AL-KISAH BERANDA DAKWAH USTADZ

Mempertinggi Tempat Jatuh

Abdurrahman Lubis

Oleh: Abdurrahman Lubis

Jatuh dari tempat yang rendah saja,  rasanya cukup sakit. Apalagi dari tempat yang paling tinggi.
Pekerjaan orang waras adalah saat ia sadar sesadarnya bahwa jatuh adalah bukan kesengajaan tapi kebetulan. Gak mungkin orang sengaja bikin jatuh, kecuali “isi kepalanya” punya unsur kedunguan, atau sudah pindah ke dengkul. Atau keharusan. Walau, ini yang paling susah dipahami.

Biasanya seseorang merasa percaya diri jika sampai atau berada di puncak. Apa iya ?
Ibarat seorang sedang mendaki gunung,  semakin dekat kian riskan dan letih, semakin gamang dan takut.

Dan,  sudah dari sono nya, puncak gunung adalah ending cerita. Kursi dan kedudukan dulurnya, “Sebuah Puncak Gunung ”

Jalan berikutnya, ya,  turun atau jatuh. Dua2 nya serupa tapi tak sama. Sama2 turun,  cuma ada yang santai alamiyah ada juga yang terjungkal. “Duh.  aduh…. ”

Makanya, melihat rumus matematikanya,  siapa yang berebut banget mengejar kursi, hakikatnya ia sedang mempertinggi tempat jatuh, memaksa diri untuk sampai pada keterjungkalan dan keterhempasan. Sudah banyak buktinya, dari Firaun sampai Namrud, dari Stalin sampai Kemal Attatruk. Puncak kursi adalah “gempa bumi”.atau “kiamat” atau kebinasaan bagi pemiliknya.

Lalu apa bangganya jadi pemilik kursi,  apa enaknya di atas puncak gunung? Tiada kebebasan apalagi kemerdekaan,  yang  ada mimik momok takut dan kemelut, khawatir. Apalagi kalau memperolehnya dengan cara yang tidak halal, baik cara mendapatkannya maupun alat yang dipakainya. Kalau perlu   nyolong ayat kursi, dapat kursinya ayatnya dibuang.

Pusing kepala, kurang tidur,  stres,  tapi dipuja dan diidola. Bahkan lebih dari itu, sampai “pikun”, karena banyak minta fatwa dari “dukun” dan orang pintar. Sampai dihantar ke kamar jenazah.

Siapa saja  berada di puncak gunung pasti merasakan “penyakit” itu.

Illa…..,  kecuali yang hatinya bergantung kepada yang lebih di puncak lagi, yaitu  Gusti Allah. Dan bertaubat seperti Umar bin Kattab Ra. Orang2 seperti Umar bin Abdul Azis  alias Umar jilid dua,
yaitu cicitnya

Berita Terkait

Umar bin Khattab RA.
Ketika menjadi Gubernur Mesir Pertama,  ia tetap Umar jilid dua. Ia marah kepada Qadhi , kenapa putranya dihukum ringan padahal pelaku narkoba.
Sang Qodhi menjawab, “Bagaimana mungkin hamba menghukum berat, padahal ia adalah puteramu, Paduka ?! “.

“Jangan engkau hancurkan agama melalui diri anakku,  “Tangkap ia dan sidang ulang.”
Setelah itu sang putra mahkota dihukum mati.

Hidup paling hina adalah orang sudah di puncak gunung  namun tak bergantung kepada Yang Maha Tinggi. DIA lah As Somad,  Yang Maha Tempat Bergantung,  jangan bingung apalagi pura2 linglung.

Sudah jatuhnya tidak aman,  lalu akan diterkam oleh Srigala,  setelah itu dikejar oleh Harimau.
Kakinya terlepas dari mulut Harimau,  tapi kepalanya masuk ke mulut Buaya. Aduhai….

Lalu,  apa yang kau fikirkan tentang kursi,  padahal kau pasti digeser kalau tidak digusur. Setelah itu kau akan ditangkap dan diadili,  di pengadilan tanpa keadilan.

Pengacara yang kau bayar mahal membelamu atas dasar “pasal karet” karena tercemar “berhala rupiah”, ya rupiah dan tawar menawar dengan penuntut umum. Yang memberatkan, yang meringankan itu bukan hati nurani,  bukan iman dan taqwa,  tapi tumpukan kertas berwarna merah atau biru.

Lalu,  agen-agen yang berkepentingan yang selama ini menggandeng tanganmu tetap bersikukuh agar kau bertahan menjadi tameng proyek-proyek mereka yang sedang berjalan. Mereka lah sesungguhnya yang mereguk “jus melon” keuntungan.

Itulah “kedunguan” raja dalam kisah “dalang” terhadap wayang kulit. Penonton dibiarkan sambil mengisap jempol bermimpi mendapat “susu ajaib”. Rakyat disuruh pasrah menunggu nasib. Itulah angan-angin berasyik ma’syuk utk kebahagiaan semu dan sesaat,  bahasa al Qurannya,  “Mataa’ul ghuruur”(Kesenangan menipu). Peringatan untuk muka muka tertipu,  tapi mata duitan,  matanya senantiasa “hijau” melihat duit. Makan tuh,  duiiiittt…

(Motto: Kalau jualan kursi jangan pakai ayat kursi. Hanya dakwah yang pakai ayat kursi).

Allahu a’lamu bissawaab.

Penulis,
Pemerhati Keislaman
(paling takut naik ke puncak).
Tulisan ini dishere ke 120 grup WA, 30.000 members, 24 negara yang pernah dikunjungi dalam safar dakwah, tidak komersil, ladang amal bagi yang meneruskan dan
fii sabilillah…

Facebook Comments
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar