BERANDA BERITA EKONOMI UMMAT UTAMA

Disepakati, Kawal Kebangkitan Ekonomi Umat di Harkitnas

 

JAKARTA, hajinews.id – Komunitas Rabu Hijrah dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional, kembali menggelar talkshow tentang kebangkitan ekonomi umat dengan mengundang para pembicara andal di bidangnya masing-masing, Rabu (20/5/2020) sore.

Sejumlah pembicara yang diundang pada talkshow yang telah memasuki edisi keempat dengan mengangkat tema “Roadmap Kebangkitan Ekonomi Islam” ini yaitu Sutan Emir Hidayat (Direktur Pendidikan dan Riset Keuangan Syariah – KNEKS), Muhammad Anwar Bashori (Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah – Bank Indonesia), dan Dwi Irianti Hadiningdyah (Direktur Pembiayaan Syariah – DJPPR Kementerian Keuangan).

Selain itu hadir Deden Firman Hendarsyah (Direktur Pengaturan dan Perizinan Perbankan Syariah – OJK) dan Arief Rosyid (Co-Founder Rabu Hijrah dan MPI) selaku host. Talkshow ini dilaksanakan melalui zoom meeting dan disaksikan puluhan peserta secara langsung di channel Youtube Rabu Hijrah.

Diskusi dimulai dengan paparan oleh Anwar Banshori yang menjelaskan, pilar pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di bank Indonesia. Di mana menurutnya, sektor-sektor Industri halal dan keuangan syariah harus terus dirorong sebagai arus pertumbuhan baru ekonomi Indonesia.

“Mohon maaf pendapatan kita di sektor Migas sudah menurun, sehingga kita harus berpikir bahwa ekonomi syariah ini adalah arus baru pertumbuhan ekonomi negara. Tiongkok telah menjadi eksportir utama baju muslim ke Timur Tengah, Thailand menjadi dapur halal dunia dan tetangga kita Malaysia ingin menjadi pusat Industri Halal dan Keuangan Syariah Global 2020. Kalau semua negara sudah bergerak dengan visi sementara kita hanya consume maka ujungnya satu ekonomi syariah bukan lagi sebagai pemain tapi kita menjadi korban kenapa, ” jelas Anwar.

Namun, ia menambahkan perkembangan ekonomi syariah di Indonesia telah berada di jalur yang tepat berbekal kebijakan pemerintah yang semakin berpihak pada keuangan syariah.

“Blueprint Kebijakan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah Bank Indonesia yang disahkan oleh tanggal 6 Juni 2017 telah menjadi dasar perumusan Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia oleh KNKS atau yang sekarang menjadi KNEKS dan diluncurkan oleh Presiden RI pada 14 Mei 2019,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Pembiayaan Syariah, Kementerian Keuangan Dwi Irianti Hadiningdyah menjelaskan perihal perkembangan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau  Sukuk Negara. Sukuk sendiri adalah produk investasi syariah yang diterbitkan oleh Pemerintah kepada individu atau warga negara yang aman, mudah, terjangkau, menguntungkan, dan sesuai syariah.

Pada Maret 2020 Kementerian Keuangan mencatat penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau  Sukuk Negara telah tembus hingga Rp 1.200 triliun. Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan menyebutkan sejak 2019 hingga 16 Januari 2020 jumlah Sukuk Negara yang telah diterbitkan mencapai Rp 1.230,44 triliun dengan outstanding sebesar Rp 738,37 triliun.

Oleh karena itu, kata Dwi Irianti, Sukuk di Indonesia cukup berperan penting untuk membantu pemerintah sebagai alternatif pembiayaan APBN, membiayai proyek pemerintah sehingga bisa menjadi pengganti utang luar negeri, mengembangkan pasar keuangan syariah hingga menyediakan benchmark bagi penerbitan sukuk korporasi.

“Saat pertama diterbitkan pada 2008 Sukuk kita ini di kancah global kita adalah penerbit Sukuk pertama di Dubai. Artinya selama lima tahun ini kita adalah leading the market baru saudi dubai baru malaysia, kenapa Sukuk malaysia lebih dikeal ini karena market korporasinya jauh lebih besar. Inilah tantangan buat kita untuk Sukuk di Indonesia sepertinya kita masih menjadi pemain tunggal karena korporasi masih sangat kecil,” paparnya.

Berita Terkait

Meski demikian dari outstanding hampir Rp 800 triliun, porsi kepemilikan Sukuk dari bank syariah masih sangat kecil, sekitar 7%. Hal ini, menurut Dwi Arianti juga disebabkan karena masyarakat juga belum sebesar mereka menabung di bank konvensional.

Padahal manfaat dari Sukuk ini, menurutnya amat besar ditinjau dari hasil investasi Sukuk di sektor infrastruktur.

“Sampai sekarang telah membiayai berbagai pembangunan infrastruktur seperti pembangunan Jalan dan Jembatan di 30 provinsi, pembagunan jalur kereta api, pembangunan dan pengembangan gedung perkuliahan di 62 perguruan tinggi, serta pengembangan dan revitalisasi asrama dan pusat layanan haji & umrah terpadu di 24 lokasi,” terangnya.

Indonesia Berpotensi Merebut Pasar Dunia

Ditinjau dari kondisi ekonomi syariah global, Direktur Pendidikan dan Riset Keuangan Syariah KNEKS mengatakan Indonesia punya peluang besar. Belanja masyarakat dunia untuk produk dan gaya hidup saat ini sangat besar. Mencapai 2,2 triliun dolar AS per tahun. Sebagai negara muslim terbesar  Indonesia memiliki peluang untuk merebut pasar tersebut.

“Kini Indonesia merangsek sebagai sebagai negara kelima terbaik pada Ekonomi Islam Global. Pertumbuhan itu menjadi yang tertinggi di antara negara lainnya dsetelah sebelumnnya berada di peringkat  di tambah kita punya sumber daya manusia yang besar dan kompeten di bidang halal food, kosmetik maupun industri pakaian,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa belanja makanan halal dunia mencapai1,369 miliar dolar AS, industri fashion sebesar 283 miliar dolar AS, Media & rekreasi 220 miliar dolar AS, dan farmasi serta kosmetik halal sebesar 189 miliar dolar AS.

Sementara itu peran perbankan syariah dalam membangun ekonomi umat cukup besar, seperti dijelaskan oleh Direktur Pengaturan dan Perizinan Perbankan Syariah OJK, Deden Firman Hendarsyah. Ia menjelaskan,  potensi pasar modal syariah Indonesia sangat besar, tidak hanya karena memiliki populasi muslim terbesar di dunia tapi juga karena industri halal dalam negeri yang terus berkembang.

Menurutnya, ada beberapa hal yang harus dilakukan agar perbankan dan ekonomi syariah berkembang seperti, operasional jasa keuangan syariah harus berinovasi untuk bisa terdepan dalam pelayanan berbasis digital.

Jasa keuangan syariah harus mampu melayani ekosistem ekonomi syaríah sehingga diperlukan dukungan induk usaha melalui konsep platform sharing. Serta diperlukan sinergi dan integrasi antara sektor riil keuangan komersial, dan keuangan sosial sehingga ketiga sektor tersebut dapat tumbuh secara bersama sama, dengan melibatkan stokeholders secara aktif.

“Kini salah satu tantangannya juga ialah bagaimana mengconect-kan sektor riil syariah dengan pembiayaan syariah. Namun, jika mencermati angka-angka ini ada harapan besar dari potensi 33 juta nasabah bank syariah sekarang yang didominasi oleh usia relatif muda. sehingga kedepannya mereka akan menjadj nasabah potensial di masa mendatang,” pungkasnya.

Perbankan dan ekonomi syariah memang menjadi salah satu fokus utama pemerintah. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo telah menargetkan Indonesia menjadi salah pemain utama ekonomi Syariah dunia dalam 5 tahun mendatang. Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia (MEKSI) memperkirakan ekonomi Syariah global diperkirakan akan mencapai USD 3 triliun pada 2023. (rah)

Facebook Comments
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar