CORONAVIRUS KESEHATAN OPINI UTAMA

Membaca Pandemi Sebagai Peluang Bisnis Global

Oleh Masrifan Djamil*)

Virus korona baru (SARS-CoV-2) penyebab corona virus disease 19 (COVID-19) adalah virus RNA, tanpa kepala, tanpa tubuh, tanpa anggota badan, hanya bulatan dengan “amplop” dan “spikes” (tonjolan-tonjolan – untuk virus docking ke sel yang dituju), ukurannya cuma 60–140 nm (1 cm = 10.000.000 nanometer).

Namun mereka telah mengguncang dunia, menunda banyak event, membuat lock down kota atau negara dan jangan lupa, masjid ditutup. Kalau sekolah sudah jelas tutup karena langkah intervensi pengendalian penyakit menular, diliburkan 14 hari.

Pasar? Tergantung seberapa tinggi edukasi masyarakat, jika benar-benar tahu apa bahaya yang dihadapi dan terbangun kecemasan, bisa meledak sebentar karena aksi borong-borong, lalu sepi, semua kembali “sembunyi”. Jadi tergantung literasi masyarakat.

Sudah saya sampaikan kepada mahasiswa yang saya beri kuliah sejak Februari 2020, “Wabah ini termasuk masa depan anda”. Apa maksudnya? Jurusan analis kesehata misalnya, adalah program studi yang mencetak tenaga ahli madya laboratorium klinik, terlibat intens dengan penegakan diagnosa klinis dengan menetapkan penyebab penyakit secara laboratorium, baik microbiology, parasitologi, hematologi, imunoserologi (ELISA/enzyme-linked immunosorbent assay), analisis kandungan darah, PCR dll.

Kalau kita kembangkan jurusan-jurusan ini bersama Fakultas Kedokteran se Indonesia ini ke depan, bisa ke arah virologi dan biomolekuler. Oleh karena itu harus dikembangkan sebagai jurusan/fakultas yang andalan negeri kita, mempunyai mikroskop elektron, piranti keras untuk uji genome virus dll.

Oleh karena itu risetnya akan bisa mendeskripsikan virus secara detil dan bagaimana patologinya (bagaimana sifatnya, bagaimana cara menularnya, virulensinya/keganasannya, bagaimana mematikannya, atau apa obatnya), bagaimana isolasinya, bagaimana kulturnya dan ini yang sedang “dilombakan” pemain kelas dunia, membuat alat test deteksi virus korona, obat dan vaksin covid-19.

WABAH SEBAGAI PELUANG

Sejak Wuhan membara, semua itu tergambar jelas, maka kita harus bisa membaca threat (ancaman) sebagai opportunity (peluang). Mengapa? Karena dari peluang itu ada hal besar yang akan didapat: alat lab deteksi virus atau antigen atau antibodinya dari tubuh manusia, obat dan vaksin. Itu adalah barang dagangan (komoditas) yang amat mahal dan strategis bagi manusia se Dunia. Lahannya tak perlu ribuan hektar, tetapi luasan tanah terbatas berisi Laboratorium yang canggih, dengan biosafety level maximum (BSL 4) dengan SDM kelas dunia.

Bagaimana dengan kita? Seperti biasa belum pernah menang di medan ini. Meskipun sudah ada kabar menggembirakan, yakni dari Ketua Institut Eijkman Prof. Amin Soebandrio, MD, PhD, Clinical Microbiologist meyampaikan telah melangkah dan 18 bulan lagi menguji coba vaksin ke manusia bersama Biofarma. Namun Amerika dalam racing ini selalu menang, pekan kemarin NIH (National Institute of Health, lembaga milik pemerintah di bawah Kemenkesnya) telah menguji coba vaksin mRNA-1273 untuk manusia. Maka 18 bulan lagi vaksinnya siap edar, bila semua hasilnya baik.

Langkah mengambil peluang dari munculnya penyakit infeksi baru (new emerging disease) secara sederhana ialah sbb: Pertama, secara epidemiologi bagaimana menentukan kasus penyakit dan kematian di Wuhan China, apa penyebabnya (causation), ditemukanlah penyebabnya yakni virus corona Wuhan. Virus ini oleh WHO akhirnya diberi kode nCoV, lalu SARS-CoV-2, penyebab COVID-19 (corona virus disease year 19). China negara yang telah maju, maka mungkin mampu mandiri menemukan virusnya, mengisolasinya, medeteksi ciri-cirinya secara detil dan bagaimana patologinya, sehingga China juga mampu menemukan 3 ha esensial itu.

Kedua, dari karakteristik virus dan isolasinya lalu dikultur, maka akan diperoleh virus yang hidup dan keturunannya. Jika genome (ciri-ciri genetiknya) bisa dipetakan, dan struktur biologi virus secara detil terdeskrepsi, akan diketahui bagaimana virus hidup, target selnya (receptor, yaitu suatu protein di permukaan sel tubuh yang akan diinvasinya), bagaimana virus bisa dimatikan. Dari sifat-sifat itu akan diteliti lebih jauh bagaimana virus memicu repon imun penderita, dan akhirnya melemahkan virus dalam kondisi hidup untuk dijadikan vaksin.

Vaksinasi ialah memberikan kepada manusia live attenuated virus (dalam hal ini virus korona yang dilemahkan) agar tubuh manusia membentuk respon imun spesifik (membuat memory antigen dari virusnya). Maka jika terkena infeksi beneran SARS-CoV-2, tubuh manusia yang telah divaksin mampu meresponnya dengan mematikan virus yang masuk sehingga tidak jatuh sakit COVID-19 (preventif). Atau vaksin sebagai terapi untuk membasmi virus yang sudah masuk dalam tubuh manusia (kuratif).

MENGAPA AMERIKA DAN NEGARA MAJU SELALU DI DEPAN?

Informasi ini perlu diberikan kepada masyarakat luas khususnya generasi muda kita. Misalnya di Amerika biaya kuliah mahal sekali kecuali di State University (milik negara) lebih murah. Namun masyarakat bahkan perorangan generasi mudanya secara pribadi mampu mencapainya, karena pekerjaan banyak, dan upahnya memadai. Iklim pembelajaran dan kompetisi dunia ilmu di negeri itu luar biasa bagus.

Berita Terkait

Kedua, jam buka perpustakaan dan pengunjungnya (walaupun digitalisasi berjalan, perpustakaan hardcopy tetap berjalan, sebagai tempat, oase untuk belajar) di Amerika sebelah Timur buka dari jam 08.00 sampai jam 23.00, di Amerika sebelah Barat buka dari jam 08.00 sampai jam 24.00, pengunjung ramai. Di masa ujian perpustakaan di Amerika sebelah Timur buka dari jam 08.00 sampai jam 03.00 (dini hari), di Amerika Barat buka dari jam 08.00 08.00 (alias buka dua puluh empat jam), pengunjung berjubel.

Ilustrasinya bisa dikaji dari cerita ini: nasehat kawan saya seorang Amerika: “Jangan ‘judge’ kami dengan film hollywood ya”. Satu lagi bilang, “Film hollywood itu kreasi orang-orang gila dari California, tidak ada kenyataanya di masyarakat kami”. Mungkin maksudnya film-film drama dan aksi yang bukan TRUE STORY. Benar juga yang bisa saya amati, mereka sopan, sangat disiplin, selalu tepat waktu (punctuality), dan kuat membaca serta semangat belajar tinggi. Tolok ukur ini bisa dibandingkan dengan kita: mereka kuliah tepat waktu, semua seius menyimak, kalau dosen bilang “Any question?”, mahasiswa seolah lomba unjuk jari.

Dengan atmosfir kompetisi yang terbuka dan fair, seorang mahasiswa atau warga negara bahkan residen (penduduk bukan WN) di Amerika bisa memperoleh “award” apa saja baik berupa penghargaan, beasiswa atau biaya riset (research grant). Pembajakan dihukum berat, sehingga penulis, baik penulis fiksi, penulis buku, penulis textbook, penulis script film, penulis lagu, pencipta lagu, pembuat film termasuk aktornya, semua bisa hidup sejahtera, (layak atau dengan status tinggi). Pekerja biasa saja bisa liburan overseas (ke LN). Bagaimana mereka menjadi bangsa penemu, pemuda kita harus menonton film HIDDEN FIGURES, film yang menang festival di tahun 2017, menggambarkan usaha keras membuat pesawat ruang angkasa dengan uji coba puluhan kali gagal, namun akhirnya berhasil.

Kinerja keilmuan, tesis dan disertasi yang bagus, menulis dalam jurnal ilmiah (mereka jago karena faktor bahasa), menemukan alat atau teori menjadi bagian dari kebanggaan masyarakat Barat, termasuk yang disebut pahlawan. Hasil karya orisinil termasuk buku, tulisan, amat dihargai, dijaga dari pembajakan atau plagiasi. Plagiasi dan “cheating” (nyontek) bisa membatalkan nilai sampai gelar, artinya kinerja akademik yang tinggi dicapai dengan kualifikasi yang tinggi dan dijaga oleh semua pihak dengan ketat.

IKLIM KEILMUAN DI NEGERI KITA TERCINTA

Mungkin di kita masih pada level mencari bentuk pengembangan ilmuwan dan IPTEK, sehingga barangkali masih ada pengampunan agar mahasiswa bisa lulus walaupun nilai sebenarnya jauh dari lulus. Kita masih ribet dengan data absensi secara ketat, namun penghargaan bukan satu-satunya berbasis pada ilmu (obyektivitas dan keadilan) atau kepakaran. Doktor banyak yang tidak dihargai sebagai pakar dengan tunjangan khusus (dipetlakukan sama saja dengan yang bukan doktor), dan kurang didorong agar terus mengembangkan ilmunya, maka akan membuat kendor orang-orang di belakangnya untuk mengejar gelar doktor.

Di negeri kita justru pemenang medali emas OR, pemenang sepak bola dan ratu-ratu ayu lah yang bisa hidup berkecukupan, karena pemberi bonus seperti mabuk kepayang sehingga tidak rasional. Para ilmuwan harus “nyambi” (melakukan second job atau side job) dalam bidangnya, misalnya dokter peneliti, tetap praktek, karena kalau tidak praktek dokter mereka tidak bisa hidup layak (dalam kelasnya), sehingga waktu mereka habis. Maka kinerja akademik tentu jauh tertinggal dari teman profesinya di negeri jiran (misal Malaysia), apalagi di Barat.

Contoh lain yang mendegradasi calon ilmuwan menjadi pekerja skill biasa ialah kebijakan negeri ini memposisikan Dokter sebagai PNS biasa. Maka kelas dokter adalah pekerja, “sekelas tenaga skill ahli”, padahal kualifikasi akademik dokter melebihi sarjana lain, maka seharusnya dokter bisa juga dikembangan sebagai ilmuwan. Kekurangan pendapatan dari dokter disuruh (diberi peluang) mencari sendiri dengan “kalimat racun” Kan dokter bisa praktek?. Maka habis waktu seorang dokter untuk praktek dan terjadilah MALDISTRIBUSI DOKTER SEJAK MERDEKA HINGGA SEKARANG, karena dokter pasti memilih lokasi di daerah yang mereka bisa praktek swasta (side job) mencari penghasilan tambahan. Maka amat sedikit dokter yang menjadi ilmuwan, peneliti untuk menjadi penemu di bidangnya.

Maka jangan heran jika sampai sampai saat ini, belum ada textbook ilmu yang lahir dari para ahli Fakultas Kedokteran dari bumi pertiwi. Dan jangan berharap juga lahir penemuan alat deteksi lab corona virus, obat dan vaksinnya dari kita. Mereka hampir semua sibuk sebagai petugas pengobatan saja. DAN KITA ADALAH BANGSA PEMBELANJA BARANG-BARANG ITU. Mungkin kita berharap banyak dari Prof. Amin Subandrio (Lembaga Eijkman) cs jika disupport negara secara FULL dan habis-habisan seperti terwujudnya RS Darurat di Senayan.

GENERASI MUDA HARUS BANGKIT DARI KETINGGALAN INI

Jadi generasi muda Indonesia jangan meniru gaya hidup dari cerita sampah negara-negara maju, yang dikemas dalam film hollywood, atau bollywood, Hongkong, Korea dll. Jika bukan true story, semua itu fiksi, khayal, tak beda dengan opera sabun / sinetron yang dihasilkan dunia perfileman kita. Jika cerita sampah itu ditiru, bisa membuat gaya hidup anda kacau, jauh dari ilmu, sehingga Indonesia tak mungkin mengejar ketinggalannya.

Banyak generasi muda kita di malam hari menghabiskan waktu di “café meong”, kongkow yang tak ada perlunya sampai pagi, bahkan di bulan Romadlon sekalipun. Sikap seharusnya ialah lihat dengan cermat (iqro’), baca, telaah, contoh gaya hidup dan belajar pemuda Amerika dan negeri yang sudah maju lainnya, yang nyata dan positif, sehingga mereka menjadi bangsa penemu (inventor), pembuat barang yang hebat di dunia dan memenangkan segala macam persaingan OR, karya besar, bisnis dll berkelas dunia.

Bagi pejabat di negeri kita, bersama-sama rakyat bagaimana agar bisa membentuk struktur dan iklim (budaya) kehidupan masyarakat yang telah sukses dicapai negara maju. Budaya yang bertumpu pada keadilan, kompetesi fair, mengedepankan IPTEK dan kesetaraan warga negara. Contoh kita telaah di dekat kita saja, misal Korea, yang terpuruk di perang dunia ke II, setelah Park Chung Hee membawa Korea menjadi bangsa maju, sekarang mereka menjadi raksasa yang sejajar dengan Jepang (HP anda Samsung bukan?). Mereka mampu membentuk kultur (budaya) yang berbasis kesetaraan dan kompetisi fair yang dijaga dengan maksimal, di segala bidang, berujung kesejahteraan rakyat, kuat di bidang ilmu dan teknologi.

Dan…. di masa pandemi COVID-19 ini dengan cepat mereka sudah mampu meredakan wabah, dan membuat alat laboratorium deketsi (rapid test dll), menemukan obatnya, dan uji coba vaksin anti covid-19 (yang antara lain mereka beri nama mRNA-1273). Ibarat etappe pertama racing, sudah dimenangkan mereka… Kita masih sedang siap-siap dalam keterbatasan dan ke-kalangkabut-an wabah covid-19. Semoga kita semua mampu meredakan dan mengeliminasinya. Aamiin.

*) adalah Doktor ilmu kedokteran, dokter, pakar kesehatan masyarakat, ahli manajemen RS (dosen di Pasca Sarjana Poltekkes Kemenkes Semarang), Ketua Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Jawa Tengah, anggota Kolegium Dokter Indonesia PB IDI.

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: