BERANDA EKONOMI UMMAT OPINI

Merger Bank Syari’ah: Harapan Di Tengah Tantangan Pembangunan Yang Inklusif Dan Berkelanjutan

Muhammad Fadli Hanafi

Merger Bank Syari’ah: Harapan di tengah tantangan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan

Oleh : Muhammad Fadli Hanafi/Pusat Studi BUMN/Akademisi Universitas Indonesia

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir menyampaikan akan melakukan merger bank-bank syari’ah milik BUMN, sebuah kabar yang sangat baik bagi upaya mendorong perekonomian Indonesia secara berkelanjutan. Dari mana kita dapat melihat potensi ini? Sebagaimana yang kita pahami bersama, bahwa merger dan akusisi akan memiliki konsekuensi “matematis” berupa peningkatan total aset secara konsolidasi, yang estimasinya mencapai Rp. 270 triliun (CNBC Indonesia, 2020). Dengan peningkatan aset ini, maka seharusnya sumber daya ini dapat dioptimalkan untuk memberikan “input” bagi pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan (sustainable).

Secara operasional bank syariah juga memiliki comparative advantage sebagaimana tergambar melalui kinerjanya. Per Maret 2020, NPF bank syariah adalah 3,43% (YoY), lebih rendah dibandingkan Maret 2019 sebesar 3,44%. Kemudian efisiensinya pun relatif meningkat, di mana pada periode Maret 2020, nilai BOPO mencapai 83,04% (YoY), lebih rendah dibandingkan Maret 2019 sebesar 87,82% (OJK, 2020). Profitabilitasnya pun mengalami peningkatan, di mana pada Maret 2020, Return on Asset (ROA)-nya mencapai 1,86% (YoY), dibandingkan periode Maret 2019 sebesar 1,46% (OJK, 2020). Peningkatan rasio profit mencapai rerata 27,3% sepanjang 2019 – 2010 (OJK, 2020). Hal ini menunjukkan bahwa bank syariah merupakan secara fundamental.

Lalu di mana kita melihat potensi inklusifitas ini? Sebagaimana yang kita pahami bersama, bahwa layanan bank syari’ah adalah adalah yang paling relevan dengan UMKM sebagai kontributor utama dalam struktur perekonomian Indonesia saat ini. Pada periode sebelum Covid-19 melanda, kontribusi UMKM Indonesia mencapai 60,34% terhadap total PDB (BPS, 2019), di mana pada periode 2020 ini, ditargetkan secara gradual bisa mencapai 61% terhadap total PDB (Kementerian Koperasi dan UKM, 2020). Bank syariah adalah institusi keuangan yang salah satu core activity¬-nya memang menyentuh UMKM, salah satunya karena pangsa pasar sektor formal telah diraup oleh perbankan konvensional. Yang berikutnya adalah karakteristik bank syariah yang memiliki produk pembiayaan berbasis mudharabah, yang memberikan implikasi positif pada neraca keuangan UMKM oleh karena bagi hasil berbasis pada besaran laba dan porsi berdasarkan nisbah yang disepakati antara bank syariah dan nasabah.

Dengan demikian, keberlangsungan operasional UMKM sebagai kontibutor utama perekonomian Indonesia dapat terealisasi, dan dalam jangka panjang akan memposisikan Indonesia sebagai salah satu ekonomi terkuat di dunia. Dengan demikian, kebijakan merger ini merupakan satu terobosan bagi institusi perbankan Indonesia mewujudkan kinerja ekonomi yang berkelanjutan.

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: