BERANDA BISNIS UTAMA

Pengusaha Muda Ini Ajak Bangkit di Tengah Pandemi Corona

 

JAKARTA, hajinews.id-Muhammad Sirod, seorang pengusaha muda yang terkena dampak wabah Covid-19 berusaha bangkit dan mengajak teman-teman pengusaha lain untuk tidak patah semangat dan mencoba memanfaatkan peluang pandemi ini dengan tindakan positif.

Sirod sendiri sebenarnya adalah importir barang-barang katup air bermutu dari Eropa. Bisnisnya senilai Rp 15 miliar terganggu karena pelanggannya menunda pekerjaan dan tidak boleh ada orang yang berkunjung ke kantor mereka.

Selain itu, Sirod juga terlanjur menggelontorkan uang Rp 300 juta untuk me-rebranding cafe grup bisnisnya. Ini setelah pemerintah sudah memutuskan semi-lockdown di lokasi café yang dia bangun.

Bisnis digital marketingnya juga terhenti. Padahal ada proyek influencer untuk satu kegiatan kampanye positif untuk kegiatan satu kementerian, terhenti gara-gara perintah kerja dari rumah dan dilarang berkumpul dalam jumlah besar di ruang-ruang publik.

Sirod tidak sendiri, ada banyak anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang senasib seperti dia.  Sirod mengamini keluhan para pengurus HIPMI dan organisasi bisnis yang mengeluhkan terhentinya banyak pekerjaan. Sementara bulan Ramadan sudah masuk dalam hitungan minggu.

Berita Terkait

Karyawan harus tetap digaji dan uang THR harus disiapkan. Dia pun membuat beberapa slide presentasi yang dia bagikan di beragam grup media sosial untuk mengajak setiap UKM bergerak bersama mengatasi pandemi ini sampai kurva-nya melandai.

Bisnis yang ia maksud adalah bisnis pengadaan alat-alat pelindung diri (APD) yang terdiri dari coveral suit, surgical mask, goggles, non contact infrared thermometer sampai mesin-mesin ventilator yang saat ini sudah dicari-cari buyer dari pemerintah dan BUMN untuk didonasikan.

Ada triliunan rupiah di mana pemerintah menggelontorkan dana tambahan dari pemotongan APBN berbagai kementerian guna menangani wabah agar tidak menyebar dan mengurangi jatuhnya korban.

Tanpa langkah cepat, skillset pebisnis muda yang terampil dan terbiasa di media sosial, kebutuhan pemerintah tersebut akan sulit diakses dan disampaikan ke rumah sakit dan institusi-institusi yang membutuhkan.

Ia juga menekankan agar para pemangku kepentingan mengubah pola pengadaan dengan mengadopsi konsep “Agile” di mana anggaran diputuskan dengan cepat dan berbasis uang muka agar barang-barang berkualitas di pasaran dapat di-booking dengan cepat sehingga mengurangi mata rantai distribusi dan mengunci para spekulan APD. (wh)

 

Facebook Comments
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
1
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tambah Komentar

Tinggalkan Komentar