DAKWAH MUTIARA HIKMAH UTAMA

Hikmah Malam: Menghindari Kesia-siaan

 

Hajinews.id – Agar tak merugi, baik di dunia maupun di akhirat, maka penjagaan lidah dari perkataan sia-sia mutlak dilakukan setiap orang beriman.

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara tanda bagusnya keislaman seseorang adalah dia meninggalkan apa-apa yang tidak berguna baginya.” (HR. At-Tirmizi)

Hadits di atas petunjuk bagi orang beriman dalam beraktivitas. Hadits ini mengandung ajaran yang begitu penting untuk diamalkan dalam kehidupan. Sebagaimana perkataan Ibnu Rajab, “Hadits ini merupakan salah satu di antara kaidah-kaidah adab (tata krama) yang agung (dalam Islam)”. (Jami’al ulum wa al-Hikam, hal 105).

Islam memerintahkan kepada umatnya agar senantiasa berada dalam aktivitas yang bernilai kebaikan dan menjauhi segala perkara yang tak bermakna yang bisa membawa keburukan.

Godaan Lingkungan dan Nafsu

Tapi ini bukan hal mudah. Membutuhkan perjuangan keras. Lebih-lebih jika di lingkungan sekitar kita justru dipadati oleh manusia yang begitu akrab dengan perilaku sia-sia. Maka  nafsu yang bercokol dalam jiwa ini tak henti-hentinya mengajak kepada sikap membuang-buang waktu dengan aktivitas tak bermakna. Godaan inilah yang harus ditepis oleh setiap orang beriman.

Demi sempurnanya keislaman, menjauhi perkara yang sia-sia harus menjadi agenda dalam kehidupan setiap orang beriman. Dorongan jiwa yang ingin membuang-buang waktu untuk perbuatan maupun perkataan yang sia-sia tak boleh diberi kesempatan dan harus ditutup rapat-rapat.

Jiwa harus disibukkan dengan kebaikan dan lebih banyak bergaul dengan orang-orang yang sholih untuk menjaga stamina iman. Imam Syafi’i menasehatkan, “Jika anda tidak menyibukkan diri anda dengan kebaikan, maka ia akan menyibukkan anda dengan kebathilan.”

Berita Terkait

Membuang-buang waktu untuk perkara yang sia-sia juga merupakan perkara yang dibenci oleh para salafusholih. Bagi mereka waktu merupakan karunia berharga yang tak boleh kosong dari amal ketaatan. Sehingga tiada waktu yang terlewat sedikitpun kecuali telah terisi dengan kesibukan yang bernilai kebaikan. Umar bin Al Khaththab berkata : “Sesungguhnya saya benci kepada orang yang berjalan sia-sia yaitu tidak karena urusan dunia dan tidak pula akhirat.” (Adabus Syariah, 3/588).

Kesungguhan mereka dalam memanfaatkan karunia waktu inilah yang patut kita teladani.

Menjauhi Perkataan Sia-Sia

Salah satu perkara tak bermakna yang harus kita jauhi adalah mengucapkan perkataan yang sia-sia. Lidah yang bisa membuahkan ucapan ini harus kita arahkan hanya untuk mengucapkan kata-kata yang bernilai kebaikan atau dakwah. Usaha ekstra harus kita lakukan agar lidah ini tak mengeluarkan kata-kata yang mengundang murka, baik murka manusia lebih-lebih murka Allah SWT.  Sebab, tiada ucapan yang terucap dari lidah, kecuali ada malaikat yang mencatatnya.

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS: Qaf : 18).

Lidah yang bisa membuahkan perkataan ini harus kita jaga dengan sebaik-baiknya. Sebab ucapan lidah ini jika tak terkendali bisa mendatangkan keburukan bagi diri sendiri dan orang lain. Dalam kehidupan ini, tak sedikit manusia yang menjadi terhina lantaran berbicara serampangan. Banyak di antara manusia dibenci manusia lain lantaran ucapannya yang tak terkendali. Tak sedikit pula manusia yang kehilangan kepercayaan atas orang lain lantaran buah ucapannya yang senantiasa berdusta. Dalam panggung kehidupan ini, dua orang bisa baku bunuh karena buah ucapan yang mengandung hasutan.

Buah buruk dari lidah yang tak terjaga tak hanya di dunia saja, tapi juga di akhirat. Berbicara serampangan lagi tak hati-hati juga akan berbuah adzab neraka. Dan hal ini pernah tersembunyi bagi diri Muadz bin Jabal r.a. sehingga ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Wahai Nabi Allah apakah kita akan dihukum dengan apa yang kita ucapkan ?” Nabi ﷺmenjawab, “Ibumu telah kehilangan kamu (hai Muadz), tidakkah manusia akan ditelungkupkan dalam api neraka di atas wajah-wajah mereka (atau di atas hidung-hidung mereka) melainkan karena buah hasil perkataan lidah-lidah mereka.” (HR. Tirmidzi no. 2616, Ibnu Majah no. 3973 dan Imam Ahmad (V/ 231, 236,dan 237).

Agar tak merugi, baik di dunia maupun di akhirat, maka penjagaan lidah dari perkataan sia-sia mutlak dilakukan setiap orang beriman. (hidayatullah)

(Penulis: Masrokan, Pengasuh Pesantren Hidayatullah Kendari, Sulawesi Tenggara)

Facebook Comments
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: