BERANDA KISAH RASULULLAH UTAMA

KISAH RASULULLAH (112): Abu Sufyan

 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد

HAJINEWS.ID – Pemimpin seluruh pasukan ini adalah Abu Sufyan dengan kesepakatan bahwa jika sudah tiba di Madinah tampuk kepemimpinan akan digilir setiap hari kepada setiap pemimpin suku yang lain.

Orang-orang Makkah termasuk anak-anak dan kaum wanitanya bersorak-sorai mengiringi kepergian pasukan raksasa itu. Abu Sufyan kini bisa tersenyum.

“Muhammad dan Madinah akan tumpah,” pikir Abu Sufyan.

“Tidak ada suatu kekuatan pun yang bisa membendung pasukan sebanyak ini. Cuma dua pilihan bagi Muhammad, bertahan sampai mati di kotanya atau pergi mengungsi ke tempat yang jauh!”

Ketika mengetahui keberangkatan pasukan musuh, kaum muslimin merasa amat terkejut. Kini seluruh kabilah Arab sudah bersatu untuk memusnahkan mereka.

Apa yang harus dilakukan kaum muslimin rasanya sudah tidak mungkin melawan dengan ke luar kota seperti pada perang Uhud. Kini jumlah lawan yang datang lebih banyak lagi, tiga kali lipat dari dahulu yang mereka hadapi. Ribuan manusia bersenjata lengkap ditunjang dengan barisan berkuda dan unta tak mungkin dihadapi dengan cara berhadap-hadapan muka secara langsung.

Rasulullah ﷺ segera mengajak para sahabat berunding. Semuanya sepakat bahwa mereka harus bertahan di Madinah tidak ada cara lain. Namun itu saja belumlah cukup, sebab pasukan musuh sebesar itu akan mampu merebut rumah demi rumah dan jalan demi jalan di Madinah yang akan dipertahankan kaum muslimin. Apa lagi keberadaan kaum wanita anak-anak dan orang orang tua akan menambah beban pasukan yang bertahan.

Seorang sahabat Rasulullah ﷺ akhirnya menemukan jawabannya.

 

Menggali Parit

“Ya Rasulullah” demikian sahabat itu mengajukan usul.

“Dulu jika kami orang-orang Persia sudah dikepung musuh, kami membuat parit di sekitar kami.”

Orang yang mengajukan usul itu adalah Salman Al Farisi. Salman si orang Persia. Usul cerdik itu segera diterima oleh Rasulullah ﷺ, dan para sahabat segera mulai menggali parit di sekitar kota Madinah. Jumlah kaum muslimin ada 3000 orang, setiap 10 orang ditugasi menggali parit sepanjang 40 Hasta. Karena itulah Perang ini disebut perang Khandaq atau perang Parit atau perang Ahzab atau Perang sekutu.

Disebut Perang sekutu karena pasukan yang dihadapi kaum muslimin adalah pasukan persekutuan beberapa Kabilah Arab.

Maka dimulailah perlombaan itu. Manakah yang lebih dulu kaum muslimin menyelesaikan parit ataukah pasukan ahzab tiba di Madinah. Menyadari bahwa waktu sangat penting dalam keadaan ini, semua orang pun bekerja keras.

Rasulullah ﷺ sendiri terjun dalam penggalian itu, begitu kerasnya Rasulullah ﷺ ikut bekerja, seorang sahabat bernama Al Barra bin Azib berkata: ‘Pada waktu perang Ahzab Saya melihat Rasulullah ﷺ menggali parit dan mengusung tanah galian sampai saya tidak dapat melihat dada beliau yang berbulu lebat karena tebalnya tanah yang menempel dan melumurinya.’

Kaum Muhajirin dan Anshor bekerja sambil melantunkan syair penuh semangat. ‘Kami adalah orang-orang yang telah berbaiat kepada Muhammad untuk setia kepada Islam selama kami masih hidup.’

Ucapan ini dijawab oleh Rasulullah ﷺ. ‘Ya Allah Sesungguhnya tiada kebaikan kecuali kebaikan akhirat, maka Berkatilah kaum Anshor dan Muhajirin.’

Tiba tiba di suatu bagian, galian tertunda karena ada sebuah batu besar yang begitu kuat dan tak bisa dipisahkan oleh para sahabat. Mereka pun melapor,

“Rasulullah, sebuah batu menghambat kelancaran kami dalam penggalian parit.”

“Biarkan aku yang turun,” sabda Rasulullah ﷺ.

Beliau pun turun dan menghancurkan batu sambil mengucapkan  “Bismillah, ….” Batu yang keras itu pun hancur seperti pasir.

Pada saat itu Allah memberi Rasulullah ﷺ penglihatan tentang masa depan kaum muslimin.

 

Roti dan Kurma

Setelah pukulan pertama Rasulullah ﷺ bersabda, “Allahuakbar! aku diberi kunci-kunci Syam. Demi Allah aku benar-benar bisa melihat istana-istana yang bercat merah saat ini.”

Setelah itu, beliau menghantam untuk kali keduanya batu keras yang tersisa sampai sebagiannya hancur menjadi pasir. Saat itu,  Rasulullah ﷺ bersabda,

“Allahu akbar aku diberi tanah Persia, demi Allah saat ini aku bisa melihat istana Madain yang bercat putih.”

“Bismillah, … sambil mengucapkan itu Rasulullah ﷺ menghantam sisa terakhir batu itu sampai hancur menjadi pasir. Beliau pun bersabda,

“Allahu akbar! aku diberi kunci-kunci Yaman. Demi Allah dari tempatku ini aku bisa melihat pintu pintu gerbang Shan’a.”

Di kemudian hari, setelah Rasulullah ﷺ wafat semua negeri yang beliau sebut itu takluk dalam pelukan Islam.

Saat menggali Rasulullah ﷺ mengganjal perut beliau dengan 2 buah batu untuk menahan lapar. Para sahabat yang lain pun melakukan hal yang sama. Melihat ini Jabir bin Abdullah meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk pulang sebentar. Sampai di rumah Jabar bertanya kepada istrinya.

“Aku tidak akan membiarkan Rasulullah ﷺ kelaparan. Apakah kamu mempunyai sesuatu?

“Ya aku punya gandum dan seekor anak kambing.”

Kemudian Jabir memasak daging kambing dalam priuk dan memasukkan tepung gandum ke dalam pembakaran roti. Setelah itu ia menemui Rasulullah ﷺ dan berkata,

“Ya Rasulullah aku ada sedikit makanan. Datanglah engkau bersama seorang atau dua orang sahabatmu.”

Rasulullah ﷺ bertanya, ” berapa banyakkah makanan itu?”

Jabir menyebutkan jumlah makanannya yang sedikit itu.  Rasulullah ﷺ bersabda,

“Itu cukup banyak dan baik. Katakanlah kepada istrimu jangan diangkat masakan itu dari atas tungku dan jangan mengeluarkan roti dari bahan bakarnya, sebelum aku datang ke sana,”

Kemudian Rasulullah ﷺ memanggil para sahabat Anshar dan Muhajirin.  “Wahai para penggali parit mari kita datang, sesungguhnya Jabir memasak makanan besar.

Mendengar itu, Jabir sampai mengangakan mulut. Bagaimana makanan sedikit itu cukup buat seluruh orang? Ternyata makanan itu cukup untuk membuat semua orang kenyang, bahkan masih tersisa.

Pada saat lain, Rasulullah ﷺ juga membagikan setangkup kurma kepada begitu banyak orang.

Bersambung….

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: