BERANDA DAKWAH USTADZ

Tafsir Al-Quran Surat Ash-Shaffat 139-148

KH Prof Dr Didin Hafidhuddin
 

Tafsir Al-Quran Surat Ash-Shaffat 139-148

Oleh : KH Prof Dr Didin Hafidhuddin
Disarikan oleh Bustanul Arifin

1. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil alamin. La hawla wala quwwata illa billahil aliyil adzim. Kita berjumpa lagi Ahad ini secara online. Mari kita mulai kajian Al-Quran Surat Ash-Shaffat: 139-148. Kita awali dengan membaca Ummul Kitab Surat Al-Fatihah. Terjemahan Surat Ash-Shaffat itu adalah sebagai berikut: “Dan sungguh, Yunus benar-benar termasuk salah seorang rasul; (ingatlah) ketika dia lari, ke kapal yang penuh muatan; kemudian dia ikut diundi ternyata dia termasuk orang-orang yang kalah (dalam undian); Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela; Maka sekiranya dia tidak (membiasakan diri) termasuk orang yang banyak berdzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari kebangkitan. Kemudian Kami lemparkan dia ke daratan yang tandus, sedang dia dalam keadaan sakit; Kemudian untuk dia Kami tumbuhkan sebatang pohon dari jenis labu; Dan Kami utus dia kepada seratus ribu (orang) atau lebih, sehingga mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu tertentu”. Sebagai salah satu Nabi dan Utusan Allah, bahwa perjalanan hidup Nabi Yunus AS dalam berdakhwah merupakan tarbiyah ilahiyah, pendidikan yang langsung diberikan oleh Allah SWT, kepada kita orang-orang beriman, bagaimana kita hidup, bagaimana kita memanfaatkan fasilitas yang diberikan Allah kepada kita untuk berdakwah. Para Nabi dan Rasul Allah itu dipilih oleh Allah SWT untuk menyampaikan ajaran ketauhidan kepada kaumnya. Misalnya, Nabi Sulaiman AS sebagai raja dan pemimpin yang tidak hanya sayang kepada rakyatnya, tapi juga sayang kepada binatang. Ujung dalam proses dakwah ini adalah kemenangan, keberuntungan, kebahagiaan, dll. Dalam berdakwah, ada Nabi dan Rasul Allah yang diuji melalui isterinya, dan lain-lain. Pada ayat-ayat di atas, Nabi Yunus AS diuji dengan kesulitan dalam berdakwah dan dalam membimbing kaumnya. Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa perjalanan hidup beliau-beliau itu mengandung contoh atau suri tauladan yang baik. Dalam Surat Al-Ahzab 21 dijelaskan bahwa “Laqad kana fi rasulillahi uswatun hasanah”, bahwa sesungguhnya telah ada pada diri para nabi dan rasul Allah itu contoh atau tauladan yang baik. Dalam Surat Al-Mumtahanah, sampai dua kali disebutkan tentang uswatun hasanah itu.

2. Nabi Yunus AS itu adalah salah satu contoh Rasul Allah. Ketika masyarakat atau kaumnya tidak patuh atau membangkang pada ajarannya, Nabi Yunus AS sempat putus asa dan lari ke tepi lautan, dan naik ke atas kapal yang penuh dengan muatan barang dan orang. Kemudian di tengah laut ada badai yang sangat dahsyat. Juru mudi kapal menyampaikan bahwa kapal ini kelebihan muatan, sehingga muatan harus dikurangi atau perlu ada orang yang dilempar ke laut, dengan cara mengundinya. Ada tafsir yang menyebutkan bahwa pengundian dilakukan sampai sampai 3 kali, dan ternyata selalu kena Nabi Yunus AS yang harus dilemparkan ke tengah laut. Akhirnya, Nabi Yunus AS dilempar ke dasar laut, kemudian ditelan oleh ikan dalam keadaan tercela, ketika itu, karena beliau dilemparkan. Pelajaran paling berharga yang dapat dipetik dari Kisah Nabi Yunus AS itu adalah bahwa dalam berdakhwah itu ktia tidak boleh putus asa, seberapa pun sulitnya, perlu terus dan konsisten dalam berdakwah. Dakwah itu adalah manifestasi dari amar maruf dan nahi munkar. Konteks amar ma’ruf, mengajak kepada kebaikan, mungkin lebih mudah.

Tapi, konteks nahi munkar atau mencegah dari kemungkaran biasanya lebih sulit. Orang cenderung lebih mudah melakukan amar makruf, tapi lebih sulit dalam mencegah kemunkaran. Nahi munkar itu pasti ada risikonya dan banyak dari kita tidak siap menghadapi risiko tersebut. Sebenarnya, kita tidak dapat memisahkan amar makruf dan nahi munkar. Dua-duanya harus kita lakukan. Kita perlu menyeru dan memberikan contoh dengan perbuatan baik, lalu menjadi contoh pula untuk mencegah perbuatan tidak baik atau kemunkaran. Kita tidak boleh diam terhadap kemunkaran, apalagi yang jelas-jelas terjadi di depan kita. “Man ra’a munkaran, fal yugayyiru biyadihi. Fa man lam yastati’, fal yugayyiru bilisanihi, dst”. Barang siapa melihat kemungkaran, maka ubahlah atau cegahlah dengan tangan dan kekuasaannya. Esensinya bahwa kita semua diperintah untuk mengubah kemungkaran tersebut dengan tangan, dengan kekuatan atau kekuasaan yang kita miliki. Jika tidak mampu, ubahlah dengan lisan dan tulisan. Jika juga dengan lisan atau tulisan tidak mampu, maka ubahlah dengan hati. Hati kita harus tidak setuju dengan kemunkaran yang terjadi. Hati kita tidak boleh kompromi dengan kemungkaran, dengan ajaran yang anti-Tuhan, misalnya. Tapi, hal itulah selemah-lemahnya iman. Masih untung, kita masih ada iman, walau sangat lemah. Artinya, jika dengan hati pun tidak mampu, ya iman kita sudah berkurang jauh.

3. Kita tidak boleh lari dari tanggung jawab, dalam berdakwah, menyampaikan suatu kebenaran, walau hal tersebut terasa pahit. Kita harus menjadi pemain dalam berdakwah, tidak boleh hanya menjadi penonton, sesuai dengan fungsi dan posisi masing-masing. Jika kebetulan sedang punya jabatan atau pengetahuan, maka gunakan fasilitas itu untuk berdakwah. Apalagi jabatan itu hanya terbatas, ada waktunya. Maka manfaatkan dengan baik keleluasaan itu untuk berdakwah, amar makruf dan nahi munkar. Alangkah ruginya, jika ilmu pengetahuan yang kita miliki hanya bermanfaat hanya untuk kita sendiri, tidak mampu mencerahkan kepada ummat, tidak bermanfaat secara baik. Oleh karena itu, manfaatkanlah pengetahuan yang kita miliki itu untuk orang banyak, untuk meningkatkan kemaslahatan bagi ummat, bagi bangsa dan bagi negara. Dengan harta juga begitu. Rugi amat jika harta yang kita miliki tidak dimanfaatkan untuk kebaikan, untuk yang lain, untuk menyantuni anak yatim dan fakir-miskin, untuk pembangunan agama, untuk kebaikan, karena kelak harta dan ilmu pengetahuan itu akan dimintai pertanggung-jawabannya di akhirat.

4. Tarbiyah ilahiyah berikutnya dari Al-Quran Surat Ash-Shaffat tadi adalah mengajarkan kepasrahan yang luar biasa, disertai penyadaran penuh bahwa kita termasuk orang-orang yang banyak berbuat kemaksiatan kepada Allah, kita termasuk sering berbuat dzalim. Rasulullah SAW bersabda bahwa doa yang paling baik untuk bertobat kepada Allah SWT adalah doa’ dzinnun atau do’a Nabi Yunus AS ketika berada dalam perut ikan besar, yang sangat terkenal itu. “La ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minadz dzalimin”. “Tidak ada tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau Ya Allah. Sesungguhnya aku ini termasuk golongan orang-orang yang dzalim”. Kita perlu sering membaca do’a itu sebanyak mungkin, dalam setiap kesempatan, apalagi dalam kondisi sekarang. Kita sekarang banyak tantangan, banyak kemungkaran. Kita perlu terus-menerus menyampaikan doa tersebut kepada Allah, sampai menggetarkan hati dan menajamkan pikiran kita agar kembali kepada Allah SWT. Kita harus menyadari bahwa kita ini termasuk orang-orang dzalim. Kita ternyata tidak ikut berdakwah amar maruf nahi munkar sebagaimana mestinya seorang muslim berbuat dan berdakwah. Ini Sabda Rasulullah SAW yang shahih, “Tidaklah seorang muslim yang berdoa dengan kalimat tadi (La ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minadz dzalimin), kecuali akan dikabulkan oleh Allah SWT”. Misal dalam kondisi kekinian, “Kapan Covid19 ini akan berakhir?” Cobalah sering baca doa ini, sambil bertasbih kepada Allah yang banyak. Ingat ayat tadi, seandainya Nabi Yunus AS tidak berdoa atau membaca do’a ini, sangat mungkin beliau akan tetap berada dalam perut ikan, sampai Hari Kebangkitan kelak. Tapi, dengan doa yang menggambarkan kepasrahan kepada Allah, sambil mengakui kesalahan, dosanya dan kedzalimannya, akhirnya ikan besar itu memuntahkan Nabi Yunus AS di pinggir pantai. Kemudian Allah memberinya rizki dari tanaman dan Nabi Yunus AS mulai berdakwah lagi kepada 100 ribu orang di tempat yang baru. Maksudnya, jika seluruh jutaan muslim di Indonesia membaca doa ini setiap shalat, sampai menggetarkan hati, kita perlu gemuruhkan lagi, sampai menggetarkan Arasy, kita perlu yakin bahwa Allah SWT akan mengabulkan permohonan ini, agar pandemi Covid19 segera berakhir.

5. Dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara, kita sekarang melihat adanya faham yang anti-Tuhan yang luar biasa, yang dahsyat, yang akan merusakkan tatanan kehidupan masyarakat dan bangsa kita. Kita adalah bangsa yang beragama, bangsa yang religius. Tiba-tiba ada pihak yang mencoba menggeser kehidupan beragama kita, saya pikir banyak orang yang akan bereaksi. Kita perlu menyuarakan dengan lantang, menyampaikan dengan lisan, karena tersebut dijamin dalam undang-undang. Kita perlu tambah dengan doa-doa tadi, “La ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minadz dzalimin”. Hal ini sekaligus untuk menggambarkan bahwa persoalan ini bukan persoalan kecil, bukan sesuatu yang sederhana, karena pergerakan ini menyangkut masa depan bangsa, persoalan ummat, menyangkut kehidupan beragama kita. Apa saja persoalan sehari-hari yang terasa berat, misalnya tentang persoalan anak, persoalan apa saja, cobalah gunakan langkah ini, sekaligus untuk menggetarkan lisan dan keluar dari hati kita, yang paling dalam, sambil memuji dan bertasbih kepada Allah SWT. Ingat, ujungnya akan sama, kemenangan dan kebahagiaan. Kisah-kisah dakwa Nabi Yunus AS tadi dalam berdakwah dan menyadarkan kaumnya, bagaimana kaumnya terus-menerus membangkang dan tidak mematuhinya. Atau bahkan, betapa kisah dakwah Nabi Nuh AS yang tiada henti berdakwah sampai 950 tahun atau 1000 tahun kurang 50 tahun. Sampai akhirnya Nabi Nuh AS berdo’a kepada Allah SWT untuk menghancurkan kaumnya itu, karena kalau dibiarkan, maka generasi kaumnya tersebut akan menjadi orang-orang yang dzalim, orang yang durhaka kepada Allah SWT. Dalam Al-Quran Surat Nuh juga disebutkan ketika Nabi Nuh AS menyampaikan doa keras di atas, sebagian besar kaumnya justeru menutup telinga, tidak mau mendengar seruan dan doa Nabi Nuh AS. Secara manusiawi, pasti hal tersebut amat sangat menjengkelkan. Intinya adalah, sekali lagi, bahwa kita sebenarnya tidak boleh putus asa dalam berdakwah.

6. Dalam Al-Quran Surat Al-Qalam Ayat: 48-50 disebutkan, “Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu; dan janganlah engkau seperti (Yunus) orang yang berada dalam (perut) ikan ketika dia berdoa dengan hati sedih; Sekiranya dia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, pastilah dia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela; Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang yang shalih”. Intinya, adalah kita diminta bersabar dengan ketetapan Allah. Jangan sampai seperti Nabi Yunus AS, jangan putus. Jika tidak ada rahmat kasih sayang dari Tuhannya, maha ia akan dilempar dengan tercela. Kita paham, bahwa dengan kalimat tasbih tadi, maka Allah SWT memilih Nabi Yunus AS termasuk orang-orang shalih. Inilah dinamika dakwa yang berakhir dengan keindahan dan kebahagiaan. Kita tidak boleh mencela Nabi Yunus AS, karena pernah ditegur keras oleh Rasulullah SAW dengan sabdanya, “Barang siapa merasa berdakwah lebih baik dari Nabi Yunus, maka hal itu adalah dusta”. Mari kita semua istiqamah dengan dakwah, walau pun menghadapi tantangan yang tidak ringan. Dakwah itu yang akan menyelamatkan kita. Jika kita berhenti dengan dakwah, sesuai dengan bidangnya, maka kerugian yang akan terjadi, dunia akhirat, kerugian masa depan, dari generasi mendatang. Orang yang akan mendapatkan al-falah atau kemenangan itu adalah orang yang terlibat aktif (sesuai dengan bidangnya) dalam berdakwah, mengajak pada kebaikan, pada keindahan pada ajaran islam dan mencegah kemungkaran. Kita orang islam perlu menjadi contoh dan teladan yang baik. Jika kita mendapat amanah, pergunakanlah dengan baik, jangan berkolaborasi dengan orang dzalim.

7. Semoga kita tetap istiqamah dalam berdakwah, seberapa pun beratnya. Kita perlu menjadi pelopor kebaikan, penyeru kebaikan sesuai dengan bidang kita masing-masing, dalam membangun institusi yang bermanfaat. Ketika datang yang hak, maka kebathilan akan hancur, dengan dimensi yang demikan luas. Orang yang beriman tidak pernah putus asa, karena pertolongan Allah pasti akan datang. Mudah-mudahan Allah SWT memberikan kemudahan kita dalam berdakhwah, sesuai dengan bidang kita masing-masing. Mari kita tutup pengajian pagi ini dengan doa kifarat majelis. Silakan ditambahi oleh hadirin yang menyimak langsung ta’lim Ustadz Professor Didin tadi pagi.

Terima kasih, semoga bermanfaat. Mohon maaf jika mengganggu. Salam

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: