalah nilai-nilai kebaikan (fastabikul khairat). Bukankah kita ingin menghadirkan diri kita sebagai shadaqah, serta ingin mewaqafkan diri kita dalam perjuangan, hingga kita meraih derajat kemulyaan karena kehadiran kita adalah manfaat bagi yang lain bagi sesama, bagi perkembangan peradaban kemanusiaan…?

Memang dalam kegiatan mengadu ada unsur yang relatif berperan diantaranya adalah kemandirian, unsur ini dimiliki atas dasar kemampuan, kekuatan, kekuasaan dalam arti luas, sebutlah adi kuasa, itu ada, karena ada kemampuan dan kekuatan untuk mengadu kuasa. Demikian juga tentunya dalam mengadu kekuatan peradaban, pertempuran peradaban (the clash civilazation) maka kekuatannya terletak pada seberapa jauh peradaban itu tetap mengakar dan memiliki dukungan kuat secara mental spritual dari masyarakat yang berkepentingannya. Sejarah menginfokan pada kita bahwa muncul tenggelamnya suatu peberadaban sangat ditentukan oleh akar spritualnya, baik peradaban timur maupun peradaban barat demikian pula peradaban-peradaban agama bisa muncul dan tenggelam, seperti tersaksi melalui perkembangan sejarahnya, semua ini sangat ditentukan dengan kekuatan dalam arti yang luas (Illa bi shulthan). Wa Allahu a’lam (azs, 1192020).

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: