BERANDA MUTIARA HIKMAH UTAMA

Hikmah Malam: Membaca Shadaqallahul ‘Azhim, Benarkah Bid’ah?

 

HAJINEWS.ID – Kita sering mendengar para pembaca Alquran menutup tilawahnya dengan ucapan Shadaqallahul ‘Azhim (benarlah apa yang Allah Ta’ala firmankan). Sebagian orang mengatakan bid’ah karena tidak ada landasan dalilnya.

Bagaimana sebenarnya pandangan syariat terhadap hal ini? Berikut penjelasan Ustaz Farid Nu’man Hasan, dai lulusan Sastra Arab Universitas Indonesia.

Kata Ustadz Farid, seharusnya lisan kita sebagai penuntut ilmu tidak mudah mengeluarkan kata-kata bid’ah atau haram, terhadap permasalahan yang hakikatnya kita belum tahu. Sebab, urusan bid’ah atau haram, adalah perkara besar dalam Islam. Bagi pelakunya diancam neraka oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Masih bagus jika mereka mengatakan, “Masalah ini para ulama berbeda pendapat, ada yang membolehkan ada pula yang melarang, tetapi saya pilih yang melarang.” Dengan demikian berarti kita telah jujur dalam ilmu dan permasalahan, dan amanah dalam penyampaian.

Terkait membaca Shadaqallahul ‘Azhim setelah membaca ayat Alquran. Sebagaimana kita tahu ada pihak yang membid’ahkan, alasannya sederhana, karena tidak ada dalilnya hal itu dilakukan oleh Rasulullah SAW dan sahabat.

Nah, benarkah masalah ini hanya satu pendapat yakni bid’ah? Jawabannya tidak, justru banyak Imam yang mempraktikkannya dan membolehkannya di berbagai zaman dan madzhab. Maka, hendaknya kita menjaga lisan dan adab, kalau pun tidak tahu, lebih baik diamlah.

Siapa saja Imam yang pernah membacanya?
Berikut ini sebagian para ulama yang membolehkan bahkan menerapkan membaca Shadaqallahul ‘Azhim setelah membaca Alquran.

1. Imam Hasan Al Bashri Radhiallahu ‘Anhu.
Beliau adalah tokoh tabi’in senior. Dia termasuk tujuh ahli fiqih Madinah pada zamannya. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, ketika membahas surat Saba’ ayat 18, beliau mengutip ucapan Imam Hasan Al Bashri, sebagai berikut:
وقال الحسن البصري: صدق الله العظيم. لا يعاقب بمثل فعله إلا الكفور.
Berkata Al Hasan Al Bashri: “Shadaqallahul ‘Azhim. Tidaklah mendapatkan siksa semisal ini bagi pelakunya, melainkan orang kafir.”

2. Imam Al Qurthubi Rahimahullah.
Dalam tafsirnya beliau menulis:
وفى السماء رزقكم وما توعدون ” فإنا نقول: صدق الله العظيم، وصدق رسوله الكريم، وأن الرزق هنا المطر بإجماع أهل التأويل
“Dan di langit Dia memberikan rezeki kepada kalian, dan apa-apa yang dijanjikan kepada kalian,” Maka, kami berkata: Shadaqallahul ‘Azhim wa shadaqa Rasul al karim, sesungguhnya maksud rezeki di sini adalah hujan berdasarkan ijma’ ahli takwil … dan seterusnya”.

Berita Terkait

3. Imam Ibnul ‘Iraqi Rahimahullah.
Beliau ditanya begini;
وَسُئِلَ ابْنُ الْعِرَاقِيِّ عَنْ مُصَلٍّ قَالَ بَعْدَ قِرَاءَةِ إمَامِهِ صَدَقَ اللَّهُ الْعَظِيمُ هَلْ يَجُوزُ لَهُ ذَلِكَ وَلَا تَبْطُلُ صَلَاتُهُ فَأَجَابَ بِأَنَّ ذَلِكَ جَائِزٌ وَلَا تَبْطُلُ بِهِ الصَّلَاةُ
Ibnul Iraqi ditanya tentang orang yang salat, setelah imam selesai membaca, orang itu membaca ‘Shadaqallahul ‘Azhim’, apakah boleh baginya dan tidak membatalkan shalatnya? Dia menjawab: Hal itu boleh, dan tidaklah membatalkan shalat.”

4. Imam Syihabuddin Ar Ramli Rahimahullah.
Dalam Nihayatul Muhtaj dia mengatakan:
لَوْ قَالَ صَدَقَ اللَّهُ الْعَظِيمُ عِنْدَ قِرَاءَةِ شَيْءٍ مِنْ الْقُرْآنِ قَالَ م ر يَنْبَغِي أَنْ لَا يَضُرَّ “Seandainya dia berkata Shadaqallahul ‘Azhim saat membaca bagian dari Alquran, (berkata Ar Rafi’i) maka itu tidak memudharatkan (tidak mengapa).

5. Imam Abu Hafs Umar Al Wardi Rahimahullah.
Dalam Syarhul Bahjah Al Wardiyah, beliau berkata:
كُلُّ مَا لَفْظُهُ الْخَبَرُ نَحْوُ صَدَقَ اللَّهُ الْعَظِيمُ أَوْ آمَنْتُ بِاَللَّهِ عِنْدَ سَمَاعِ الْقِرَاءَةِ بَلْ قَالَ شَيْخُنَا ز ي : لَا يَضُرُّ الْإِطْلَاقُ فِي هَذَا
“Semua yang dilafazhkannya, seperti Shadaqallahul ‘Azhim atau amantu billah, ketika mendengar bacaan Al-Qur’an, bahkan syeikh kami berkata: Tidak memudharatkan secara muthlak dalam hal ini (alias boleh).”

6. Imam An Nawawi Rahimahullah.
Dalam Al Majmu’ beliau mengatakan:
ثم صدق الله العظيم ” يسئلونك عن الاهلة قل هي مواقيت للناس والحج
“Kemudian Shadaqallahul ‘Azhim “Yas aluunaka ‘anil ahilah qul hiya mawaqitu linnas.”

7. Syeikh Dhiya’ Al Mishri.
Dalam Fathul Manan mengatakan:
ويستحب للقارىء إذا انتهت قراءته أن يصدق ربه ويشهد بالبلاغ لرسوله صلى الله عليه وسلم ويشهد على ذلك أنه حق فيقول: صدق الله العظيم، وبلغ رسوله الكريم، ونحن على ذلك من الشاهدين.
“Dianjurkan bagi pembaca Alquran, jika telah selesai hendaknya dia membenarkan Tuhannya, dan bersaksi atas tabligh yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bersaksi bahwa itu adalah kebenaran, maka hendaknya membaca: Shadaqallahul ‘Azhim, wa balagha Rasuluhul karim, wa nahnu ‘ala dzalika minasy syahidin.”

8. Syeikh Athiyah Saqr, Mufti Mesir.
Ketika ditanya apa hukum membaca Shadaqallahhul ‘Azhim. Beliau mengkritik dan memberi peringatan kepada orang-orang yang gampang membid’ahkan termasuk masalah ini.
قل صدق الله فاتبعوا ملة إبراهيم حنيفا
Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik (Q.S. Ali Imran: 95)

Al-Qurthubi dalam muqaddimah tafsirnya mengatakan bahwa menurut Imam Al Hakim dan Imam At Tirmidzi mengucapkan kalimat shadaqallahu al-azhim setelah selesai membaca Alquran merupakan salah satu bentuk adab membaca Alquran.

Wallahu Subhanahu wa Ta’ala A’lam

(Sumber: Kalam.Sindonews.com/wh)

Facebook Comments
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar