BERANDA DAKWAH

Dakwah : Azas Pergerakan Islam

Foto : Unsplash

DAKWAH : AZAS PERGERAKAN ISLAM

By. Satria Hadi Lubis

Dakwah sebagai azas pergerakan Islam harus dipahami dalam konteks setiap muslim harus berjama’ah (ada dalam sebuah kelompok pergerakan Islam). Dengan kelompoknya tersebut ia menebarkan dakwah yang rahmatan lil alamin. Bukannya dakwah yang menjauhkan orang dari rahmat Allah swt. Apalagi jika menganggap dakwah dari gerakannya saja yang benar, sedang gerakan dakwah yang lain salah. Kalau sudah menganggap kelompoknya saja yang benar berarti kita sudah terperangkap pada perpecahan yang dilarang Allah swt dalam firman-Nya :

“dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta laksanakanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. 30 ayat 31-32).

Di sisi lain, kita jangan tertipu dengan merasa cukup mengejar kesholihan pribadi saja. Sebab yang dituntut oleh agama itu ada dua : Kesholihan Pribadi dan Kesholihan Berjama’ah (ikut serta dalam sebuah kelompok/pergerakan dakwah tertentu).

Kesholihan berjama’ah, salah satunya, didapat dengan mengikuti liqo’/pengajian, sehingga posisi kita sedang didakwahi (menjadi mad’u). Nah …simultan dengan itu kita wajib berdakwah (Qs 16 ayat 125). Inilah ciri pribadi Robbani sebagaimana yang Allah firmankan :

“Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,” tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab (berdakwah) dan karena kamu mempelajarinya (didakwahi).” (Qs. 3 ayat 79). Di atas tersebut disebutkan ciri pribadi Robbani adalah “karena kamu mengajarkan kitab (berdakwah) dan karena kamu mempelajarinya (didakwahi).”

Dengan hadir dan bertemu rutin dalam pengajian dari sebuah gerakan tertentu maka kita bisa merancang berbagai program bersama untuk kebaikan masyarakat yang lebih besar dan lebih luas, yang tidak bisa kita lakukan jika sendirian. Bisnis saja butuh kerjasama agar bisa tumbuh besar, apatah lagi menjalankan misi agama yang skalanya lebih luas.

Allah dan Rasul-Nya juga menyuruh kita berjama’ah dan melarang kita meninggalkan gerakan Islam.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai..” (Qs. 3 ayat 103).

Berita Terkait

“Hendaklah kalian berjama’ah dan jangan bercerai berai, karena syetan bersama dengan orang yang sendirian. Dan dengan dua orang itu lebih baik. Barangsiapa ingin masuk ke dalam surga maka hendaklah komitmen kepada jama’ah” (HR At-Tirmidzi).

”Dan saya perintahkan kepadamu lima hal dimana Allah memerintahkan hal tersebut: Mendengar, taat, jihad, hijrah dan jama’ah. Sesungguhnya barangsiapa yang meninggalkan jama’ah sejengkal, maka telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya kecuali jika ia kembali. Dan barangsiapa yang menyeru dengan seruan jahiliyah maka termasuk buih jahannam. Seseorang berkata:” Wahai Rasulullah, walaupun mengerjakan shalat dan puasa. Rasul SAW menjawab:”walaupun shalat dan puasa. Maka serulah dengan seruan Allah yang telah menamakanmu muslimin, mukminin hamba Allah” (HR Ahmad dan at-Turmudzi).

Ada yang berpendapat bahwa dalil berjama’ah di atas hanya wajib untuk jama’ah muslimin (jama’ah dari seluruh umat Islam saja), yakni ketika nanti ada di dunia kepemimpinan tunggal (khilafah) seperti masa Rasulullah saw dan khulafaur rosyidin.

Kalau begitu pemahamannya berarti saat ini kita tak perlu berjama’ah. Lalu buat apa Rasulullah berjama’ah kalau saat ini kita tidak bisa meneladaninya dan harus menunggu khilafah yang entah kapan terwujudnya? Tentu pendapat ini tak masuk akal dan dapat memperlemah upaya mewujudkan kekuatan Islam yang saat ini sedang lemah dan dikangkangi oleh musuh-musuhnya.

Kaum Islamophobia paling takut dengan dua hal: kekuatan akidah dan persatuan umat Islam, sehingga mereka berupaya memecah belah umat Islam agar lebih suka memikirkan diri sendiri, agar mengejar kesholihan pribadi saja, dan tidak mau berjama’ah (ikut dalam pergerakan Islam). Disebarkan propaganda bahwa berjama’ah itu berarti bid’ah, ta’ashub (fanatisme kelompok), bahkan radikal, sehingga orang takut berjama’ah (mengikuti pergerakan Islam). Yang benar adalah lengkapi kesholihan pribadi dengan kesholihan berjama’ah.

Maka carilah komunitas di antara sekian banyak pergerakan Islam (jama’ah minal muslimin) yang menurut kita baik, yakni yang mengajarkan nilai-nilai Islam yang moderat, inklusif dan tidak radikal. Yang mau bekerjasama antar gerakan Islam. Dan jangan ikuti jama’ah yang menganggap kelompoknya saja yang benar, sedang yang lain salah. Apalagi sampai mengkafirkan sesama muslim (takfiri), seperti kelompok ISIS misalnya.

Sebab kalau kita hanya sholih secara pribadi tanpa punya gerakan alias berjama’ah berarti kita sebenarnya belum menjadi muslim kaffah (utuh) dan belum berjuang untuk Islam secara amal jama’i (bersama-sama). Kita masih egois dan induvidualistik karena hanya memikirkan kesholihan diri sendiri saja. Hal ini tentu berlawanan dengan prinsip Islam sebagai wihdatul ummah (umat yang satu). “Sesungguhnya ini umatmu umat yang satu, dan aku adalah Rabmu, maka sembahlah Aku” (Qs. 21 ayat 92).

Dan konsep surga sebagai tempat tinggal bersama bagi orang-orang yang beriman :

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa” (Qs.3 ayat 133).

Renungkanlah..!
Jika kita cukup hanya sholih secara pribadi saja, lalu apa gunanya ibadah-ibadah yang mengingatkan kita tentang makna berjama’ah, seperti sholat berjama’ah di mesjid, ritual haji, bahkan zakat dan infaq sekalipun?

Bukankah serigala hanya akan menerkam domba yang sendirian?

Facebook Comments
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar