CORONAVIRUS OPINI UTAMA

Hoax Seputar Covid-19 Tujuannya Amat Keji

Ilustrasi

Oleh Masrifan Djamil*)

Hoax seputar COVID-19 akhir-akhir ini ada yang menarik untuk dibahas. Ada banyak hoax, tampaknya bertujuan jahat agar masyarakat didorong untuk ditulari COVID-19 secara langsung, atau disesatkan agar celaka untuk ketularan, terinfeksi, sakit dan akibat lainnya yang mengerikan. Beda dengan ustadz atau kyai yang dulu sesumbar, “Takutlah hanya kepada Allah, jangan takut kepada virus korona”, jelas ini karena kurangnya informasi atau kejahilan.

Hoax yang baru-baru ini beredar dengan teks WA biasa, dan dengan video yang tampaknya amat ilmiah saya bahas disini adalah sebagai berikut:

1. COVID-19 dan data kasus serta kematian itu palsu dan rekayasa, dengan bumbu ya Allah, ini dan itu secara amat agamis khas santri.

2. Test swab COVID-19 adalah manipulasi, hasilnya selalu positif, kalau ini dengan video yang seolah-olah ilmiah (misalnya di youtube: https://www.youtube.com/watch?v=2rvXB_B9kI4)

3. Masker lama-lama bisa bikin anoksia (kekurangan oksigen). Bahkan dibumbui dengan kematian mendadak yang masih memakai masker di Semarang, sebabnya karena masker tersebut, sehingga walikota Semarang menganjurkan saat bersepeda jangan memakai masker (https://www.youtube.com/watch?v=WUCveb1sFmM). Sebagian koran sudah membantahnya, misal di https://www.merdeka.com/cek-fakta/cek-fakta-hoaks-memakai-masker-sebabkan-kekurangan-oksigen.html

4. COVID-19 itu rekayasa, dibuat oleh negara maju, atau Yahudi untuk senjata Biologi, guna mengurangi populasi manusia nanti hanya tinggal 50% saja. Banyak beredar di youtube dll.

Pasti hoax soal COVID-19 banyak sekali, tulisan ini hanya akan mengurai 4 hal di atas itu dulu.

MASAK PAKAR LEBIH DARI 200 NEGARA DUSTA BERSAMA?

Kalau COVID-19 itu hanyalah rekayasa, tipu-tipu, bagaimana mungkin rakyat dan ahli kesehatan lebih dari 200 negara di muka bumi ini berdusta secara bersama?

Gejala sudah diverifikasi lalu dibuat kriterianya, oleh panel ahli di Cina, di CDC USA, di Pusat Kajian Penyakit Eropa, dll, lalu pusat-pusat penanggulangan penyakit menular WHO merumuskannya. Ditemukanlah virusnya, diteliti genome (inti genetiknya), maka bisa menjadi patokan untuk pemeriksaan deteksi virus korona penyebab COVID-19.

Baiklah kalau test Rapid, ada kontroversi, wajar kalau membuat keraguan, karena test ini mendeteksi molekul antigen (adanya virus atau mikroba secara umum, bukan hanya virus korona) atau antibodi (reaksi setelah orang terinfeksi mikroorganisme termasuk virus, keluar IgG dan IgM pasa infeksi mikroba mulai 7 hari, memang tidak hanya spesifik infeksi korona virus).

DUDUK PERKARA TEST PCR

Test PCR itu tak mungkin dimanipulasi, karena yang diperiksa partikel virus yaitu RNA yang ada dalam lendir saluran nafas. Bahkan sekarang ditemukan ada yang lebih canggih, ditemukan di ludah penderita. Mesin PCR akan menggandakan partikel genetik virus lalu mencocokkan dengan DNA virus SARS-CoV-2 (primers) yang sebelumnya diketahui genetic sequenca (susunan) nya.

Begini ilmiahnya: Real time RT–PCR is a nuclear-derived method for detecting the presence of specific genetic material in any pathogen, including a virus. Reaksi dalam PCR bertumpu pada primer skuens DNA (kecil) yang dibentuk untuk mengenali sekuens genome RNA virus SARS-CoV-2. Enzim reverse transcriptase membentuk kopi DNA (cDNA) komplementer dari RNA virus, dengan real-time (RT) PCR dapat dipantau progresnya. Kemudian cDNA diwarnai dengan pewarna fluorescence, lalu dilabeli dengan molekul fluorencence. Selanjutnya digandakan sebanyak 40x sampai molekul cDNA virus dapat dikenali. Jadi kalau cocok dengan primers-nya, maka virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19-lah yang dideteksi, bukan virus atau bakteri lain (jadi specifity dan sensitifity-nya tinggi). Ilmu ini dibuktikan di seluruh dunia, terbukti benar.

Begini ilustrasinya secara umum: Di suatu RS besar, banyak pakar, termasuk dokter, sampai Februari, tak ada satupun hasil yang positif swab tenggorok dengan metode PCR. Padahal gejala dan tanda mendukung kriteria COVID-19 WHO. Lalu pakar tersebut (beliau teman saya) datang ke Laboratorium, benarkah selalu negatif? Jangan-jangan ada FALSE NEGATIVE. Maka beliau ditunjuki prosesnya, hasil negatif. Lalu ahli Laborat bilang, “Kalau dimaksimalkan seperti apapun ya hasil tetap negatif dok”.

Giliran ketika kita mengalami serangan COVID-19 gelombang pertama, akhir Maret sampai April 2020, hasil yang dirujuk periksa lab PCR untuk COVID-19 hasilnya 100% atau selalu positif, padahal banyak yang diperiksa Lab PCR. Sekali lagi pakar itu ke Laboratorium untuk “tabayyun”, seperti sebelumnya, ahli Lab menjawab: “Iya dok, itu memang positif semua. Kalau diotak-atik seperti apapun ya hasil tetap positif dok”.

Jadi pemeriksaan PCR itu memang pemeriksaan laboratorium konfirmasi, jika ditemukan RAPID test positif (sekarang disebut reaktif), benarkah memang positif atau POSITIVE PALSU (false positive), dikonfirmasi, atau dipastikan dengan Lab RT-PCR.

MASKER BIKIN ANOXIA?

Masker itu bukan penyumbat pernafasan seperti yang dipakai para perampok untuk korbannya. Masker itu penyaring, ada yang 2 lapis atau yang 3 lapis. Udara bisa masuk, tetapi virus COVID-19 yang besarnya 100 nanometer terhambat. Maka janganlah memegang bagian luar masker. Kalau mau paling top daya saringnya, masker N-95 pilihannya. Jadi oksigen untuk bernafas masih diperoleh.

Apa sebabnya WA soal masker bikin anoxia ini saya katakan hoax? Bukti gampang bisa disimak sebagai berikut. Dokter-dokter yang melakukan tindakan operasi lama, 2-3 jam yang umum, atau yang extrim di pembedahan otak, misal Prof. Zainal Muttaqin dari RSUP Dr. Kariadi Semarang, pernah melakukan operasi otak sampai 11 jam non stop, atau 16 jam atau lebih panjang lagi, dalam dua tahap, istirahat makan dan sholat (dijamak kan?), tidak pingsan Profesornya kan?

Hal itu dilakukan puluhan tahun dan nyaris tiap hari. Teman-teman dokter dan petugas kesehatan merawat pasien COVID-19 memakai APD level 3 selama 8 jam (karena kalau selalu ganti seperti protokolnya, mahal sekali), tidak anoxia kan? Kata para ahli OR memang jangan yang intensitasnya berat. Tetapi bersepeda di kota, tidak sedang lomba, mana ada yang intensitasnya berat?

VIRUS KORONA PENYEBAB COVID-19 BUATAN NEGARA MAJU ATAU YAHUDI

Diskusi yang seperti ini biarlah pakar ahli virus saja. Persoalan yang kita hadapi, mau virus itu buatan atau alamiyah, faktanya menyebabkan infeksi yang berbahaya, bisa sampai sakit berat atau meninggal dunia. Maka diskusi intensif justru harus dikedepankan, bagaimana caranya agar tidak tertular, tetap sehat dan produktif.

Diskusi lain yang bagus adalah apa upaya bisnis yang tepat di saat pandemi ini agar penghasilan tetap ada, menyambung kehidupan di tengah kesulitan. Dan benar-benar menjaga keluarga dengan pemahaman yang sama, anti hoax yang menyesatkan, sehingga selalu telaten dan sabar menerapkan protokol kesehatan pencegahan COVID-19, untuk selamat bersama-sama.

TUJUAN HOAX AMAT JAHAT

Hoax tersebut sangat mungkin tujuannya jahat, terutama agar rakyat, termasuk umat Islam dan umat beragama lain, tidak percaya terhadap COVID-19 dan cara-cara pencegahannya (sekarang disebut protokol kesehatan). Maka rakyat justru bertindak mengabaikan protokol kesehatan pencegahan COVID-19.

Sebagian umat Islam yang termakan kabar hoax itu akan tidak percaya semua hal tentang COVID-19 maka akan tetap melaksanakan shalat jum’atan, jamaah di masjid, pengajian, ke pasar, ke mall, bepergian yang tanpa syarat (bus, angkot), selamatan dll seperti tidak ada apa-apa. Karena tidak percaya, maka tidak jaga jarak, tidak memakai masker, tidak mencuci tangan menggunakan sabun setelah keluar rumah. Bahkan mengambil paksa jenazah positif covid-19 atau ramai-ramai menolak test lab COVID-19. Ini potensi penularan amat tinggi.

Kalau periode lalu yang akan tutup adalah mall, hotel, perusahaan transportasi pariwisata, restoran, dll yang terkait kerumunan atau bertemunya orang secara intensif, maka kabar hoax di atas berpotensi menjadikan umat Islam korban penularan COVID-19 besar-besaran. Bahaya besar.

*) Masrifan Djamil, Ketua Litbang PP IPHI.

 

 

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: