CORONAVIRUS OPINI UTAMA

New Normal dari Mana Mulainya?

Ilustrasi
 

# Transisi Kunci Sukses New Normal

Penulis : Dr.Abidinsyah Siregar *)

Lama penulis menatap subtitle/infoteks dilayar TV, berulang di berbagai TV Nasional tertulis angka 557 sebagai jumlah pertambahan kasus positif Covid-19 di Indonesia pada sabtu, 30 Mei 2020. Jumlah kasus pun meningkat terus melampau 25.557 kasus.

Diberitakan pula daerah terinfeksi Covid-19 semakin luas di seluruh wilayah Indonesia, menjangkau seluruh Provinsi dan lebih 400 Kabupaten/Kota.

Muncul beberapa episentrum kasus baru dan sudah ada Rumah Sakit yang menyatakan tutup menerima kasus karena penuh dan berkonsentrasi menyelesaikan kasus yang sedang dirawat.

Sementara itu jumlah kasus didunia sesuai data WHO sudah menembus kasus diatas 6 juta. Pertambahan kasus positif Covid-19 masih eksponensial, pertambahan sehari kasus sebanyak lebih 162.000 pada 213 negara diseluruh dunia dengan kematian bertambah 5.500 orang.

Penyumbang kasus terbesar adalah Amerika Serikat yang kasusnya sudah mendekati 2 juta dengan kematian lebih 100.000 orang (28 % dari total kematian diseluruh dunia).

Diketahui bersama bahwa Amerika Serikat, negara adidaya dengan kecanggihan tehnologi dan pelayanan kesehatan serta sistem yang handal, bagaikan gagal.

Jagad media Indonesia selama seminggu terakhir dipenuhi isu New Normal, bergantian pejabat pusat maupun pejabat Daerah berbicara dilayar TV menggambarkan kesiapan untuk memasuki era New Normal. Bahkan sudah ada yang mengagendakan mulai minggu pertama Juni memulai penerapan New Normal dengan agenda membuka Mall, daerah Wisata, Perhotelan, Restoran dan Café, bahkan Pendidikan termasuk Sekolah Dasar dan Lanjutan.

Sementara itu beberapa Daerah lainnya, tetap fokus pada penanggulangan dan penanganan kasus yang masih eskalatif, sebelum bicara New Normal.

Daftar berikut menunjukkan perkembangan kasus dan meninggal (kematian) tiap minggu sejak awal Maret hingga akhir Mei 2020.

Gambaran kasus dan meninggal :
(1).02/3: 2 kasus (K) dan 0 meninggal (M).
(2).02/4: 2.092 K, 191 M.
(3).09/4: 3.293 K, 280 M
(4).16/ 4: 5.516 K, 496 M
(5).23/ 4: 7.775 K, 647 M.
(6).30/4: 10.118 K, 792 M.
(7).02/ 5: 10.843 K, 831 M.
(8).09/5: 13.645 K, 959 M.
(9).16/ 5: 17.025 K,1.089 M.
(10).23/5:21.745 K,1.351 M.
(11).30/5:25.773 K,1.573 M.
Tampak tren eskalatif. Belum berhenti dan belum terkendali.

Sudah waktukah New Normal?

Merujuk kepada panduan WHO untuk memasuki era New Normal adalah meringankan pembatasan dan transisi, dengan 6 kriteria :

1.Transmisi Covid-19 sudah terkendali.
2.Fasilitas Kesehatan mampu Test, Trace and Treat.
3.Pengaturan ketat : tempat rentan dan komunitas rentan.
4.Pencegahan di tempat kerja.
5.Risiko imported case sudah dapat dikendalikan.
6.Masyarakat terlibat dalam Transisi.

Pelibatan masyarakat secara aktif dengan disiplin tinggi dalam PSBB dan Memperbanyak Test PCR (Swab) menjadi kunci sukses pengendalian kasus.

Berdasar informasi Ratas Kabinet akhir Maret dan RDP Menkumham dengan Komisi II DPRRI, bisa diperhitungkan ada sekitar 2 juta pelintas batas WNI dan WNA melalui 135 pintu masuk Indonesia pada medio Januari-Februari. Mereka adalah sasaran utama test PCR.

Sekarang kasus sudah berkembang di antara masyarakat (Community spread).

Dibandingkan dengan negara-negara di Eropa, mereka sudah melakukan Test sebanyak 300.000 test sampai 10 juta test, sementara Indonesia hanya 300.000 test atau sama dengan 1.100 test/1 juta penduduk. Ini sangat kecil dibanding banyak Negara.

Jika dilihat negara ASEAN, 6 Negara (Malaysia, Thailand, Filipina, Singapur, Indonesia dan Vietnam) dengan jumlah test diatas 300.000 test. 4 Negara lainnya (Kamboja, Brunai, Laos dan Timor Leste) dibawah 50.000 test. Umumnya sukses memperlambat/menghentikan pertambahan kasus.

Prestasi luarbiasa dicapai Vietnam, Kamboja, Laos dan Timor Leste dengan tanpa kematian.

KAPAN KITA MULAI

Untuk mencapai kondisi kasus terkendali, perlu transisi dengan target pencapaian 6 kriteria Panduan WHO. Dari pengamatan sejumlah ahli, penulis merumuskan dalam 5 indikator kegiatan, sebagai berikut :

1.Waktu. Sejumlah negara yang siap menerapkan New Normal, sudah memulai perjuangannya sejak dini mulai Januari dan Februari 2020 dengan kesiapsiagaan dan mitigasi yang terencana sekalipun awalnya babak belur. Indonesia yang terlambat, perlu memperhitungkan kematangan situasi.

2.Kepemimpinan. Dalam mengelola kebencanaan, apapun bentuk dan nama organisasinya, harus jelas pusat komando sebagai Unity of Command. Dengan kesatuan komando maka seluruh pengorganisasian menjadi sinergi dan efektif.

3.Tata Kelola (Manajemen), Penguatan fungsi wilayah dan daerah dalam upaya pengendalian dan penanganan kasus Covid-19 sangat menentukan. Wilayah dan Daerah harus bertanggungjawab penuh dan tidak terburu-buru menyerahkan ke Pusat.

Keberhasilan pengendalian basisnya di Daerah.

Masalah ekonomi diatasi dengan efektifitas Anggaran Refocusing APBN Rp 405,1 triliun.

4.Case Finding. Pada masa Pandemik, penemuan kasus diperkuat dengan ketentuan International Health Regulation (2005) dimana setiap pendatang dari negara terdampak wajib melaporkan diri pada petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) yang ada pada 135 pintu masuk Indonesia.

IHR 2005 mengikat negara di dunia, termasuk anggota WHO untuk bekerjasama dalam Kesehatan Internasional. Peraturan ini membantu komunitas internasional mencegah dan merespons risiko kesehatan masyarakat akut yang berpotensi melintasi batas dan mengancam orang diseluruh dunia.

5.Prioritas Baru. Setelah 3 (tiga) bulan dilakukan Penanggulangan dan Penanganan. Sekalipun belum selesai, namun saatnya memasuki fase pengendalian, sebagai prasyarat Pelonggaran PSBB dan transisi.

Di sini seluruh Sumberdaya harus dikerahkan mencapai 6 kriteria Panduan WHO.

INDONESIA SIAP

Sebagaimana pernyataan bapak Presiden Jokowi, bahwa “Pemerintah fokus menangani Pandemi Covid-19, sekalipun agenda strategis yang berdampak besar bagi kehidupan rakyat harus tetap berjalan”.

Amanat Presiden jelas, Tuntaskan pengendalian Kasus dan Tingkatkan kualitas pelayanan Kesehatan untuk menekan Pertambahan kasus, menurunkan jumlah kematian dan meningkatkan angka kesembuhan.

Menganalisa berbagai kondisi yang terhimpun, maka fase Transisi atau Pelonggaran PSBB bisa menjadi prioritas bukan Juni 2020.

Dan wacana New Normal, secara bertahap dan rasional menjadi prioritas Juli 2020.

Inilah saat krusial menetapkan kesiapan Indonesia memasuki era New Normal.
Inilah saatnya semua pihak menyerahkan kepada Tim Gugus Tugas Nasional dan para Epidemiolog untuk bekerja terdepan. Agar agenda Strategis lain segera berjalan.

Terburu-buru dalam persiapan New Normal akan memperkecil peluang sukses.
Sedangkan transisi yang matang akan memberi kepastian sukses Indonesia menuntaskan Pengendalian Covid-19 lebih cepat dan memberi keyakinan kepada publik dan dunia.

#STAY AT HOME, STAY HEALTHY

Jakarta, 31 Mei 2020, jam 11.15

Penulis adalah: Ketua PP IPHI/Ahli Utama BKKBN dpk Kemenkes/ Mantan Deputi BKKBN/ Mantan Komisioner KPHI/ Mantan Kepala Pusat Promkes Depkes RI/ Alumnus Public Health Management Disaster, WHO Searo, Thailand/ Mantan Ketua PB IDI/ Ketua PP ICMI/ Ketua PP DMI/ Waketum DPP JBMI/ Ketua PP ASKLIN/ Penasihat BRINUS/ Ketua IKAL FK USU/ Ketua PP KMA-PBS/ Ketua Orbinda PP IKAL Lemhannas.

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: