DKI Tak Masuk 10 Provinsi Tingkat Kematian Tertinggi COVID-19

Ilustrasi - Pemeriksaan rapid test drive thru di Jakarta. (Foto: Dok. RS Siloam)

banner 800x800

banner 800x800

banner 400x400

JAKARTA, hajinews.id – Satgas Penanganan COVID-19 mencatat sejak Sabtu (5/9/2020) sampai Ahad siang pukul 12.00 WIB (6/9/2020), sebanyak 8.025 pasien meninggal dunia karena COVID-19 di Tanah Air, atau bertambah 85 orang.

Akumulasi itu menjadikan terdapat 47.509 kasus aktif atau pasien yang menjalani perawatan dan isolasi akibat terinfeksi COVID-19. Sampai saat ini juga terdapat 89.701 yang menjadi suspect.

Bacaan Lainnya

Posisi teratas tingkat kematian akibat COVID-19 ditempati Jawa Timur dan Jawa Tengah sebesar 7,1 persen. Kemudian Bengkulu (6,6 persen), Sumatera Selatan dan Nusa Tenggara (5,9 persen), Sumatera Utara dan Sulawesi Tengah (4,4 persen), Kalimantan Selatan, Lampung, dan Kalimantan Timur (4,2 persen).

Pada Ahad otoritas sudah memeriksa 27.979 spesimen dari 13.225 orang yang dilakukan di 320 laboratorium di seluruh Indonesia. Data menunjukkan total 2.433.752 spesimen telah diperiksa dari 1.401.513 orang sejak kasus COVID-19 pertama kali dikonfirmasi di Indonesia pada Maret 2020.

Kasus positif COVID-19 telah ditemukan di 34 provinsi di Indonesia dengan 489 kabupaten/kota dinyatakan terdampak.

Pada Ahad, lima provinsi yang memiliki penambahan kasus terbanyak adalah DKI Jakarta dengan 1.176 kasus baru, Jawa Timur 303 kasus baru, Sumatera Barat 244 kasus baru, Jawa Tengah 233 kasus baru dan Sulawesi Selatan dengan 209 kasus baru.

Sampai saat ini DKI Jakarta masih menjadi provinsi dengan kasus terkonfirmasi positif terbanyak dengan 46.333 orang. Angka kasus COVID-19 di Jakarta memang tertinggi tapi tingkat kematian sangat rendah yaitu 2,8%, lebih rendah dari rata-rata Nasional 4,1% dan bahkan dari rata-rata global 3,3%.

Bagaimana DKI Jakarta berhasil menekan angka kematian?

Pemprov DKI Jakarta meningkatkan kemampuan testing dan aktif melakukan  3T (testing, tracing, treatment).

Kegiatan testing di DKI sudah 5 kali lipat di atas standar minimal yang ditetapkan oleh WHO. Oleh karena itu orang yang berisiko tinggi, secara cepat langsung terdeteksi dan bisa diisolasi atau dirawat. Nyawa terselamatkan.

Pada Juni lalu Gubernur DKI Anies Baswedan mengatakan, “Makin banyak menemukan kasus, makin cepat kita bisa memutus rantai penularan dan makin bisa menyelematkan nyawa.” (rah/berbagai sumber)


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 Komentar