BERANDA KOLOM RAMADHAN

Ramadan, Covid, dan Great Habit : Susah Payah Bentuk Great Habit, Bagaimana agar Tidak Lepas?

Ali Murtadlo
 

Ramadan, Covid, dan Great Habit : Susah Payah Bentuk Great Habit, Bagaimana agar Tidak Lepas?

21 Mei 2020, ba’da Asyar
Oleh: Ali Murtadlo

“…kemudian mereka istiqomah/meneguhkan
pendirian mereka, maka malaikat akan turun
kepada mereka dengan mengatakan: janganlah
kamu takut dan janganlah kamu sedih, dan
gembirakanlah mereka, dengan surga
yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”
(Surat Fussilat 30).

Itulah hadiah Allah kepada orang yang istiqomah, yang teguh pendirian, yang konsisten. Luar biasa, semoga kita bisa meraihnya. Pertanyaannya: bisa istiqomahkah kita? Bisa terus mempraktikkan apa yang telah kita jalani selama puasakah kita?

Berita Terkait

Tetap bisa bangun jam 3 pagikah kita. Dua hari lagi, ketika kita sudah tidak puasa lagi, masihkah kita termotivasi bangun jam 3? Bukan untuk sahur karena justru dilarang puasa saat Idul Fitri, untuk qiyamul lail, tahajud. Jika motivasinya masih sebesar ketika mau sahur, berarti great habit bangun jam 3 masih nyantol. Melekat, built in. Jika kita teruskan tiap hari pasca Ramadan, sudah akan menjadi “live style”. Pola hidup memulai hari pukul 3 dinihari. Sungguh hikmah puasa yang besar sekali. Anda tergabung di The 3 AM Club yang manfaatnya luar biasa (baca The 3 AM Club 17 Mei)

Bagaimana kalau balik ke “bad habit” bangun setelah Subuh? Berarti great habitnya belum nyantol, belum masuk subconcious mind, otak bawah sadar. Autopilotnya masih ke bad habid: bangun setelah Subuh.

Jika ada temptation (godaan) untuk molor, maka berdasar hukum “habit forming” harus dilawan. Tidak boleh ditoleransi. Sekali kita menoleransi, bakal gagal pembentukan great habitnya. Karena itu, ketika jam 3 sudah bangun, dan tergoda untuk tidur 15 menit lagi, harus dilawan. Cepat bangun. Kalau perlu beri hadiah: susu hangat misalnya, baju takwa atau sarung baru atau sajadah tebal yang membuat kita segera ingin bangun dan menikmati hadiah itu. Taruh di sekitar tempat tidur, biar semakin membangkitkan proses wake up.

Jadi jangan memberikan toleransi. Misalnya, “hari ini weekend, jadi bolehlah saya molor sedikit.” Atau: “Saya kan baru tidur jam 12 malam, bolehlah molor sedikit.” Itulah perusak habit yang kita bangun. Subconcious mind kita bingung merekamnya. Sekali lagi, perlu konsistensi atau sikap istiqomah untuk membentuk habit menjadi tahap autopilot atau otomatis. Dan itulah yang akan menentukan siapakah kita, bakal ekselenkah hidup kita:
We are what we repeteadly do.
Excellence then is not an act. It is a habit
(Aristotle)

Sumber : Kabar Gembira Indonesia

Facebook Comments
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar