BERANDA DAKWAH

Rahasia Dua Kalimat Syahadat

 

RAHASIA DUA KALIMAT SYAHADAT
(Kajian Jum’at)

Pondasi Islam adalah syahadat, di atas syahadat inilah bangunan Islam ditegakkan.
Oleh karena itu, ketika nabi ﷺ menjelaskan pilar-pilar Islam, beliau ﷺ mengawalinya dengan syahadat.
بُنِيَ الْإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إلهَ إِلاَّ الله ُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ.
“Islam dibangun di atas lima perkara: Syahadat, bahwa tiada tuhan yang berhak disembah, kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan.” (HR. al-Bukhari, Muslim).

Syahadat disebut dalam urutan pertama berarti apa yang sesudahnya berpijak kepadanya, tegasnya apa yang sesudahnya yaitu mendirikan shalat, membayar zakat, haji, dan puasa tidak sah dan tidak diterima tanpa pijakan syahadat.
Maka di dalam Alquran, Allah selalu mengindukkan amal shalih kepada iman, karena itu barangsiapa tidak beriman, maka amal shalih tidak berguna baginya.

Dari hadits Aisyah yang bertanya kepada Nabi ﷺ: “Ya Rasulullah, Ibnu Jud’an semasa jahiliyah bersilaturahim dan memberi makan orang miskin. Apakah itu berguna baginya?”
Nabi ﷺ menjawab:
لَا يَنْفَـعُهُ، إِنَّهُ لَمْ يَقُـلْ يَوْمًا: رَبِّ اغْفِـرْ لِيْ خَطِيْئَتِيْ يَوْمَ الدِّيْنِ.
“Tidak berguna baginya, karena dia tidak pernah suatu hari pun berkata, ‘Ya Rabbi, ampunilah kesalahanku pada Hari Pembalasan’.” (HR. Muslim).

Di antara Firman Allah ﷻ,
وَمَامَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلآَّ أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللهِ وَبِرَسُولِهِ
“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” (At-Taubah: 54).

Oleh karena itu, ketika Nabi ﷺ mengutus Mu’adz bin Jabal sebagai hakim dan da’i ke Yaman, beliau ﷺ berpesan agar memulai dakwah dengan syahadat.

Sabda beliau ﷺ,
اُدْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إله إِلاَّ الله، وَأَنِّيْ رَسُوْلُ الله، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْكَ لذلك فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ الله َ قَدِ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْكَ لذلك فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ الله افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ، تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ.
“Ajaklah mereka kepada syahadat, bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa aku adalah Rasulullah, jika mereka telah mematuhimu dalam hal itu, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu sehari semalam, jika mereka telah mematuhimu dalam hal itu maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka zakat pada harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya dari mereka dan diberikan kepada orang-orang miskin dari mereka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas).

Apa itu syahadat?
Syahadat adalah persaksian dengan dasar keyakinan yang kuat di dalam hati. Syahadat ini terbagi menjadi dua:

Pertama:
Syahadat tauhid yaitu ucapan لَا إله إِلَّا اللهُ
Berarti tidak ada apapun atau siapapun yang hak disembah kecuali Allah semata.
Syahadat ini menuntut pemurnian ibadah semata-mata untuk Allah ﷻ, dan membuang syirik yang berarti menduakan Allah dalam beribadah.

Firman Allah ﷻ,
لآَإِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَ انْفِصَامَ لَهَا
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat.” (QS. Al-Baqarah: 256).

Di dunia, barangsiapa bersyahadat, maka dia adalah seorang Muslim, baginya hak yang sederajat dengan kaum Muslimin dan atasnya kewajiban yang sederajat dengan kaum Muslimin, terlindungi darah, harta, dan keluarganya.

Adapun akibat dari syahadat di akhirat, maka kunci gerbang Akhirat adalah ‘la ilaha illallah‘ di mana Rasulullah ﷺ memerintahkan mentalqin orang yang menghadapi ajal dengan kalimat ‘la ilaha illallah‘.

Sabda beliau ﷺ,
لَقِّـنُوْا مَوْتَاكُمْ لَا إلهَ إِلَّا الله.
“Talqin-lah orang yang hendak meninggal di antara kamu dengan la ilaha illallah.” (HR. Muslim dari Abu Sa’id).

Di alam akhirat terdapat dua janji utama yang menggembirakan bagi orang yang mengikrarkan diri dengan kalimat syahadat:

1. Jaminan Surga.

Berita Terkait

Nabi ﷺ bersabda,
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إله إِلَّا الله دَخَلَ الْجَنَّةَ.
“Barangsiapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, maka dia masuk Surga.” (HR. Muslim dari Usman).

Nabi ﷺ bersabda,
مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إلهَ إِلَّا الله ُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله حَرَّمَ الله عَلَيْهِ النَّارَ.
“Barangsiapa bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, maka Allah mengharamkan Neraka atasnya.” (HR. Muslim dari Ubadah bin Shamit).

2. Jaminan tidak kekal di Neraka.

Orang yang bersaksi ‘la ilaha illallah‘ meskipun dia masuk dan diazab di Neraka, pasti dia akan dikeluarkan darinya dan dipindahkan ke Surga, baik dengan syafa’at atau tanpa syafa’at.

Nabi ﷺ bersabda,
يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ إله إِلاَّ الله ، وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ شَعِيْرَةٍ مِنْ خَيْرٍ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ إله إِلاَّ الله، وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ بُرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ إلهَ إِلاَّ الله، وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ.
“Akan keluar dari Neraka orang yang mengucapkan la ilaha illallah yang di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji jewawut. Keluar dari Neraka orang yang mengucapkan ‘la ilaha illallah’ yang di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji gandum. Keluar dari Neraka orang yang mengucapkan la ilaha illallah yang di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji dzarrah.” (HR. al-Bukhari dari Anas bin Malik).

Kedua:
Syahadat risalah yaitu ucapan مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ الله
Makna dari syahadat ini adalah pengakuan lahir batin bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Syahadat ini dilandasi oleh dua pilar pokok yaitu ‘hamba-Nya’ dan ‘utusan-Nya’. Kata pertama berfungsi menutup peluang sikap berlebihan terhadap Rasulullah yang mungkin menyeret kepada pemberian hak rububiyah dan uluhiyah kepadanya, padahal hak tersebut hanyalah milik Allah semata, dan ini berarti mensejajarkan Rasulullah dengan Allah, dan inilah pembatal syahadat itu sendiri.

Dalam beberapa ayat, Allah ﷻ memberi gelar abdun (hamba) kepada Nabi-Nya, karena inilah gelar termulia bagi manusia.

Salah satu ayat tersebut adalah,
الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَنزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَل لَّهُ عِوَجَا
“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya al-Kitab (al-Qur`an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya.” (QS. Al-Kahfi: 1).

Dan Rasulullah sendiri telah menyatakan dirinya adalah abdullah (hamba Allah). Sabda Nabi ﷺ,
لَا تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقُـوْلُوْا: عَـبْدُ الله وَرَسُوْلُهُ.
“Janganlah kamu memujiku berlebih-lebihan seperti orang-orang Nasrani melakukan itu kepada putra Maryam. Aku hanyalah hamba, maka katakanlah, ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya’.” (HR. al-Bukhari dari Umar).

Kata kedua adalah ‘Rasul-Nya’ yang berarti bahwa beliau adalah utusan Allah kepada seluruh alam sebagai penyampai berita gembira dan pemberi peringatan.

Firman Allah ﷻ,
إِنَّآ أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا
“Sesungguhnya, Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” (QS. Al-Baqarah: 119).

Kata ini menutup sikap meremehkan Rasulullah ﷺ, dengan asumsi bahwa beliau adalah manusia biasa, bisa benar, bisa pula salah.

Konsekuensi syahadat risalah ini adalah ittiba’, yaitu mengikuti Rasulullah ﷺ dengan beriman kepadanya, membenarkan perintahnya, menjauhi larangannya, menomor-satukan sabdanya dan mencukupkan diri dengan mengamalkan Sunnahnya tanpa melakukan penambahan ataupun pengurangan terhadap ajarannya dalam beribadah kepada Allah.
Semua itu adalah hak beliau sebagai Rasulullah atas kita, jika kita mengakui beliau sebagai Rasul Allah.

Selanjutnya kita bershalawat kepada Rasulullah ﷺ dengan dasar perintah dari Allah.
Firman Allah ﷻ,
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab: 56).
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

Facebook Comments
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar