CORONAVIRUS OPINI UTAMA

Nekad Keluar Rumah Berdalih Ibadah adalah Melawan Sunatullah

Ilustrasi corona
 

Oleh: Masrifan Djamil

Semua makhluk Allah itu mempunyai sunnatullah-nya. Penularan virus corona baru penyebab COVID-19 juga adalah sunnatullah. Setelah DKI menerapkan PSBB ada hasil bagus.

Hal itu terjadi karena dilakukan dengan ketat, serius, kerja keras, dibantu partisipasi warga, didukung wilayah sekitar (Bodetabek), maka Allah SWT menolong mereka. Tapi coba kita evaluasi nanti kalau stop PSBB tidak serempak dengan daerah sekitar Jakarta, tentu ada efeknya.

Surabaya menerapkan PSBB tetapi masih “belum turun setelah 7 hari”, karena masih banyak kerumunan, masjid masih ada jamaah, pasar masih buka, dll, jadi banyak pertemuan orang, kerumunan orang, pergerakan orang, dan tidak semua daerah di Jatim menerapkan PSBB serempak. Ini pola COVID-19 positif baru di Jatim 19 Mei 2020: asal daerah dari Kabupaten Malang dan Bojonegoro, dan satu orang tambahan masing-masing di Kota Surabaya, Kota Malang, Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Ponorogo.

Apalagi semua moda transportasi boleh jalan, dan belum disiplinnya masyarakat. Ini artinya orang sakit ringan COVID-19 atau Carrier/OTG bisa kemana-mana dan sangat mungkin menularkan penyakitnya, menyebarkan droplets yang mengandung virus.

Boleh kita yakin bahwa berdoa terutama di waktu puasa, yakin Allah SWT akan menolong karena doa saat Ramadhan makbul, tetapi kalau kita melanggar sunnatullah virus penyebab COVID-19 ya tidak berhasil.

Virus corona itu punya sunnatullah dan mereka taat kepada Allah. Contoh lain kegagalan doa, padahal dilakukan besar-besaran yaitu dulu PSSI mau main final melawan Thailand. Diadakanlah istighosah besar-besaran oleh Bapak Abu Rizal Bakri kala itu. Semua ulama DKI/Nasional diundang, doa istighosah dipanjatkan, khusyu’ banyak umat ikut hadir. Nyatanya  PSSI tetap kalah kan?.

Allah SWT mengabulkan doa hamba tergantung illat-nya, yakni amal kita. Siti Hajar harus kerja keras 7 x lari-lari di bukit Shofa dan Marwah, baru Allah mengijabah. Rasulullah SWT diberi kemenangan setelah berjuang maksimal, diusir (hijrah) ke Madinah, menggalang umat, risiko nyawa karena ikut perang menahan serangan Quraisy Makkah.

Lalu mendapat kemenangan memasuki kota Makkah, dan penduduknya takluk di tahun ke 8 setelah hijrah di Madinah. Lama kan, lewat proses, sunnatullah?

Jadi saudaraku semua, jangan mengejar sunnah muakkad tetapi meninggalkan kewajiban, sembari juga melanggar keharaman.

Apa kewajibannya? Mencegah jangan ketularan COVID-19 itu lebih didahulukan dari pada mengejar maslahah sunnah salat tarawih berjamaah atau salat Id di masjid atau lapangan besok waktu Idul Fitri. “Dar-ul mafasid aulaa min jalbil masholih”, meninggalkan (menghindar) mafsadat didahulukan daripada mencari suatu maslahat.

Keharamannya? Tidak menghindari penularan COVID-19, padahal ilmunya sudah diumumkan.

Berita Terkait

Saya mengajak sedulur (saudara) semua untuk tetap di rumah, apapun yang dikatakan orang lain meskipun juga ada pejabat. Faktual kasus covid-19 per hari bertambah di atas 400 orang kasus baru positif terkonfirmasi laboratorium PCR, ini menunjukkan bahwa penularan masih terus melaju kencang, belum mencapai puncaknya, dan itupun tidak menggambarkan jumlah kasus sebenarnya.

Perlu diketahui, pemeriksaan laborat kita, baik rapid test maupun PCR (konfirmasi/pasti) masih jauh di bawah negara-negara lain di dunia. Direkap statistik se dunia, kita posisinya di bawah (rata-rata 200 test setiap 1 juta penduduk) bersama 30 negara lainnya, yaitu Bolivia, Grenada, Saudi Arabia, Uganda, Nepal, Tunisia dll (lihat gambar di bawah, dari https://healthpolicy-watch.org/covid-19-testing-trends-globally-regionally/, diakses 19 Mei 2020).

Jumlah kasus yang ditemukan, bukan realitas yang sebenarnya.

Kaidah epidemiologi menjelaskan, dari test laboratorium yang masih amat kecil kapasitasnya tersebut (amat sangat terbatas dibanding jumlah penduduk dan dibanding negara lain), menunjukkan bahwa kasus yang ditemukan masih belum menggambarkan jumlah kasus riil yang terjadi.

Ini disebut sebagai fenomena “puncak gunung es di lautan”, di bawah puncak yang di bawah permukaan jauh lebih besar. Jadi angka riilnya kasus positif COVID-19 bisa 5 x lipat atau lebih dari yang ditemukan itu. Maka itu jangan main-main dengan kecilnya angka kita, dibanding USA dll. Jangan menganggap “tidak berbahaya”, apalagi menganggap tidak membahayakan rakyat. Di samping itu angka kematiannya juga sebagai penentu. Sekali lagi kita masih tinggi dibanding “umumnya” angka kematian akibat COVID-19 (statistik sekitar 3-4 persen).

Jangan ikut-ikutan masjidil haram Makkah jika mungkin ada kabar di sana boleh shalat berjamaah lagi atau melihat di TV kabel. Orang yang salat jamaah di sana itu adalah khusus pegawai masjidil haram. Dan mereka ditugasi menjaga azan dan salat lima waktu. Tidak ada masyarakat umum.

Kalau terkena COVID-19 seseorang harus masuk RS opname ya orang yang sakit itu sendiri. Orang lain (termasuk pejabatnya atau yang kirim kabar-kabar di whatsapp) tidak ikut dirawat. Keluarga pasti tidak bisa menunggu atau bezuk. Bahkan jika mati, tak ada yang takziyah. Kalau isolasi mandiri di rumah atau fasilitas lain juga begitu, orang yang sakit sendiri, tak boleh dijenguk, kecuali petugas kesehatan.

Jadi mari selamatkan diri dan keluarga, untuk sekarang ini, karena pertambahan kasus baru per hari se Indonesia kadang 600 lebih, kadang 500 lebih atau 400 lebih per hari, itu tanda penularan terus terjadi dengan laju yang kencang. Dan karena carrier itu 80 persen (mengandung virus tapi tanpa gejala / OTG), yang bersangkutan juga tidak menyadari, maka bagaimana upaya yang paling aman menyelamatkan diri jangan sampai ketularan, agar tetap sehat?

Ikutilah anjuran tinggal di rumah, jaga jarak dan memakai masker kalau ketemu orang, cuci tangan dengan sabun setelah menyentuh barang di luar rumah.

Sekali lagi, jika anda tertulari karena sembrono, menyepelekan, ketidak-tahuan (kebodohan) atau ikut-ikutan anjuran yang simpang siur, risiko tetap pada diri anda, keluarga anda.

Sekaligus jadi beban pelayanan kesehatan, mungkin menular ke orang lain (termasuk keluarga juga, menjadi beban orang lain) dan tenaga kesehatan. Maka lebih aman tetap sehat kan?

Bersabar dulu sementara. Sampai kapan? Sampai Indonesia diakui dunia memang nyata berhasil memberantas COVID-19, kasusnya tidak bertambah lagi, kasus kematian  menurun secara bermakna, dan terutama dinilai oleh WHO. Apapun kata orang tentang WHO, lembaga inilah yang paling kompeten menetapkan status kesehatan suatu negara di dunia.

(H. Dr. Masrifan Djamil, Ketua Litbang PP IPHI).

Facebook Comments
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
3
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar