DAKWAH MUTIARA HIKMAH UTAMA

Hikmah Siang: Benci Kalimat Tauhid Batalkan Iman

 

HAJINEWS.ID,- Kalimat tauhid “Laa Ilaaha Illallaah – Muhammad Rasulullah” adalah kalimat agung dan suci. Kalimat yang dengannya seseorang masuk Islam dan dengannya ia berhak masuk surga. Setiap muslim wajib mencintai dan memuliakan kalimat agung ini. Tidak membencinya kecuali orang-orang yang sombong dan kafir.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ

Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri.” (QS. Al-Shaaffaat: 35)

Kalimat tauhid menjadi risalah terpenting yang dibawa setiap Nabi dan Rasul. Begitu juga oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.” (QS. Al-Anbiya’: 25)

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda,

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kalimat tauhid menjadi pondasi dien Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Untuk kalimat inilah disyariatkannya berbagai perintah dan larangan. Amal kebaikan yang dibangun di atasnya akan diterima. Sebaliknya, setiap amal yang tidak dibangun di atas pondasi suci ini dinyatakan batil dan tertolak. Inilah kalimat Islam, kalimat ikhlas, kalimat taqwa, dan al-Urwatusl Wutsqa.

Agungnya kalimat ini sehingga dijadikan sebagai tanda tertulis di bendera dan panji-panji perang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Karena dengan kalimat inilah umat Islam hidup dan di atas kalimat inilah mereka meninggal.

Diterangkan dalam hadits Jabi Radhiyallahu ‘Anhu,

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل مكة ولواؤه أبيض

Bahwasanya saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memasuki Makkah bendera beliau berwarna putih.” (HR. Al-Tirmidzi)

Dalam dalam hadits Al-Barra’, bahwasanya raayah (panji-panji) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berwarna hitam. (HR. Al-Tirmidzi)

Dan dalam hadits Ibnu Abbas,

كان مكتوبا على رايته : لا إله إلا الله محمد رسول الله

“Tertulis di panji-panji beliau: Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah.”

Mulia dan agungnya kalimat ini setiap muslim wajib mencintainya. Tidak boleh mereka membencinya; di antaranya membenci bendera dan panji kalimat tauhid ini. Karena membencinya termasuk membenci apa yang telah dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan membenci satu saja ajaran yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mengeluarkannya dari Islam.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab al-Tamimi dalam risalahnya tentang sepuluh pembatal keislaman menyebutkan di urutan kelima,

من أبغض شيئا مما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم ولو عمل به فقد كفر

Siapa yang membenci sebagian saja dari ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meskipun ia mengamalkannya, maka sungguh ia telah kafir.

Dalil yang beliau jadikan sandaran adalah firman Allah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 9)

Syaikh Sulaiman bin Nashir Al-‘Ulwan dalam kitabnya “Al-Tibyan, Syarh Nawaqidh Al-Islam” menyebutkan bahwa pembatal Islam ini telah menjadi kesepakatan para ulama, seperti yang dikutip oleh pengarang Al-Iqna’ dan selainnya.

Membenci sebagian dari ajaran yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam baik yang berupa perkataan atau perbuatan merupakan satu bentuk nifaq i’tiqadi yang pelakunya berada di neraka yang paling dasar,” keterangan Syaikh Al-‘Ulwan. Wallahu A’lam. [Abu Misykah/voi]

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: