CORONAVIRUS KESEHATAN OPINI UTAMA

Antisipasi Dampak Covid-19 Versi Ketat, Versi Longgar

Ilustrasi
 

 

Oleh: Dr.Abidinsyah Siregar

Beberapa hari terakhir kita dihadapkan berbagai berita yang sangat dinamis. Mulai dari perlunya diperketat PSBB dan perlu diberlakukan sanksi.

Kebijakan sektoral pelonggaran PSBB berupa Relaksasi Transportasi darat, laut dan udara, sehingga terminal, bandara dan pelabuhan mendadak ramai kerumunan.

Tiba-tiba muncul berita boleh mudik, saat yang sama semua berkampanye jangan mudik yang dipertegas Ketua Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19, dan para penyanyi mencipta lagu “jangan mudik” dan “Dirumahaja”.

Penerbangan dinyatakan dibuka dengan protokol kesehatan yang ketat asal menggunakan Surat Tugas atau Surat Sakit. Uniknya Surat-surat itu bisa dipesan online.

Dalam foto tampak kerumunan calon penumpang di Terminal 2 Bandara Soetta, bahkan penumpang di dalam pesawat duduk tanpa jarak.

Di jalan-jalan terasa volume lalu lintas mulai padat dan macet, serta di berbagai pasar masyarakat sudah berkerumun.

APA YANG TERJADI

Berawal dari Tweet Presiden Jokowi pada 16 Mei 2020 jam 12.29 WIB, “WHO menyatakan bahwa kita harus hidup berdampingan dengan Covid-19. Mengapa?, Karena ada potensi bahwa virus ini tidak akan segera menghilang dan tetap ada di tengah masyarakat”.

Sebelumnya juga sudah diucapkan bapak Presiden, terkait evaluasi luas atas penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan di berbagai wilayah.

Presiden Jokowi menegaskan maksud pernyataan hidup berdampingan bukan berarti masyarakat menyerah, sebaliknya justru bentuk dari penyesuaian diri.

Sayangnya sebahagian masyarakat membaca dengan impian kebebasan. Menganggap Indonesia sudah bebas Covid-19.

Sementara masyarakat yang mulai tahu, sadar sosial dan patuh imbauan Pemerintah, serta para tenaga kesehatan yang bekerja di fasilitas kesehatan khususnya Rujukan Covid-19, kaget dan merasa miris dengan situasi yang baginya tidak masuk akal.

JANGAN SALAH PAHAM

Sampai saat ini, tidak ada indikasi apapun yang menunjukkan bahwa pertambahan kasus Positif Covid-19 di Indonesia sudah melambat apalagi menurun.

Rata-rata pertambahan kasus perhari di atas 400 orang dan bahkan kadang lebih 600 orang. Pertambahan ini masuk kualifikasi tertinggi di dunia.

Ini menunjukkan betapa rentan dan masifnya penyebaran Covid-19 di tengah masyarakat.

Berbeda hal dengan Negara tetangga sesama ASEAN umumnya sudah menurun bahkan nyaris bebas Covid-19. Beberapa Negara dengan kematian zero.

Mereka sudah bersiap perang sebelum Covid-19 datang. Kesiapsiagaan mereka sejak Januari 2020. Mereka berhasil mengendalikan dan menaklukkan, sehingga grafik sudah “nyungsep” sejak akhir April dan akan berakhir di bulan Mei.

Sementara kita sesuai gambar grafik tampak masih harus terus berperang. Berakhir kapan? Tergantung kedisiplinan dan kemauan bersama untuk bebas Covid-19.

Pernyataan Bapak Presiden Jokowi, perlu dipahami dengan bening dan di-konstruksi-kan dalam konteks untuk mencapai pertama, target pengendalian dan penanggulangan terhadap wabah Covid-19 terus dilanjutkan berbasis Protokol Kesehatan WHO dan UU No.6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan untuk mengawal Ketahanan Nasional dibidang Kesehatan.

Kedua untuk memberi ruang aktivitas perekonomian bagi masyarakat mencegah terjadinya collaps yang pada akhirnya bisa berujung ambruknya Ketahanan Nasional di bidang Sosial dan Ekonomi.

Profesor DR.Ir.Aida Vitalaya Sjafri Hubeis (Guru Besar IPB, Pakar Gender dan Pertanian Indonesia, Aktifis ICMI dan KAHMI), memberi komentar kepada penulis lewat WA, “Masalah pemiskinan akibat dampak Covid-19 sepertinya tidak hanya pada kelompok keluarga miskin tetapi juga sudah merambah ke kelompok menengah (border line).

Berita Terkait

Mereka tidak tercover oleh program bantuan sosial apa pun karena memang tidak miskin dan baru menjadi miskin. Ini yang belum dipikirkan oleh Pemerintah dan akan semakin banyak jumlahnya jika PSBB semakin lanjut”.

Maka sampailah kita pada pilihan sulit, antara PSBB ketat dan PSBB longgar.

Sekalipun terkesan ada pelonggaran aktifitas masyarakat, itu bukan solusi mengatasi ancaman terhadap infeksi ganas Virus Covid-19, sama sekali tidak, tetapi mendorong Keluarga lebih waspada.

Perlu pemahaman yang komprehensif dalam situasi yang sulit untuk menemukan celah kebaikan sekecil apapun itu, demi mencapai dua target dalam satu aksi.

Menjadi tugas bersama, seluruh komponen Bangsa, memaknai berdamai dengan COVID-19 sebagai pilihan sulit namun paling rasional untuk Negara yang kemampuannya terbatas.

SEJARAH KEMENANGAN

Rakyat negeri ini memiliki riwayat cemerlang dalam berbagai panggung sejarahnya.

Ketika Negara dalam posisi sulit, Rakyat maju ke depan mengambil inisiatif dan menjadi pionir mengatasi setiap masalah kebangsaan.

Ancaman penjajahan melahirkan Kebangkitan Nasional, Ancaman devide et impera melahirkan Soempah Pemoeda, Ancaman keterdidikan perempuan melahirkan RA Kartini.

Ancaman agresi kembali melahirkan Bung Tomo, Ancaman hilangnya aset laut melahirkan konvensi Djuanda, Ancaman komunisme melahirkan Kesaktian Pancasila, Ancaman terhadap keadilan melahirkan Reformasi

TITAH PRESIDEN

Presiden meminta rakyat Indonesia tidak menyerah kepada Covid-19, dan minta seluruh masyarakat dan Komponen Bangsa menyesuaikan diri dengan (karakter) Covid-19.

Jika dalam 5 bulan ini kita semua sudah paham bahwa karakter Virus Covid-19 itu adalah mudah berpindah antar manusia, dan jika terpapar akan mengancam Nyawa dan Ekonomi, maka sejumlah prinsip sehat harus kita dijalankan, yaitu :

1. S Sebisa mungkin Dirumahsaja
2. E Enyahkan kebiasaan buruk, gunakan Masker dan Cuci Tangan pakai sabun.
3. H Hindari stres, hindari kerumunan, sekalipun syukuran.
4. A Aktifitas fisik, olah raga ringan dan berjemur pagi 3x seminggu @ 30 menit.
5. T Tetap seimbangkan Dunia dan Akhirat, Tingkatkan Ketaqwaan.

Khususnya komunitas usia diatas 40 tahun dan apalagi dengan Comorbid (penyakit penyerta).

Dr.Daeng M Faqih,M.Hum/ Ketua Umum PB IDI, mengingatkan kematian covid-19 kebanyakan bukan murni karena virusnya, tetapi karena penyakit penyerta seperti Penyakit Jantung, Penyakit Paru, Diabetes dll.

Dr.Achmad Yurianto, Jurubicara Covid-19 lebih spesifik menyebutkan bahwa pengidap penyakit paru khususnya dengan TBC merupakan penyumbang kematian terbesar.
Tentu bagi perokok, saatnya berhenti atau extra hati-hati dan siapkan extra biaya kesehatan.

TETAP SABAR DAN TAWAKAL

Bersahabat dengan lawan (Covid-19), butuh kesabaran tinggi dan tawakal.

Dalam Al-Qur’an Surah Al-Zalzalah (Keguncangan) ayat ke 7-8 disebutkan “Fa may ya’mal-mitsqola dzarratin khairay yarah, wa may ya’mal mitsqola dzarratin syarray yarah”.
Artinya : Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat biji dzarrah, niscaya dia akan melihat balasan kebaikannya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat balasan (kejahatannya).

Selamat Hari Kebangkitan Nasional

Tetap Semangat#Dirumahsaja.

#Mencapai dua target dalam satu aksi.
#Setiap Kebaikan Berbalas Kebaikan

Jakarta, 20 Mei 2020, jam 00.20

*) Ahli Utama BKKBN dpk Kemenkes/ Ketua PP IPHI/ Mantan Deputi BKKBN/ Mantan Komisioner KPHI/ Mantan Direktur Pelay.Kes Tradisional Alternatif dan Komplementer Kemenkes RI/Alumnus Public Health Management Disaster, WHO Searo, Thailand/ Mantan Ketua PB IDI/ Ketua PP ICMI/ Ketua PP DMI/ Waketum DPP JBMI/ Ketua PP ASKLIN/ Penasehat BRINUS/ Ketua IKAL FK USU/ Penasehat Klub Gowes KOSEINDO/ Ketua Orbinda PP IKAL Lemhannas.

Facebook Comments
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar