BERANDA RAMADHAN USTADZ

Welcome Hari Kemenangan, Menang Apa? Kalahkan Apa?

 

Ramadhan, Covid, dan Great Habit :  Welcome Hari Kemenangan, Menang Apa? Kalahkan Apa?

22 Mei 2020, ba’da Asyar
Oleh: Ali Murtadlo, Kabar Gembira Indonesia (KGI)

“Kita telah kembali dari jihad kecil
menuju jihad yang lebih besar,” sabda Nabi
usai pulang dari Perang Tabuk.
Mereka bertanya: “apakah jihad yang lebih
besar itu, wahai nabi.”
Beliau menjawab, “jihad hati” (HR Baihaqi).

Jihad hati: perang melawan hawa nafsu. Seberapa berat? Berat sekali. Hati inilah pengendali utama tingkah laku kita. Sedang enak-enaknya ber-HP, istri tiba-tiba meminta kita untuk menemaninya ke pasar. Sabarkah kita? Berhenti di lampu merah, tiba-tiba ditabrak dari belakang, bertengkarkah kita? Sudah bertekad bulat mudik, disuruh putar balik, ngamuk. Sukseskah latihan bersabarnya? Itu bab kesabaran.

Berita Terkait

Lain lagi dengan ikhlas. Lagi ke mall, seperti biasa HP tak pernah lupa, selalu berada di tangan, begitu milih-milih baju, lupa HP tergeletak di mana? Hilang. Ikhlaskah kita? Motor diparkir depan supermarket, hanya 5 menit, balik, sudah raib. Ikhlaskah kita? Suami atau istri yang menemani kita puluhan tahun mendahului kita, ikhlaskah kita? Membayangkan saja berat, apalagi menjalani? Maka, kita memahami bagaimana dua presiden kita begitu berat kehilangan the first lady: Pak Habibie dan Pak SBY.

Hati juga diberi dua pilihan oleh Allah: Fujuroha (jalan kemaksiatan), wataqwaha (dan jalan kebaikan). Bagaimanakah hati kita memilihnya? Sementara godaannya begitu besar. Mau bangun jam 3 pagi saja seperti di-training-kan selama puasa ini, hati kita menawar, 15 menit lagi. Begitu tawaran ini kita terima, sudah pasti ambyar. Habit bangun jam 3 yang dilatih selama puasa, gagal total.

Dengar adzan, sedang asyik HPan. Ditawar apa? Nanti saja, nunggu qomat. Akhirnya kehilangan rawatibnya, qobliyahnya. Atau bahkan kehilangan rokaat pertamanya. Lalu ngaji Qur’an. Perbincangan kita masih: sudah katam berapa kali? Sudah one day one juz belum. Sudah ikut grup kataman mana saja. Perbincangan tentang membaca apa, maknanya apa, masih langka. Padahal, Quran adalah way of life. Bagaimana kita mengetahui “kita disuruh apa” atau “dilarang apa” atau “diberi ibrah apa” tanpa membaca maknanya? Saatnya, perbincangannya sudah: one day, one ayat plus maknanya. Atau lebih dari itu.

Dan ini yang tersulit, sholat kita. Sudah bereskah hati kita menanganinya? Rata-rata ukuran yang kita gunakan masih: sholat tepat waktu, berjamaah, lalu khusyuk. Padahal ada KPI (key performance indicators) lainnya yang sangat berat. Yakni: Al-Ankabut 45 bahwa ukuran keberhasilan sholat kita adalah: tanha ‘anil fahsyai wal munkar. Harus bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Jadi pertanyaan kita: apakah sholat kita sudah membuat kita “zero maksiat”? Kalau sudah: congratulation, selamat. Anda sudah lolos menjadi muslim yang kaffah. Seratus persen amal sholeh, nol persen maksiat. Sangat layak Anda mendapatkan ucapan “Selamat Meraih Kemenangan.” Barokalloh.

Sumber : Kabar Gembira Indonesia (KGI)

Facebook Comments
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar