FEATURES INFO HAJI UTAMA

Tak Disangka, Jamaah Haji yang Tertidur Ini adalah Presiden!

presiden pantai gading
 

HAJINEWS.ID,- Jama’ah haji yang tengah tertidur di tengah keramaian orang ini bukanlah orang sembarangan.

Siapakah beliau?

Beliau adalah Presiden Cote D’Ivore (Pantai Gading), Hassan Ouattara, yang tengah melaksanakan ibadah haji.

Beliau berhaji atas biaya sendiri dan menolak menggunakan dana negara dan tunjangan perjalanan.

Bahkan beliau menolak hak istimewa dari Istana Kerajaan Saudi yang berlaku bagi presiden dan para pemimpin dunia untuk tinggal di istana kerajaan sebagaimana protokolat Kerajaan Saudi yang berlaku.

Lalu kemana pengawalnya?

Beliau tidak dikawal.

Hassan telah membawa Cote D’Ivore pada stabilitas keamanan, politik dan ekonomi semenjak naik ke tampuk kekuasaan. Serta, membaiknya income individu rakyat Cote D’Ivore.

Beliau mampu berkuasa dengan adil, maka beliau bisa tidur nyenyak. Tak perlu merasa ketakutan.

Snapshot beliau yang tengah tertidur di tengah-tengah jama’ah haji lain ini menjadi bahan ekspose berbagai media internasional.

Dan Indonesia juga pernah punya sosok seperti Presiden Pantai Gading itu. Dan dia adalah sang proklamator Moh Hatta (Bung Hatta).

Kisah Bung Hatta naik haji seperti ini. Meski saat itu dia menjabat sebagai Wakil Presiden, Hatta memilih pergi haji dengan ongkos pribadi. Dan ini masuk akal karena Hatta adalah cucu ulama tarikat besar di ‘Ranah Minangkabau’. Nah, sebagai cucu ulama besar, Hatta jelas paham mengenai apa yang dimaksud dengan istilah wara’ dan zuhud itu. Dua istilah ini sangat dikenal di dunia sufi atau tarekat serta dipakai untuk menyebut sebuah pribadi insan yang saleh secara pribadi dan soal, tidak tergila-gila gemerlap dunia, dan hidup sederhana.

Hal ini biasanya merujuk kepada kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang jauh dari suasana gemerlap. Rumah nabi di Madinah hanya berukuran 3 x 4 (seluas kamar kontrakan di Jakarta), hanya punya dua pasang pakaian, tidur dengan dipan pelepah kurma, kerap tak punya makanan atau meneruskan berpuasa setelah sebelumnya berbuka dengan tiga butir kurma dan meminum air putih, tak mengenakan perhiasan emas dan sutra (Rasul hanya memakai cincin besi dan berpakaian dari kain kasar), serta hanya memakan gandum olahan yang juga kasar.

Nah, dalam kehidupan nyata, kebiasaan pengikut tarekat seperti itu dijadikan acuan oleh Bung Hatta, terutama saat naik haji. Tawaran mendapat fasilitas dari Presiden Soekarno ditolaknya. Padahal saat itu dia akan disewakan pesawat terbang untuk ke Arab Saudi. Hatta memilih terbang dengan pesawat biasa.

Sikap ‘kesederhanaan’ terus dibawa hingga Bung Hatta wafat. Tak ada skandal yang pernah dia lakukan. Tak ada uang negara yang dipakai tanpa hak. Bahkan, saking hati-hatinya, Hatta kerap harus menabung bila ingin membeli sesuatu, seperti misalnya keinginannya membeli sepatu Bally yang saat itu merupakan sepatu favorit dan berharga mahal.

Bila mengunjungi rumahnya yang berada di Jl Diponegoro (di seberang kantor DPP PPP atau di samping kediaman Kedubes Palestina) tak ada hal yang mewah yang akan dilihat. Dekorasi rumahnya sederhana. Yang ada hanya perabot biasa dan lemari berisi buku. Halamannya pun sempit dan tak ada taman atau pendopo yang luas atau bangunan garasi yang bisa dimuati banyak mobil.

Hassan di Pantai Gading dan Moh Hatta di Indonesia ternyata bermakna sebagai cermin diri semua orang. Orang baik dan sederhana ternyata ada dan tak hanya ada dalam buku komik.

Semoga dapat menjadi inspirasi kebaikan.

(dbs)

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: