BERITA FEATURES INTERNASIONAL UTAMA

Jejak Ilhan Omar, Gadis Pengungsi yang Mencapai Impian di Amerika

Ilhan Omar penantang Trump
Ilhan Omar

Jakarta, Hajinews.id,- Perempuan kulit hitam asal Somalia yang kini jadi anggota Kongres Amerika Serikat hari-hari ini sedang jadi sorotan. Penyebabnya karena ia gigih membela Palestina dan pernah menyatakan di media bahwa “yang paling berbahaya di dunia ini adalah kelakuan orang kulit putih”.

Media tirto.id pernah menurunkan tulisan Widia Primastika bahwa serangan Donald Trump terhadap Ilhan Omar adalah ancaman besar dalam demokrasi Amerika Serikat.

Perempuan berjilbab di Kongres Amerika ini sebenarnya bukanlah orang Amerika Serikat biasa. Di Amerika, ia sering dijuluki rasis ketika orang islam dituduh radikal dan teroris.

Sebenarnya julukan itu justru bermula ketika ia diwawancarai media, namun pernyataannya dipotong dan dipelintir pada kalimat yang mengatakan “Saya akan mengatakan [bahwa] negara kita harus lebih takut kepada pria kulit putih di seluruh negara kita, karena mereka sebenarnya yang menyebabkan kematian terbesar di negara ini. Dan jika ketakutan menjadi kekuatan pendorong kebijakan untuk menjaga Amerika agar tetap aman, warga Amerika yang aman di dalam negara ini, kita harus membuat profil, melakukan pemantauan, dan membuat kebijakan untuk melawan radikalisasi pria kulit putih.”

Mengungsi akibat Perang

Ilhan Omar lahir 4 Oktober 1981 di Somalia. Omar dan keluarganya kabur akibat perang saudara di sana ketika ia berusia delapan tahun. Namun, saat meninggalkan Somalia pada 1991, mereka tidak langsung ke Amerika Serikat.

Menurut laporan The Guardian (12/11/2018), Omar beserta 6 kakaknya, ayah, serta kakeknya sempat menetap selama empat tahun di kamp Utango di dekat Kota Mombasa, Kenya. Di kamp tersebut, Omar mengambil kursus pendidikan agama dan belajar Alquran. Akhirnya, Omar beserta keluarganya meninggalkan Afrika pada 1995 dan menetap di lingkungan Cedar-Riverside, Minneapolis pada 1997.

Kepada The New Yorker , Omar bercerita bahwa ia terlahir dari keluarga kaya dan terkemuka di Mogadishu. Ia beruntung, meskipun lingkungan mereka sangat konservatif, kakeknya adalah orang yang liberal.

“Tidak ada norma gender yang benar-benar diperbolehkan di keluarga kami,” ujar Omar kepada The New Yorker. “Dia [kakek Omar] juga tidak suka hierarki. Kami makan dan menonton TV bersama setiap malam. Kami diizinkan duduk bersama untuk berdebat. Kami dapat mengajukan pertanyaan,” tambahnya.

Cerita Masa Lalu jadi Modal Politik

Cedar-Riverside, tempat Omar tinggal di Amerika Serikat, adalah pusat komunitas besar Afrika Timur. Mulanya, Omar bekerja di bidang pendidikan, kemudian meniti karier politiknya sebagai tim kampanye pencalonan anggota dewan kota dan asistan kebijakan senior untuk seorang politikus Minnesota, Andrew Johnson. Karier politik Omar menanjak setelah ia memenangi pemilihan legislatif di negara bagian tersebut pada 2016, tepatnya di malam yang sama dengan kemenangan Donald Trump.

Karier politik Omar sangat menonjol. Ia berhasil menggulingkan petahana, Phyllis Kahn, yang telah menduduki kursi itu selama 44 tahun. Ia bergabung bersama Minnesota Democratic-Farmer-Labor Party. Partai ini berafiliasi dengan Partai Demokrat Amerika Serikat.

“Seorang gadis pengungsi datang ke sini dan mencapai impian di Amerika,” ujar salah satu pendukungnya, seorang pengungsi Somalia bernama Awmam Mahdi kepada BBC.

“Saya pikir itu sangat positif untuk semua imigran,” ujar penduduk Ohio, yang menyebut Omar sebagai panutan, kepada BBC.

Delapan belas bulan kemudian, ibu dari tiga anak ini mencoba peruntungan dengan mencalonkan diri sebagai anggota kongres Amerika Serikat mewakili Distrik 5 Minnesota. Omar maju berbekal pengalaman pahitnya di masa lalu, sebagai seorang pengungsi dan korban perang, serta pernikahan sirinya di masa lalu.

Manajer kampanyenya, Joelle Stangler, mengatakan bahwa pengalaman Omar membuat ia nekat untuk maju ke Kongres. “Orang-orang akan membencimu karena identitasmu, apa pun yang terjadi. Tidak ada alasan untuk meredam posisinya. Anda akan mengatakan kebenaran itu,” ujar Strangler, seperti dilansir The New Yorker.

Dalam kampanyenya, Omar getol menyuarakan hak-hak para imigran dan mengutuk Perang Gaza.Kini ia sering mengkampanyekan perusakan lingkungan dan pembelaannya terhadap warga palestina.

Ilhan Omar pernah dilarang masuk ke palestina oleh israel, karena pernyataan kerasnya. Bahkan pernah menyerukan Boikot Israel, karena menindas warga tak berdosa.Pantas saja jika saat ini ada pelobbi Israel yang sedang menggoyang dirinya agar lengser dari Kongres Amerika Serkat. (fur/dbs).

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: