DAKWAH MUTIARA HIKMAH UTAMA

Hikmah Malam: Memanjangkan Umur Orangtua

Ilustrasi

HAJINEWS.ID- Umur panjang merupakan karunia Allah SWT kepada hambaNya. Umur panjang yang dimaksud bukan dalam pengertian sepanjang penanggalan tetapi yang dimaksud umur panjang adalah bagaimana orang tersebut meskipun sudah meninggal tetapi dikenang dan tetap bersambung antara keluarga yang meninggal dengan yang ditinggalkannya.

Peran anak sholeh yang bagaimanakah yang bisa memanjangkan umur orangtua ini, Dalam sebuah hadis Rasulullah pernah bersabda : Diriwayatkan daripada Anas bin Malik ra katanya: “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW besabda: Barang-siapa yang menginginkan rezekinya dimudahkan dan usianya dipanjangkan maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhori, Muslim, Abu Dawud Ahmad bin Hambal).

Diriwayatkan pula dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW. bersabda : “Sesungguhnya bersedekah dan menyambung hubungan sanak keluarga yang terputus akan ditambah umurnya oleh Allah, menolak mati mendadak dan perkara yang tidak disukai dan yang dikhawatirkan terjadi.” (H.R. Abu Ya’la).

Adh Dhohak berkata dalam menafsiri ayat : “Allah menghapus apa yang dikehendaki dan menetapkannya”.

Sesungguhnya seorang lelaki yang usianya tinggal tiga hari, lantas menyambung sanak keluarga yang putus. Allah menambah usianya menjadi tiga puluh tahun lagi. Dan sesung-guhnya seorang lelaki yang usianya masih panjang sekitar tiga puluh tahun lagi, lalu memutus hubungan dengan sanak kerabat, maka usianya diperpendek hingga menjadi tiga hari.

Diriwayatkan, bahwa malaikat yang bertugas mengambil roh pernah datang kepada nabi Daud memberitahu kepadanya bahwa usia lelaki itu tinggal enam hari lagi, ternyata setelah beberapa tahun, nabi Daud jumpa dengan orang itu lagi dalam keadaan hidup. Malaikat yang bertugas kematian ditanyai oleh nabi Daud, lalu dijawab ; Orang itu keluar dari rumahmu untuk menyambung sanak yang sudah terputus. Akhirnya Allah memperpanjang usianya hingga dua puluh tahun lagi.

Kita wajib bersyukur kepada Allah SWT karena mengirimkan perasaan kasih sayang yang dalam terhadap anak-anak di setiap dada para orangtuanya. Demikian pula anak yang sholeh di dadanya ditanamkan Allah perasaan untuk selalu ingin berbuat terbaik bagi kedua orang tuanya baik ketika masih hidup maupun sudah meninggal.

Bermula dari keharmonisan hubungan antara orangtua dan anak ini melahirkan kebaikan sosial masyarakat. Allah dan Rasul-Nya memuji keharmo­nisan hubungan ini, sehingga seolah-olah surga terletak di bawah telapak kaki para ibu. Bagaimana  upaya memanjang­kan umur orang tua agar terus-menerus terjalin hubungan harmonis, meskipun orangtua sudah tiada. Adakah cara yang efektif untuk tetap bersilaturahmi kepada mereka?

Dalam kitab Bujairimi, dan banyak kitab lain mengupasnya misalnya kitab Irsyadul Ibad  diceritakan bagaimana mimpi seorang ulama yang mampu melihat orang-orang yang me-ninggal di alam barzah beserta suka-dukanya. Dalam mimpi itu orang alim ini bertemu dengan para arwah yang telah mendahuluinya ada yang dikenal ada yang tidak. Suatu ketika dalam mimpi itu  bertemu dengan orang-orang  yang tengah berebut makanan yang datang kepada mereka secara rutin.

Rupaya mereka sering sekali mendapat kiriman namun tidak ditujukan pada seseorang. Rupa-nya orang alim ini memahami bahwa kiriman itu diketahui berasal dari orang-orang yang masih hidup yang membacakan doa untuk muslimin dan muslimat, atau membacakan ayat-ayat Alquran dan lain-lain. Pada salah satu tempat, ada seorang laki-laki yang tenang-tenang saja tidak ikut berebutan makanan padahal yang lain saling mendahului untuk mendapatkannya.

Untuk menghilangkan rasa penasaran, masih dalam mimpi itu, orang alim ini mendatanginya dan bertanya: “Mengapa bapak tidak ikut berebut makanan dengan yang lainnya, apa ada kesulitan untuk ikut serta mereka?.”

Lalu si Bapak ini menjawab: “Saya tidak perlu ikut berebut makanan dengan mereka sebab anakku sudah terbiasa mengirim pahala membaca Alquran secara rutin Aku merasa bahagia dan merasa cukup dengan doa-doa dan bacaan Alquran yang dibacakan oleh anakku. “Memangnya bapak ini siapa namanya, dan siapa nama anak bapak itu dan dimana alamatnya, jika diizinkan saya akan mengunjunginya.”

Berita Terkait

“Dengan bangga Bapak itu memberi tahu alamat dan nama anaknya.” Benar saja, ketika sadar dari mimpinya, orang alim ini buru-buru mencari alamat anak tersebut dan anehnya, persis tepat apa yang ada dalam mimpi tersebut.

Ketika dikonfirmasi betapa kagetnya, sebab nama orang yang ditemui di dalam mimpi dan ciri-cirinya persis seperti yang diceritakan anak itu. Lalu ketika ditanyakan benarkah suka membaca do’a dan Alquran ditujukan kepada orang tuanya, si anak dengan penuh bangga membenarkannya.

Kebenaran Sebuah Mimpi

Dalam kitab Raudhatun Nadziroh Tatlubul Akhiroh, disebutkan bahwa menurut Rasulullah saw mimpi bagi orang alim (sholeh) merupakan 1/46 sifat nubuwah dan dipastikan berasal dari Allah SWT. Artinya merupakan sebuah keistimewaan yang diberikan Allah kepada orang alim mirip wahyu/mu’jizat yang diturun-kan Allah kepada nabi dan Rasul-Nya.

“Dari Anas ra berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Mimpi baik dari seorang laki-laki yang sholeh merupakan 1/46 bagian dari wahyu.” 

“dari Abi Hurairah ra berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Belum cukup memiliki sifat nubuwah kecuali telah memiliki mubasyirot. Para sahabat bertanya apakah mubasyirot itu? Rasul menjawab: Mimpi yang baik” (HR. Bukhori).

Dalam kitab Shoheh Bukhori Rasulullah SAW bersabda bahwa mimpi yang baik adalah berasal dari Allah dan mimpi jelek berasal dari syetan.

Hakekat Panjang Umur

Dari peristiwa yang terdapat dalam kitab Bujairimi dan kitab Irsyadul Ibad juga dibernarkan oleh Rasulullah SAW dalam hadis-hadisnya, ternyata bersilaturahmi kepada orangtua yang sudah meninggal sangat bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan mereka.

Inilah makna hakekat dari dipanjangkan umurnya. Menurut kitab ini, panjang umur adalah memiliki anak yang sholeh. Seperti dalam hadis tentang warisan anak soleh akan selalu mendoakan dan mengirimkan hadiah untuk orangtuanya. Bagaimana dengan Anda sudahkah selalu bersilaturahmi dengan orangtua yang masih hidup dan yang sudah wafat?

Wallahu a’lam.

(fur/wongsantun/fur)

Facebook Comments
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: