BERANDA KOLOM

HMI, Jalan Politik Dan Jalan Dagang, Menuju Perubahan

 

HMI, Jalan Politik dan Jalan Dagang, Menuju Perubahan

Oleh: Ahmad Dayan Lubis

Meaning less artinya tak bermakna. Sebuah istilah filsafat bahasa untuk menggambarkan hadirnya kata tetapi tidak memiliki makna. Tidak informatif, tidak aplikatif, tidak indah. Pendek kata, tidak ada guna. Secara bebas dan ‘suka-suka’, saya menggunakan meaning less history untuk menggambarkan situasi ketika orang, sekumpulan orang atau masyarakat tidak mampu mengambil ‘sejarah masa lalu’ sebagai pelajaran yang berguna untuk ‘sejarah masa depan’.

Mereka tidak memilliki kesadaran literatif yang kokoh berbobot untuk melihat, membaca, mengeritisi, bahkan jika perlu menguliti sejarah, lapis demi lapis, irisan demi irisan untuk menandai setiap bagian komponennya sebagai pelajaran yang punya makna dan harga. Situasi yang terjadi sesungguhnya (diakui atau tidak diakui) adalah proses imitasi, copy paste, romantisme dalam jubah yang dicitrakan sebagai heroisme.

Dalam konteks kebahasaan, jika dilakukan tabulasi kata, maka yang kerap muncul adalah kata-kata, “dulu”, “kau masih ingat”, “mengapa sekarang”, “bergeraklah” (tetapi dia sendiri diam, meski pergi ke mana-mana, karena ada banyak orang yang pergi ke mana-mana, tetapi tidak ke mana-mana, sibuk sendiri). Lalu untuk menguatkan dirinya sebagai hero, muncullah gambar masa lalu, masa lalu, bukan gambar masa depan, dengan alat bukti foto diri.

Secara kejiwaan manusia dengan tipologi meaning less history sangat menyukai gerombolan (bukan kolektifitas), menjadi makmum yang mengaminkan imamnya secara nyaring dan terus-menerus. Menyenangi ekor ikan hiu bertahun-tahun. Menjadi kepala meski hanya ikan teri Medan, kurang disenangi karena terkesan tidak besar, tidak herois, tidak romantic, tidak ramai. Memilih jalan sunyi senyap tetapi saling terkoneksi dan mampu menaklukkan musuh tidak menjadi pilihan.

Inilah kesebelasan “hore”, yang cenderung re-aktif, melakukan tak tik yang sama, serangan balasan yang bersumber dari kemarahan karena lawan memasukkan gol. Bukan serangan balik yang terencana, tertata, terkoneksi. Asyik memadamkan api yang kecil-kecil sambil berteriak, “hei kamu kok diam saja”. Api kecil-kecil yang sengaja terus dihadirkan sebagai symptom yang melalaikan sebagai permainan kepahlawanan.

Jalan Politik

​Orang-orang HMI me-arus utama-kan jalan politik, menurut saya sebagai meaning less history. Tindakan tidak serius, kalau bukan tidak cerdas untuk memantulkan dan menangkap makna dari kaca (besar) sejarah. Tindakan tidak mau mendengarkan dentingan dawai yang dipetik secara fals terus-menerus. Gol bunuh diri secara terus-menerus dengan biaya mahal, bahkan super mahal, lahir dan batin. Tidak bisa keluar dari kredo yang “disakralkan” dan tanpa sadar bahwa kredo tersebut adalah “politik adalah satu-satunya jalan perubahan”.

​Kredo itu telah menjadi given, diterima begitu saja sebagai warisan dan yang terus diwariskan. Seperti jalan satu-satunya. “Banyak jalan menuju roma”, “masuklah dari berbagai pintu”, tertinggal di ruang-ruang training sebagai hiasan dinding. Tidak ada zoom meeting yang dibuatkan khusus TOR (term of referensi) untuk mendiskusikannya. Inilah barangkali satu contoh situasi akal yang disebut Mohammad Arkoun (pemikir Perancis (Sorbone) keturunan Aljazair) membutuhkan tindakan “memikirkan yang tak terpikirkan”. Tak pernah lagi dipikirkan, telah dianggap benar, telah menjadi fosil dalam manuskrip sejarah HMI yang dianggap panjang, tua, dan berpengalaman.

​Bukan saja kader HMI tak berani menyentuh kredo ini, terpikirkan pun tak. Situasi ini saya ingin gambarkan dengan lelucon sarkas Medan. Jika ada orang kepalanya botak bagian atas ke belakang leluconnya itu orang pintar. Namun jika botaknya dari atas ke depan itu “dikiranya dia pintar”. Kalau botaknya dari atas ke depan dan ke belakang, itu pensiunan orang pintar.

​H.Ir. Akbar Tandjung mantan Ketum PB HMI (1971-1974) yang tak pernah dilupakan sebagai rujukan dianggap “berhasil” adalah kader yang memillih jalan politik. Kehebatannya terus didengungkan dan diwariskan ke setiap generasi. Jika ada sebuah pertanyaan, apa indicator keberhasilannya? Karena tidaklah barang haram pertanyaan itu dan bang Akbar orang yang terbuka dengan hal-hal semacam itu. Namun faktanya, beliau selalu dijadikan contoh keberhasilan dan ribuan kader HMI mendambakan jalannya.

Jalan Politik

​H.M. Yusuf Kalla, mantan ketua HMI cabang Makassar 1965-1966, awalnya memilih jalan dagang sebagai pewaris usaha dagang keluarga dan berhasil. Namun akhirnya berlabuh ke politik sebagai ketua umum Golkar dan akhirnya menjadi wakil presiden untuk dua orang presiden (SBY dan Jokowi masing-masing di periode pertama). Lagi-lagi perbincangan tentang Yusuf Kalla di HMI, juga didominasi perbincangan karir politik, bukan dagang.

​Di HMI MPO ikon aktivis politik itu adalah bang Eggy Sudjana. Beliau memilih jalan politik, meski seingat saya belum pernah menjadi wakil rakyat di DPR RI atau DPRD. Aktivis parlemen jalanan sepertinya sudah menjadi takdir bang Eggy. Orangnya kuat, gigih, cerdas, dan mampu menjaga tensi di area itu dalam waktu lama. Seluruh lintas aktivis jalanan dari setiap generasi di berbagai organisasi mengenal beliau, bahkan berinteraksi, karena orangnya juga gaul, khas aktivis jalanan yang kental. Hanya aktivis musiman yang takkan mengenal beliau.

​Sampai pada titik tertentu, beliau juga diperbincangkan dengan jumlah karakter hurup banyak, jika bukan yang terbanyak secara akumulatif. Beliau juga rajin menyambangi berbagai pertemuan dan narasi-narasinya yang khas antara lain, saya ingat betul, “tak tik tuk” padahal takut atau “ee cicing wae” atau “kita harus berani, gitu”, dll. Beliau memilih dan meyakini jalan politik menuju perubahan. Sebuah ijtihad pemikiran yang mengakar dalam hidupnya dan tidak goyah dilalui zaman.

​Masih banyak kader lain yang memilih jalan politik. Ada bang Ahmad Yani kader HMI yang pernah satu periode di DPR RI dari dapil Sumatera Selatan dari PPP. Beliau itu MOT kami di Alfalah Bogor (1990) bersama saudara Yusuf Hidayat, Ahmad Dayan Lubis, Wahyu Pudjihadi, Abdul Kholik, Adnan dll. Tentu saja mungkin kader-kader lain di provinsi dan kabupaten masih banyak. Bang Abdullah Hehamahua (sebelum ada perpecahan HMI) adalah contoh generasi yang lebih tua yang juga memilih jalan politik sebagai jalan perubahan dan berlatar belakang teknik secara akademis. Di usianya yang sudah tidak muda lagi dari segi tahun, meski sangat muda dari segi semangat jauh meninggalkan kader yang lahir belakangan, beliau masih kuat ke sana ke mari. Salut.

​Tentu ada banyak contoh-contoh kader lain yang tidak fasih saya tuturkan satu demi satu dan terkesan lebih berlatar belakang Jakarta karena memang itu yang saya ingat. Kader-kader muda alumni HMI juga memperlihatkan semacam keharusan melalui jalur politik.

Berita Terkait

Adinda Ubaidillah misalnya jauh lebih dikenal sebagai pengamat politik ketimbang pemikir pendidikan yang menjadi latar belakang kampusnya. Atau saudara Suryadi yang sejak semula saya kenal sebagai pemikir peradaban (pendidikan) seperti harus memasuki area pada narasi-narasi politik yang bukan habitatnya.

​Apa yang saya tuliskan di atas hanya sebagai cara untuk menggambarkan dominannya jalan politik. Mungkin ada yang memilih jalan lain bukan politik, tetapi itu tidak dominan, tidak arus utama, tidak ramai dan tidak dalam jumlah karakter yang banyak. Bang Sulhan di Makassar misalnya lebih dikenal sebagai pemikir lintas aliran tinimbang politik. Bahkan teman-teman di Jogyakarta dan Semarang yang sesungguhnya berada pada habitat pemikir peradaban sepertinya juga tak mampu menahan diri, juga harus ke jalur politik. Perhatikanlah wacana-wacana bang Awalil atau video bang Suharsono atau juga bang Lukman Hakim Hassan.

Jalur Dagang

​Saya memilih istilah dagang, bukan bisnis. Dagang lebih original, skala kecil sampai besar, dan menjadi istilah klasik yang lebih murni. Istilah jalur dagang sudah dipakai sejak ribuan tahun lalu. Ini berbeda dengan bisnis yang lebih banyak mengandalkan pengaruh hubungan hubungan khusus, proyek, dan ketebelece. Meski bisa saja bisnis kemudian menjadi dagang atau sebaliknya. VOC bermula dari dagang hingga merambah politik bahkan penjajahan.

​Para pedagang dari etnis Cina di Indonesia pada mulanya murni dagang bukan bisnis. Akhirnya menjadi bisnis bahkan oligarkhi. Akhirnya ke politik. Bukan saja anggota partai, kepala daerah, ketua partai, bahkan ingin menjadi calon presiden. Awalnya dagang. Itu fakta. Itu sejarah. Para penyebar agama Islam yang meletakkan pondasi peradaban di Nusantara sesungguhnya sangat banyak yang berlatar belakang pedagang. Meski khilafiah, apakah dagang yang di depan sambil berdakwah atau berdakwah sambil berdagang. Anggaplah kombinasi. Namun poinnya adalah jalan dagang, bukan jalan politik.

​Tanggal 16 Oktober 1905 Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) adalah perkumpulan pedagang-pedagang Islam yang menentang politik Belanda atas keleluasaannya memasukkan pedagang asing untuk menguasai ekonomi rakyat. Dan perlu dicatat bahwa organisasi itu adalah organisasi pertama berjiwa kebangsaan mendahului gerakan kebangsaan lain seperti Budi Utomo. Tentu saja masih perlu dikritisi karena penulisan sejarah Indonesia cenderung Jawa sentris sebab di pulau-pulau lain seperti Sumatera, Sulawesi, dan Maluku juga mungkin sudah ada gerakan itu.

​Namun pada tahun 1906 (setahun kemudian) SDI menjadi Sarekat Islam dan HOS Tjokroaminoto memperluas cakupan SDI hingga ke arah politik dan agama dari semula ekonomi dan social. Hingga saat ini SI masih ada dengan tulisan Syarikat Islam dengan pimpinan Dr. Hamdan Zoelva, SH, MH (Majelis Tahkim ke-40 di Bandung tahun 2015) dan telah kembali ke khittahnya sebagai gerakan dakwah ekonomi. Meski demikian kata Dagang yang menjadi ikonnya saat berdiri telah hilang. Boleh jadi karena petinggi petingginya memillih jalan politik, bukan jalan dagang. Agak repot memang sebuah organisasi dengan gerakan dakwah ekonomi, tetapi petingginya bukan pedagang. Salah-salah bisa masuk area ‘dagang politik’.

​Nah di tubuh HMI atau alumni HMI ada ikon ekonomi. Saya tidak mempunyai data untuk menyebutnya sebagai pedagang dalam arti tradisional sebagai saudagar. Aktivitas dagang atau ekonomi secara murni, tidak berdasarkan pengaruh atau semacamnya. Namun, apa pun itu, beliau tangguh secara keuangan. Sejak puluhan tahun lalu. Semasa saya menjadi pengurus cabang Jakarta beliau dikenal sebagai alumni yang dermawan dan mampu. Saya pernah muntah darah saat aktif sebagai pengurus cabang dan melalui saudara Jurhum Lantong, saya dibantu untuk perobatan dalam jumlah yang waktu itu sangat besar bagi saya. Semoga Allah memberkati beliau. Beliau menjadi dermawan bagi pengurus HMI khususnya HMI MPO dari masa ke masa. Yaitu bang Tamsil Lindrung.

​Sesungguhnya karir politiknya merupakan yang paling cemerlang, jika ukurannya secara formal. Pernah menjadi bendahara Partai Amanat Nasional (PAN) di awal-awal berdiri. Menjadi anggota DPR dapil Sulawesi Selatan selama dua periode dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan kini menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Jauh melampaui karir politik kader HMI lainnya (MPO) jika ukurannya formal. Padahal secara akademis, beliau bukan yang paling cemerlang dalam arti formal atau gelar.

​Saya yakin seluruh kesuksesan beliau dari aspek politik hanyalah ikutan atau akibat kesuksesan beliau di bidang ekonomi. Bahkan hingga kongres HMI MPO terakhir di Kendari, beliau bisa dan diberikan kehormatan untuk menutup kongres. Karena itu secara factual, beliau abang yang sukses dan tentu saja dianggap berjasa (pastilah juga karena punya kontribusi tidak saja pikiran tapi juga finansial) kepada HMI MPO. Namun lagi-lagi yang dibicarakan tentang beliau arus utamanya karir politik, bukan ekonomi. Bahkan beliau sendiri sepertinya lebih nyaman dalam bincang politik dari pada bincang ekonomi.

​Karena itu saya bergembira ketika beberapa orang sudah mulai jalan dagang (mungkin untuk perubahan). Memillih menjadi saudagar meski dalam skala kecil. Memilih menjadi kepala ikan teri Medan tinimbang ekor ikan paus samudera Indonesia. Siapa tahu kepala ikan teri bisa bermutasi menjadi ikan paus raksasa atau setidaknya kumpulan ikan teri menjadi satuan besar melebihi besarnya ikan paus raksasa (mendarat) menguasai jutaan hektar tanah. Ini lebih menjanjikan meski bisa diperdebatkan. Tidak membutuhkan energy yang harus terus dikeluarkan dengan asupan nutrisi yang terbatas. Ini lampu AC/DC, mengeluarkan energy sambil mengisi energy itu sendiri. Pada mulanya untuk dirinya, tetapi kemudian meluas ke sekitarnya dalam skala yang terus meluas dan menggurita.

​Bagi yang mengetahui daftar ini bisa ditambah. Ada bang Imron Fadhil Syam, toke beras di Sulawesi, saya sendiri di Medan, ada adinda Mustofa dan Khairul Fahmi di Jakarta. Inilah mazhab baru di HMI, mazhab dagang, bukan mazhab politik. Simpul Pedagang HMI. Bergerak tanpa pernyataan sikap.

​Adapun jalan akademis, satu jalan yang belum dielaborasi, bagi saya bukanlah jalan perubahan. Para akademisi yang paling lengkap sekali pun gelarnya adalah orang-orang lemah untuk menuju perubahan. Mereka hanya menginspirasi. Tingginya gelar dan banyaknya biaya hidup demi menjaga citra di depan khalayak akademis membuat mereka tidak memiliki kemerdakaan yang merdeka. Kemerdekaan mereka hanya ada di panggung, tidak dalam kehidupan nyata. Tidak mudah membayangkan kemerdakaan bagi mereka yang menerima gaji setelah menekan ampra.

​Tulisan ini tidak dalam perspektif epistemologi, karena memang Islam itu universal cakupannya, tetapi pada konteks strategi yang didasari objektivitas umat ke arah perubahan politik dan reformasi sistemik. Karenanya ini lebih pada sebuah pertanyaan, setelah puluhan tahun memilih jalan politik, bukankah sebaiknya dievaluasi.

Penutup

​Kemerdakaan berpikir dan (berpendapatan) melahirkan perubahan. Menyoal jalan politik. Mengambil kembali sawah ladang yang tergadai. Melahirkan jaringan kabel bawah tanah, meninggalkan jaringan kabel melayang di udara.

​Hah, berawal dari Ciputat. Mohon maaf seribu maaf kepada Tuan dan Puan. Izinkan hamba mengurak sila. Kepada beta yang mau berkata, sila dieja untuk kita bersama. Dalam damai. Wassalam.

Facebook Comments
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar