BERANDA DAKWAH USTADZ

Silaturrahim Dilandasi Keimanan dan Ketaqwaan

Silaturrahim Dilandasi Keimanan dan Ketaqwaan

Ta’lim Prof Dr K.H. Didin Hafidhuddin

Disarikan oleh : Prof. Dr. Bustanul Arifin

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Kita sekarang telah memasuki bulan Syawal, setelah sebulan penuh menjalankan puasa Ramadhan. Semoga puasa dan amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Masyarakat muslim di Indonesia, di Asia Tenggara dan di beberapa negara lain umumnya menggelar acara Silaturrahim dengan berbagai bentuknya. Dalam pandangan dan nilai-nilai keislaman, silaturrahmi merupakan bagian penting dalam kehidupan. Bahkan merupakan kebutuhan dan keharusan. Hal yang perlu dinggat adalah bahwa silaturrahim perlu dilandasi iman dan taqwa. Dalam Al-Quran Surat An-Nisa’ 1 ditekankan bahwa “1. Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu”.

Esensinya adalah bahwa silaturrahim perlu dilandasi keimanan dan ketaqwaan. Silaturrahim dan ketqwaan adalah dua sisi dari satu mata uang. Silaturtahim adalah gaya hidup orang beriman, apapun profesi dan jabatannya. Silatrrahim harus diteruskan, untuk meningkatkan kehidupan, karena manusia pasti saling membutuhkan, saling mendukung. Dalam Al-Quran Surat At-Taubah 71, “.Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah.

Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana”. Perilaku utama ummat muslim yang memperoleh keberhasilan adalah karena mendapat rahmat dan pertolongan Allah. Tidak mungkin keberhasilan dan keberkahan itu diraih jila hanya menhandalkan kerja fikir kita semata. Tapi, sebaliknya, pertolongan Allah pun harus kita upayakan. Konteksnya adalah keseimbangan antara ikhtiar dan doa. Para Founding Fathers dan pendiri negara Indonesia itu telah menulis dan mengabadikannya di dalam Pembukaan UUD 1945, khususnya pada Alinea ke-3 yang indah sekali. “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” Suatu ikhtiar yang dilandasari keyakinan penuh kepada Allah SWT. Pendiri negara ini adalah orang-orang yang bertauhid, bukan orang komunis. Beliau-beliau adalah orang beriman dan kaum muslimin. Sebenarnya di Indonesia tidak ada hak hidup bagi orang yang tidak beriman. Apalagi pada masa Pandemi Covid 19, kita tidak mungkin hanya mengandalkan kekuatan pikiran semata, tapi perlu keimanan.

Orang yang mendapatkan rahmat Allah adalah orang yang beriman, yang sungguh-sungguh berupaya mencari ridha Allah. Iman di sini adalah apa yang terhujam di dalam hati dan dibenarkan dengan amal perbuatan. Orang yang beriman adalah orang yang jujur dan amanah. Jika ada orang islam tidak jujur dan tidak amanah, itu amat memalukan sekali. Singkatnya adalah bahwa “Tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah. Tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji.” Amanah akan menarik rizki. Sebalinya, khiyanat akan menyebabkan kefakiran. Kemakmuran suatu negara ditentukan oleh keamanahan para pemimpin, bukan hanya sumbedaya alam (SDA) saja. Jika para pemimpin amanah, negeri ini pasti maju dan makmur. Jadi, kembali kepada makna silaturrahim, silaturrahim itu saling mendukung satu dengan lain. Silaturrahmi merupakan kekuatan saling untuk berkolaborasi, saling berukhuwah, saling mengisi kekurangan, bukan saling menggunting dalam lipatan.

Berita Terkait

Dalam Al-Quran Surat Al-Hujurat: 10-11, yang artinya, “ Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok).

Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim”. Sesama orang mu’mini dilarang saling menghina satu dengan lain. Kita dilarang meramaikan aib orang lain, walaupun fakta ini memang benar adanya. Medsos dapat menjadi bagian penting dari pencerahan, bukan ajang untuk membuka aib orang lain, bukan untuk memfitnah dan saling menjatuhkan. Kita orang mu’min perlu mengerahkan segala potensi untuk membangun ukhuwah islamiyaj, kejayanaan ummat, kejayaan bangsa.

Ukhuwah Islamiyah yang benar adalah ukhuwah yang menghasilkan amar maruf dan nahi munkar. Ada pengalaman sendiri, ketika dahulu mempimpin Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Pada waktu itu pernah ada suatu BUMN yang menjadi pelopor untuk membayar zakat ke Baznas, tetapi sepenuhnya diserahkan pada kesadaran sendiri, kepada masing-masing. Ternyata satu tahun hanya terkumpul zakat Rp 154 juta. Kemudian, ketika seorang Dirut menerbitian Surat Keputusan (SK) yang mewajibkan seluruh karyawannya membayar zakat lewat Baznas, maka terkumpul zakat sebesar Rp 5,2 miliar, walau pada awalnya ada yang protes.

Tapi, Alhamdulillah, lama-lama zakat itu menjadi kebutuhan bagi setiap individu karyawan untuk mengeluarkan zakatnya, untuk mensucikan hartanya. Peran kaum wanita (ibu-ibu) juga sangat besar dalam menggerakkan sesuatu, dalam dalam menghidupkan pengajian, termasuk dalam berinfaq dan membayar zakat. Ibu-ibu biasanya mampu membuat suasana lebih ramai. Setidaknya, begitu selesai pengajian, ibu-ibu bercerita substansi pengajian pengajian kepada suami dan anaknya. Bapak-bapak biasanya jarang bercerita banyak tentang substansi pengajian, lebih banyak disimpan untuk pengetahuan sendiri. Dalam konteks yang lebih umum, jadilah pemain, jangan jadi penonton saja. Yang dapat menjadi juara atau pememang adalah pemain, bukan penonton. Tidak ada penonton yang pernah menjadi juara.

Rasulullah SAW pernah ditanya oleh para sahabat, “Amal apa yang paling utama ya Rasulullah? Beliau menjawab, “Shalat di awal waktunya”. Sekarang sudah banyak para orang tua muda untuk menghidupkan suatu gerakan mengajak anak-anak shalat di awal waktu. Gerakan ini tentu baika, karena akan melahirkan suatu generasi yang disiplin, yang terlatih untuk mendirikan shalat di awal waktu, bukan generasi yang asyik dengan kegiatannua dan menyia-nyiakan shalat. Dala, Al-Quran Surat Maryam 59-60, Allah SWT berfirman, “Akan lahir generasi berikutnya yang menyia-nyiakan shalat dan menggubakan hawa nafsunya. Buruk sangka terjadi karena sering menyia-nyiakan shalat, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun”

Silaturrahim yang dilandasi ketaqwaan sebenarnya akan melahirkan kesadaran berinfaq dan berzakat. Di dalam Al-Quran zakat sering dipertentangkan dengan riba. Ekonomi ribawi tidak akan pernah berkembang. Tapi, ekonomi yang dilandasi Syariah, mengedepankan zakat, infaq dan shadaqah pasti akan berkembang dan memakmurkan. Kembali pada aplikasi dalam kehidupan pribadi masing-masing, jika kita memiliki penghasilan, langsung saja keluarkan zakatnya, minimal 2,5 persen. Menghitung zakat itu tidak sulit, tetapi sangat mudah. Tidak perlu terpengaruh dengan pendapat bahwa menghitung zakat cukup kompleks dan ribet. Sama sekali tidak. Menghitung zakat sangat mudah.

Apabila harta sudah sampai pada nisabnya selama satu tahun, maka keluarkanlah zakatnya. Ingat, Allah akan menghancurkan riba dan mengembangkan shadaqah. Konteks dalam silaturrahim yang dilandasai ketaqwaan adalah semangat memberi, semangat berbagi kepada mereka yang berhak, yang kurang mampu. Di depan di setiap rumah kita, ada dua malaikat yang senantiasa langsung mendoakan kebaikan bagi penghuni rumah yang gemar berinfaq dan bersedekah, dan sebaliknya bagi penghuni rumah yang kikir, tidak pernah berinfaq dalam hidupnya. Terakhir, silaturrahim yang dilandasai ketaqwaan adalah kesadasaran atau dorongan untuk beriman dan beramal shalih, yang akan menuntun kita ke jalan yang diridhai Allah SWT. Walaupun kondisi saat ini, kita tidak dapat bersilaturrahim, bertatap muka dan bersalaman secara langsung, silaturrahmi virtual seperti ini, apalagi yang diikuti kesediaan untuk saling mendoakan, insya Allah pahalanya juga akan terus mengalir, sampai akhir zaman.

Facebook Comments
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: